Selasa, 10 Desember 2013

Perkembangan Emosi


MAKALAH
PERKEMBANGAN EMOSI



KELOMPOK 3
Anggun Nofitasari                             (12144600133)
Andri Luvyani                                    (12144600135)
Agustya                                              (12144600138)
Nur Ernawati                                     (12144600141)
Patmi Kumala                                    (12144600143)
Sulistiyani Fajar Utami                     (12144600145)
Lutfi Cahyadi                                    (12144600146)
Dewi Novi Sepdita                            (12144600147)
Jamilatun Wicahyaningrum             (12144600154)
Briandika Doni Arnanda                 (12144600      )


PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA
2012





                         Kata Pengantar


Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rakhmat dan karunia-Nya sehingga makalah tugas Psikologi Anak  ini dapat terselesaikan. Makalah ini disusun berdasarkan pengumpulan dari berbagai sumber, dan untuk memehuni tugas mata kuliahan Psikologi Anak.
Dengan ini kami ucapkan terimakasih kepada Ibu, Dra. Siti Hartini. selaku  dosen pembimbing mata kuliah Pesikologi Anak. Kami ucapkan  terimakasih juga kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian tugas  makalah ini.
Semoga tugas yang kami  buat  dapat bermanfaat bagi kami pribadi maupun pihak yang membaca.
Kami menyadari bahwa tugas ini sangat jauh dari sempurna, masih banyak kelemahan dan kekurangan. oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun untuk meningkatkan kualitas dan menyempurnakan tugas ini, kami terima dengan terbuka.


Yogyakarta, 11 Desember  2012

                                                                                                     Penyusun
  



 BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
            Dewasa ini dunia pendidikan di Indonesia semakin berkembang pesat. Sebagai warga Indonesia kita harus bangga terhadap putra-putri bangsa yang telah memberikan sumbangsih yang besar terhadap kemajuan pendidikan. Salah satu prestasi anak bangsa yang akhir-akhir ini menyita perhatian nasional adalah berhasilnya siswa-siswi SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) membuat mobil dalam negeri. Meskipun bahan yang digunakan tidak sepenuhnya berasal dari Indonesia namun hal ini sudah menjadi indikasi bahwa pendidikan di Indonesia menunjukkan perkembangannya. Tingkat perguruan tinggi pun tidak mau kalah. Robot pemadam kebakaran yang diciptakan oleh para mahasiswa UGM (Universitas Gajah Mada) juga berhasil menjuarai kontes robot internasional di Amerika Serikat.
            Bertolak dari prestasi-prestasi indah yang ditorehkan anak-anak bangsa tersebut ternyata dunia pendidikan di Indonesia masih memiliki potret buram di sisi lain. Maraknya tawuran pelajar yang tak jarang berakhir kematian mau tidak mau telah menodai kebahagiaan atas keberhasilan putra-putri bangsa lainnya. Dan yang lebih memprihatinkan lagi tiadanya rasa menyesal dan bersalah bagi para pelakunya. Sungguh hal ini sangat ironi ketika kita menyadari bahwa Indonesia adalah bangsa yang menjunjung tinggi adat ketimuran. Pada hakikatnya Indonesia adalah bangsa yang ramah, cinta damai, berbudi pekerti luhur, dan menghargai adanya perbedaan.
            Oleh karena itu, kami sebagai penulis sekaligus calon pendidik bagi generasi bangsa akan menjelaskan tentang perkembangan emosi. Perkembangan emosi anak sangatlah penting untuk diketahui semua pendidik dengan tujuan mengetahui setiap karakteristik anak yang ditunjukkan lewat emosi. Hal ini sangat diperlukan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan buruk yang akan menimpa anak. Berbagai kemungkinan buruk tersebut akan merugikan diri anak sendiri maupun orang lain di masa yang akan datang.

B. Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian emosi dan bentuk-bentuk emosi?
2.      Bagaimana hubungan emosi dengan tingkah laku?
3.      Apa saja karakteristik perkembangan emosi?
4.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi?
5.      Seperti apa metode belajar untuk mengembangkan emosi?
Elisabet harlocck
1.      Apa pengertian emosi dan bentuk-bentuk emosi?
2.      Bagaimana pengaruh emosi terhadap penyesuaian pribadi dan sosial anak?
3.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi?
4.      Ciri khas penampilan emosi?
5.      Seperti apa metode belajar untuk mengembangkan emosi?

