Kacamata
Nur Ernawati
“Mak, baju Rini robek”.
“Ya sudah, nanti pulang sekolah
bajunya emak benahi. Sekarang sarapan dulu ya”, kata emak dengan penuh kasih.
Kejadian robeknya seragam Rini sudah
hal yang lumrah karena ini bukan untuk yang pertama kalinya. Maklumlah, keadaan
yang telah memaksanya untuk hidup dalam keterbatasan. Rini yang kini hanya
tinggal dengan emaknya karena bapaknya sudah meninggal ketika Rini masih dalam
kandungan terpaksa harus hidup pas-pasan. Untuk makan saja susah apalagi membeli
lemari pakaian untuk seragamnya. Jadi, Rini hanya menancapkan paku di bambu
penyangga pojok kamarnya. Karena masih SD dan belum begitu tinggi terkadang ia
hanya menyeret seragamnya itu sampai akhirnya ada bagian yang robek. Meskipun
Rini hidup dalam kekurangan bahkan rumahnya pun hanya berdinding anyaman bambu,
tetapi Rini selalu bersyukur. Itulah hal yang selalu diajarkan emaknya.
Setelah menghabiskan sarapan, Rini
langsung berangkat sekolah.
“Mak, Rini berangkat sekolah dulu
ya”. Rini mencium punggung tangan emaknya.
“Iya, hati-hati. Nanti bajunya emak
benahi”.
Rini berangkat sekolah dengan begitu
bersemangat meski dengan baju yang sedikit robek. Ia tidak bisa memaksa emaknya
untuk membenahi bajunya pagi ini juga karena emaknya yang sudah agak tua itu
mengalami gangguan pada matanya. Emak tidak bisa melihat sesuatu yang kecil
seperti jarum dan benang kalau keadaan tidak benar-benar terang. Maka dari itu
emak hanya bisa menjahit baju Rini kalau sudah siang karena matahari sudah
bersinar terang. Walaupun emak mempunyai kaca mata tetapi karena kaca mata itu dibeli
sebelum Rini lahir maka fungsinya pun sudah banyak berkurang dan bahkan menurut
Rini kaca mata itu tidak membantu penglihatan emak sedikitpun.
“Selamat pagi anak-anak”