C. Tujuan
            Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu untuk menjelaskan apa pengertian emosi dan bentuk-bentuk emosi, pengaruh hubungan emosi dengan tingkah laku, kerakteistik perkembangan emosi, dan membandingkan antara makalah dari H. Santrock dan Elisabet Harlock.
Manfaat
            Setelah membaca makalah yang telah kami buat diharapkan pembaca memahami apa itu emosi dan bentuk-bentuknya, mengetahui hubungan antara emosi dengan tingkah laku sehari-hari, mengetahui karakteristik perkembangan emosi,mengetahui  faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi serta mengetahui metode belajar untuk mengembangkan emosi.











BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Emosi
 Menurut buku karya H. Santrock pengertian emosi adalah:
1. Daniel Goleman (1995), seorang pakar kecerdasan emosional, makna tepatnya masih
          sangat membingungkan, baik di kalangan para ahli psikologi maupun ahli filsafat dalam kurun waktu selama lebih dari satu abad. Karena sedemikian membingungkannya Daniel Goleman (1995) mendefinisikan emosi dari Oxford English Dictionary yang memaknai emosi sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat dan meluap- luap.
2. Chaplin (1989), dalam Dictionary of Psychology mendefinisikan emosi sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organism mencakup perubahan- perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya dari perubahan perilaku. Chaplin (1989), membedakan emosi dengan perasaan, dan dia mendefinisikan perasaan (feelings) adalah pengalam disadari yang diaktifkkan baik oleh perangsang eksternal maupu oleh bermacam- macam keadaan jasmaniah.
3. Soegarda Poerbakawatja ( 1982), menyatakan bahwa emosi adalah suatu respons terhadap suatu perangsang yang menyebabkan perubahan fisiologis disetai perasaan yang kuat dan biasannya mengandung kemungkinan untuk meletus.
B. Pola atau Bentuk–Bentuk Emosi
Menurut buku karya H. Santrock
a)      Amarah, di dalamnya meliputi brutal, menggamiuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan, tidak kekerasa, dan kebencian patologis.
b)      Kesedihan, di dalamnya meliputi pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, dan depresi.
c)      Rasa Takut, di dalamnya meliputi cemas, takut, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, sedih, waspada, tidak tenang, ngeri, kecut, panik, dan fobia.
d)     Kenikmatan, di dalamnya meliputi bahagia, gembira, ringan puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan indrawi, takjub, terpesona, rasa terpenuhi, girang, senang sekali, dan mania.
e)      Cinta, di dalamnya meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, dan kasih saying.
f)       Terkejut, di dalamnya meliputi terkesiap, takjub, dan terpanah.
g)      Jengkel, di dalamnya meliputi hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, dan mau muntah.
h)      Malu, di dalamnya meliputi rasa bersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, hina, aib, dan hati hancur lebur.
2. Menurut Buku Karya Elizabeth Hurlock
a)      Rasa Takut
Rangsangan yang umumnya menimbulkan rasa takut pada bayi ialah suara yang keras, binatang, kamar yang gelap, tempat yang tinggi, barada seorang diri, rasa sakit, orang yang tidak di kenal, tempat dan objek yang tidak di kenal.
Karakteristik ketakutan:
·         Di bawah usia 2 tahun yaitu anak takut kepada benda- benda dibandingkan dengan bayi atau anak yang lebih tua.
·          Usia 2- 6 tahun merupakan masa puncak bagi rasa takut yang khas di dalam pola perkembangan yang normal. Alasannya karena anak kecil lebih mampu mengenal bahaya dibandingkan dengan bayi, tetapi kurangnya pengalaman menyebabkan mereka kurang mampu mengenal apakah sesuatu bahaya merupakan ancaman pribadi atau tidak.
·         Usia di atas 6 tahun sampai berakhirnya masa kanak- kanak, rasa takut terpusat pada bahaya yang fantastis, adikodrati ( Supernatural), dan samar- samar; pada gelap dan makhluk imajinatif yang diasosiasikan dengan gelap; pada kematian atau luka; pada berbagai elemen terutama Guntur dan kilat; serta pada karakter dalam dongeng, film, buku komik, dan televisi. Anak yang lebih tua mempunyai berbagai ketakutan yang berhubungan dengan diri atau status; mereka takut gagal, takut dicemoohkan, dan takut “berbeda” dari anak- anak lain.
·         Setelah masa kanak- kanak, rangsangan rasa takut ialah bahwa hal itu terjadi secara mendadak dan tidak di duga-duga; dan anak hanya mempunyai kesempatan yang kecil sekali untuk menyesuaikan diri dengan situasi tersebut.

Variasi Rasa Takut
                        Variasi rasa takut anak pada berbagai macam taraf usia mencerminkan perbedaan perkembangan mental dan fisik, juga berbagai macam pengalaman takut yang dipelajari anak serta cara anak belajar mengekspresikan ketakutan mereka. Rasa takut tidak semata- mata tergantung pada rangsangan yang diberikan, tetapi juga pada keadaan lingkungan dan kondisi anak pada saat rangsangan terjadi.

Reaksi Takut
                        Pada bayi reaksi takut adalah khas berupa rasa tak berdaya tangisan merupakan permintaan tolong. Setelah mereka mampu merangkak atau berjalan, mereka akan bersembunyi di belakang orang atau kursi dan akan tetap berada di situ sampai rasa takut mereka reda atau sampai mereka cukup merasa aman untuk muncul kembali.
                        Dengan meningkatnya usia anak, reaksi menangis tidak ada lagi walaupun ekspresi wajah yang khas takut tetap ada dan mereka menghindari objek yang mereka takuti.

Faktor –Faktor yang mempengaruhi rasa takut pada anak-anak:
·         Intelegensi
Anak-anak yang terlalu cepat dewasa mempunyai cirri khas rasa takut seperti yang dimiliki oleh anak-anak pada tingkat usia yang lebih tua, dan anak-anak yang terbelakang mentalnya mempunyai cirri khas rasa takut seperti yang dimiliki oleh anak-anak pada tingkat usia yang lebih muda.
·         Jenis kelamin
Anak-anak perempuan memperlihatkan ketakutannya lebih banyak dibandingkan dengan ank laki-laki. Di samping itu ketakutan anak-anak perempuan kepada obyek tertentu seperti ular dan binatang kecil lebih dapat diterima secara sosial.
·         Status sosial ekonomi
Anak-anak dari keluarga berstatus sosial ekonomi rendah pada semua tingkat usia mempunyai ketakutan yang lebih banyak dibandingkan dengan anak-anak dari keluarga kelas menengah dan keluarga kelas tinggi.
·         Kondisi fisik
Jika anak-anak dalam keadaan letih, lapar, dan kurang sehat, mereka bereaksi dengan ketakutan yang lebih besar dibandingan dengan keadaan normal, dan mereka lebih mudah takut terhadaop berbagai macam situasi yang dalam keadaan normal tidak menimbulkan rasa takut.
·         Hubungan sosial
Jika jumlah individu di dalamkelompok bertambah, maka ketakutan akan dirasakan bersama dan jumlah rasa takut dari setiap anak akan bertambah.
·         Urutan kelahiran
Anak pertama cenderung mempunyai ketakutan yang lebih banyak dibandingkan dengan anak yang lahir kemudian karena mereka dibayangi sikap orang tua yang terlalu melindungi.
·         Kepribadian
Anak yang emosinya tidak tenteram cenderung lebih mudah merasa takut dibandingkan dengan anak yang tenteram.

b)      Rasa Malu
Rasa malu merupakan bentuk ketakutan yang ditandai oleh penarikan diri dari hubungan dengan orang lain yang tidak dikenal atau tidak sering berjumpa. Rasa malu selalu ditimbulkan oleh manusia, bukan oleh binatang atau situasi.
            Karakteristik rasa malu:
·         Pada bayi, reaksi yang umum terhadap rasa malu ialah menangis, memalingkan muka dari orang yang tidak dikenal, dan bergayut pada orang yang sudah akrab untuk berlindung.
·         Pada anak-anak yang lebih tua menunjukkan rasa malu dengan muka memerah, dengan menggagap, dengan berbicara sesedikit mungkin, dan tingkah yang gugup seperti menarik-narik telinga atau baju, dengan menolehkan wajah ke arah lain dan kemudian mengangkatnya dengan tersipu-sipu untuk menatap orang yang tidak dikenal itu. Mereka berusaha membuat diri mereka sesedikit mungkin menarik perhatian dengan cara berpakaian seperti orang lainnya dan berbicara sesedikit mungkin.
c)      Rasa canggung
Rasa canggung adalah reaksi takut terhadap manusia, bukan pada obyek atau situasi. Rasa canggung berbeda dari rasa malu dalam hal bahwa kecanggungan tidak disebabkan oleh adanya orang yang tidak dikenal atau orang yang sudah dikenal yang memakai pakaian tidak seperti biasanya, tetapi lebih disebabkan oleh keragu-raguan tentang penilaian orang lain terhadap perilaku atau diri seseorang. Oleh karena itu, rasa canggung merupakan keadaan khawatir yang menyangkut kesadaran diri (self-conscious distress). Perasaan ini biasanya tidak muncul sebelum anak berusia 5 atau 6 tahun. Dengan meningkatnya usia anak, rasa canggung bertambah karena mengingat pengalaman pada saat perilaku mereka berada di bawah standar tuntutan sosial. Hal ini mengakibatkan mereka membesar-besarkan ketakutan pada penialaian orang lain di kemudian hari.
d)     Rasa Khawatir
Rasa khawatir biasanya dijelaskan sebagai “khayalan ketakutan” atau “gelisah tanpa alasan”. Rasa khawatir tidak langsung ditimbulkan oleh rangsangan dalam lingkungan tetapi merupakan produk pikiran anak itu sendiri. Rasa khawatir timbul karena membayangkan situasi berbahaya yang mungkin akan meningkat. Kekhawatiran adalah normal pada masa kanak-kanak, bahkan pada anak-anak yang penyesuaiannya paling baik sekalipun. Rasa ini tidak akan terjadi sampai menjelang anak berusia 3 tahun. Biasanya kekhawatiran mencapai puncaknya pada saat hamper mencapai kematangan seksual, dan sesudah itu akan berkurang.
Cara anak mengekspresikan kekhawatiran bergantung pada pola kepribadian masing-masing. Anak yang merasa rendah diri dan tidak mampu (inadequate) cenderung memendam kekhawatiran mereka, memikirkannya sendiri, dan terlalu melebih-lebihkan kekurangannya. Sebaliknya, anak-anak yang lebih baik penyesuaiannya cenderung membicarakan kekhawatiran mereka dengan orang yang mereka anggap dapat bersikap simpatik.
e)      Rasa Cemas
                                    Rasa cemas ditandai oleh kekhawatiran, ketidakenakan, dan prarasa yang tidak baik yang tidak dapat dihindri oleh sesorang; disertai perasaan tidak berdaya karena merasa menemui jalan buntu; dan disertai pula dengan ketidak mampuan menemukkan pemecahan masalah yang dihadapi.
            Meskipun rasa cemas berkembang dari rasa takut dan khawatir, namun dalam berbagai segi berbeda satu sama lain. Rasa cemas bersifat lebih samar-samar dibandingkan rasa takut. Tidak seperti rasa takut, rasa cemas tidak disebabkan oleh situasi yang nyata, tetapi oleh situasi yang dibayangkan.
                                    Sebagaimana rasa khawatir, rasa cemas lebih ditimbulkan oleh sebab yang dibayangkan. dibandingkan sebab yang nyata. Meskipun demikian, rasa cenas berbeda dari rasa khawatir dalam dua segi. Pertama, rasa khawatir ebrkaitan dengan situasi khusus, seperti pesta, ujian, atau masalah keuangan; sedangakan rasa cemas adalah keadaan emosi yang bersifat umum. Kedua, rasa khawatir disebabkan oleh masalah obyektif, sedangkan rasa cemas disebabkan oleh masalah subyektif. Rasa cemas sering berkembang setelah melalui suatu periode rasa khawatir yang kuat dan sering sehingga melemahkan kepercayaan pada diri sendiri dan menimbulkan perasaan tidak mampu.
f)       Rasa Marah
Rasa marah adalah ekspresi yang lebih sering diungkapkan pada masa kanak-kanak jika dibandingkan dengan rasa takut. Alasannya ialah karena rangsangan yang menimbulkan rasa marah lebih banyak, dan pada usia yang dini anak-anak mengetahui bahwa kemarahan merupakan cara yang efektif untuk memperoleh perhatian atau memenuhi keinginan mereka.
            Rangsangan yang menimbulkan kemarahan:
·         Bayi bereaksi dengan ledakan marah terhadap ketidakenakan fisik yang ringan, rintangan terhadap aktifitas fisik, dan pembebanan paksaan dalam hal perawatan, misalnya pada saat mandi dan dikenakan pakaian.
·         Pada anak-anak prasekolah tidak menyukai gangguan terhadap milik mereka, dan selalu melawan anak lain yang mencoba meraih mainan mereka atau mengganggu mereka selagi bermain.
·         Pada anak-anak yang lebih tua, rintangan terhadap keinginan, gangguan terhadap aktifitas yang sedang dilaksanakan, selalu dipersalahkan, digoda, “digurui”, dan diperbandingkan secara tidak menyenangkan dengan anak lainnya dapat menimbulkan kemarahan.
g)      Rasa Cemburu
Rasa cemburu adalah reaksi normal terhadap kehilangan kasih sayang yang nyata, dibayangkan, atau ancaman kehilangan kasih sayang. Pola rasa cemburu sering kali berasal dari rasa takut yang dikombinasikan dengan rasa marah.
Tiga sumber utama yang menimbulkan rasa cemburu:
·         Pertama, rasa cemburu pada masa kanak-kanak umumnya ditimbulkan di rumah; artinya timbul dari kondisi yang ada di lingkungan rumah. Karena bayi yang baru lahir meminta banyak waktu dan perhatian ibu maka anak yang lebih tua menjadi terbiasa menerima rasa diabaikan. Kemudian ia merasa sakit hati terhadap adik yang baru dan ibunya.
·         Kedua, mengembangkan sikap kepemilikan terhadap guru atau teman sekelas yang mereka pilih sebagi teman, dan marah apabila orang yang dianggap sebagai miliknya itu memperlihatkan perhatian kepada orang lain. Rasa cemburu secara normal hilang apabila anak-anak berhasil melakukan penyesuaian di sekolah, tetapi dapat berkobar kembali apabila guru memperbandingakan seoranga anak dengan teman sekelasnya atau kakaknya.
·         Ketiga, dalam situasi di mana anak merasa ditelantarkan dalam hal pemilikan benda-benda seperti yang dimiliki anak lain membuat mereka cemburu kepada anak itu. Jenis kecemburuan ini berasal dari rasa iri yaitu keadaan marah dan kekesalan hati yang ditujukan kepada orang yang memiliki benda yang diiirikan.
Reaksi Cemburu di kalangan anak kecil terutama bersifat langsung dan agresif. Di kalangan anak yang lebih besar, reaksinya lebih beraneka macam dan tidak langsung, meskipun kadang-kadang masih juga timbul sikap agresif, terutama di sekolah dan di lapangan bermain.
h)      Duka Cita
Duka cita adalah trauma psikis suatu kesengsaraan emosional yang disebabkan oleh hilangnya suatu yang dicintai. Ada tiga alasan mengenai duka cita yang bukan merupakan emosi sangat umum: 1) para orang tua, guru dan orangdewasa lainnya berusaha mengamankan anak tersebut dari berbagai aspek duka cita yang menyakitkan karena hal itu dianggap dapat merusak kebahagiaan masa kanak-kanak dan dpat menjadi dasar bagi masa dewasa yang tidak bahagia. 2) anak-anak, terutma apabila mereka masih kecil, mempunyai ingatan yang tidak bertahan terlalu lama, sehingga mereka dapat dibantu melupakkan duka cita apabila perhatian mereka dialihkan kesesuatu yang menyengkan. 3) tersediaanya penggati untuk sesuatu yang telah hilang.
i)        Kegembiraan, keriangan, kesenangan
Kegembiraan adalah emosi yang menyenagkan, yang juga dikenal dengan keriangan, kesenangan atau kebahagiaan.
·         Di kalangan bayi, emosi kegembiraan, keriangan, dan  kebahagiaan berasal dari keadaan fisik yang sehat.
·         Anak pra sekolah, rasa senang mereka umumnya timbul dari aktifitas yang menyertakan anak lain, terutama teman sebaya, dan rasa senang kuat apabila prestasi mereka melebihi teman sebaya.
·         Pada anak yang lebih tua, keadaan fisik yang sehat, situasi yang gajil, permainan kata-kata, malapetaka yang ringan yang dan  suara yang datangnya tiba-tiba atau tidak di duga tetap mampu menimbulkan senyum dan tawa mereka.
·         Pada usia puber, ketika perubahan fisik terjadi, kegembiraan semaki lama semakin menurun. Hal ini bukan karena rangsangan yang menimbulkan kegembiraan berkurang di lingkungan mereka, tetapi karena pandangan anak terhadap kehidiupan telah berubah.
j)        Kasih sayang
Kasih sayang adalah reaksi emosional terhadap seseorang, binatang atau benda. Umumnya anak kecil lebih banyak menaruh kasih saying kepada ibu daripada kepada ayah karena ibu lebih banyak bergaul dengan mereka, dan sebagai penguasa yang menggariskan peraturan, kurang menekannkan disiplin yang ketat dibandingkan dengan ayah.
Reaksi kasih saying:
·         Setelah berumur satu tahun, anak kecil memperlihatkan kasih saying kepada orang lain dalam tingkah yang sama tak terkendalikannya dengan tingkat mereka pada saat mengekspresikan emosi lainnya. Mereka memeluk, meraba, membelai, dan mencium orang atau obyek yang mereka cintai.
·         Setelah anak-anak memasuki sekolah mereka cenderung menganggap bahwa demonstrasi fisik untuk mengekspresikan kasih saying adalah kekanak-kanakan dan hal itu membuat mereka canggung. Sebagai gantinya mereka lebih suka mengungkapkannya dengan kata-kata.

 C. Hubungan Antara Emosi dan Tingkah Laku.
            Persiapan fisik dan mental untuk bertindak timbul apabila emosi yang muncul dapat dilepaskan dengan berbagai cara. Cara yang biasanya dilakukkan sesorang untuk bereaksi sebagian besar bergantung pada faktor yang memberikan kepuasan terbesar kepadanya, pada perilaku yang dapat diterima secara sosial, dan pada perilaku yang tidak menimbulkan penolakkan dari orang-orang yang berarti bagi anak-anak.
Cara yang Umum untuk Energi Menyalurkan Emosional yang Terpendam
·         Kemurungan
Kemurungan adalah keadaan emosi yang diperpanjang karena adanya energy emosi yang tertahan dan emosi itu dibiarkan tetap menyala.
·         Reaksi Pengganti
Energi Emosional dapat dilepaskan dengan menggati reaksi emosional yang biasanny dilakukan dengan reaksi yang lebih dapat diterima secara sosial.
·         Pemindahan
Dalam pemindahan (displacement), reaksi emosional ditujukkan kepada manusia, binatang, atau objek yang tidak ada hubungannya dengan rangsangan.
·         Regresi
Yaitu kembali ke bentuk perilaku sebelumnya, bahkan yang infantil.
·         Letusan emosi
Anak-anak bereaksi dengan hebat terhadap rangsangan yang remeh. Apabila marah, maka mereka melakukan ledakan kemarahan (temper tantrums) di luar batas kewajaran terhadap objek yang telah membuat mereka marah.
D. Bahaya dalam Perkembangan Emosi
1.      Keterlantaran emosional
Keterlantaran dalam hal ini berarti bahwa anak-anak tidak cukup mendapatkan pengalaman emosional yang menyenangkan, terutama keingintahuan, kegembiraan, kebahagiaan, dan kasih sayang. Sayangnya, sebagian besar anak tumbuh dalam lingkungan yang banyak memberikan pengalaman emosional-tidak menyenangkan-antara lain kemarahan, ketakutan, kecemburuan, dan rasa iri-,tetapi kekurangan pengalaman emosional yang menyenangkan.
Keterlantaran kasih sayang mungkin disebabkan oleh penolakan anak terhadap orang tua karena orang tua tidak memenuhi kebutuhan mereka hal ini terutama berkembang apabila mereka mencapai usia kanak-kanak pertengahan yang penuh dengan kesadaran dan kelompok dengan teman sebaya dan mereka melihat bahwa orang tua mereaka “berbeda” dari orang tua teman sebayanya.
            Dampak keterlantaran kasih sayang:
·         Bayi yang terlantar dari kasih sayang mengalami keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan yang normal. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa keadaan sedih pada bayi kareana kurangnya kasih saying menghambat sekresi hormon kelenjar di bawah otak, termasuk di dalamnya hormon pertumbuhan. Akibatnya pertumbuhan mereka terhambat.
·         Perkembangan motorik sebagaimaana terlihat dalam hal duduk, berdiri, dan berjalan umumnya terlambat sehingga anak menjadi lebih canggung dan kikuk dibandingkan dengan teman sebayanya.
·         Perkembangan bicara terlambat; anak sering mengalami gangguan bicara, misalnya gagap.
·         Perkembangan intelektual terlambat. Anak tidak mamapu memusatkan pikiran dan perhatiannya mudah beralih. Hal ini mempengaruhi kemampuan belajar mengingat dan menalar.
·         Anak mengalami hambatan dalam belajar bergaul dengan orang lain. Mereka bereaksi secara negatif terhadap pendekatan orang lain, sukaar diajak kerjasama dan bersikap memusuhi.
·         Reaksi emosional dan reaksi sosial yang tidak menyenangkan sebagai akiibat dari keterlantaran kasih sayang ikut mempengaruhi perkembangan kepribadian anak. Anak yang kelaparan kasih sayang cenderung lebih mengarahkan perhatian kepada didri sendiri, menaruh perhatian yang kecil kepada orang lain, mementingkan diri sendiri dan suka menuntut.
Dampak jangka panjang keterlantaran emosional:
·         Pemberontakan terhadap otoritas pada masa remaja sering meningkat apabila remaja merasa bahwa mereka tidak pernah menerima kasih sayang yang mereka rindukan.
·         Perkawinan pada usia muda (belasan tahun) sering merupakan cara untuk memuaskan kerinduan akan kasih sayang dan ketentraman emosional yang tidak pernah terpuaskan sepenuhnya karena keterlantaran kasih sayang.
Dampak terlalu banyak kasih sayang:
·         Anak tidak mampu membina komplek empatik, yaitu pertalian emosional dengan orang lain. Hal ini terjadi akibat orang tua terlalu demonstrative menunjukkan kasih sayang yang tidak akan mendorong anak mengekspresikan kasih sayangnya terhadap orang lain.
·         Mendorong anak untuk memusatkan kasih sayang mereka secara menyolok kepada satu atau dua orang saja. Hal ini berbahaya karena anak merasa cemas dan tidak tenteram apabila orang-orang itu tidak ad atau apabila perilaku mereka pada suatu saat mengesankan bahwa hubungan itu terancam. Keadaan ini akan menimbulkan perasaan sunyi dan tersiksa karena kesal terhadap kegembiraan yang dilami teman sebayanya.
2.      Emosionalitas yang Meninggi
Hal ini berarti suatu frekuensi dan intensitas pengalaman emosional di luar ukuran yang normal. Sesuatu emosi mungkin dialami secara lebih sering dan lebih kuat pada saat tertentu dari pada sat lainnya.
  Penggolongan emosionalitas yang tinggi.
·         Euphoria yaitu perasaan sehat dan gembira. Dapat dikatakan seseorang mengalami perasaan lebih bahagia dan pada hari-hari tersebut bentuk-bentuk kebahagiaannya lebih kuat dibandingkan dengan biasannya dan paling dominan.
·         Disequilibrium yaitu keadaan tidak seimbang, antara lain uring-uringan, kesal, dan sedih. Perasaan yang dominan adalah tidak menyenangkan, berupa kemarahan, ketakutan, kecemburuan, dan rasa iri.
·         Equilibrium yaitu keadaan seseorang yang seimbang.

Perwujudan emosionalitas yang meninggi:
·           Ditandai oleh kemurungan dan kemarahan silih berganti, yang sering kali berada di luar batas pengendalian yang disadari.
·           Emosionalitas bergantung pada pemahaman anak tentang hal-hal yang dapat diterima secara sosial atau yang mendatangkan penolakan sosial sesedikit mungkin.
·           Jika emosionalitas yang meninggi di ekspresikan dengan kemungurungan, kemungkinan besar anak akan cemberut, muram, bermuka masam, atau bersikap kasar.
·           Jika emosi yang menyenagkan lebih dominan, anak-anak akan tampak bahagia, riang, menyanyi, menawarkan bantuan kepada orang lain, mengatakan hal-hal yang menyenangkan pada setiap orang, memeluk teman atau binatang kesayangan, bahkan melompat-lompat dan menari-nari sebagai pengganti berjalan.
·           Jika keingintahuan meninggi sampai ke tingkat puncak, anak-anak menjadi gugup, gelisah, mengajukan banyak pertanyaan, dan suka mengintip.
·           Ketegangan syaraf yang disertai emosionalitas tinggi akan diekpresikan dengan menghisap jempol atau menggigit jari pada anak yang lebih besar, menggaruk kepala, tertawa terkekeh-kekeh, dan kemungkinan besar juga menyebabkan gagap sesaat atau menelan sebagian bunyi kata-kata.
·           Dalam keadaan euphoria atau disequilibrium emosi anak biasanya lebih cepat dan lebih kuat dibandingakan dengan dalam keadaan normal.
·           Jika emosi yang tidak menyengkan paling dominan, anak siap untuk naik pitam dan marah luar biasa terhadap rangsngan yang ringan.
·           Jika emosi yang menyenagkan lebih dominan anak-anak akan tertawa terbahak-bahak karena lelucon yang dalam keadaan biasa mungkin mereka anggap “tolol”.
·           Apapun rangsangannya, anak akan bereaksi secara berlebihan terhadap rangsangan tersebut karena mereka sudah berada dalam keadaan siap bertindak.






 





BAB III
KESIMPULAN

          Emosi adalah suatu respons terhadap suatu perangsang yang menyebabkan perubahan fisiologis disertai perasaan yang kuat dan biasannya mengandung kemungkinan untuk meletus.
Bentuk-bentuk atau pola emosi:
Ø   Amarah
Ø  Kesedihan
Ø  Rasa Takut
Ø  Kenikmatan
Ø  Cinta
Ø  Terkejut
Ø  Jengkel
Ø  Malu
Ø  Canggung
Ø  Khawatir
Ø  Cemas
Ø  Cemburu
Ø  Duka Cita
Ø  Keingintahuan
Ø  Kegembiraan, keriangan, kesenangan.
Ø  Kasih sayang

Hubungan antara emosi dan tingkah laku:
Ø Respon yang cepat tetapi ceroboh
Ø Mendahulukan perasaan kemudian pikiran
Ø Memperlakukkan realitas sebagai realitas simbolik
Ø Masa lampau diposisikan sebagai masa sekarang
Ø Realitas yang ditentukan oleh keadaan
Teori-teori yang menjelaskan hubungan antara emosi dan tingkah laku
Ø  Teori sentral
Ø  Teori Peripheral
Ø  Teori Kedaduratan Emosi



1 komentar:

  1. Halo.. kalo boleh tau kamu nyari referensi tentang emosi di buku apa ya? Makasih

    BalasHapus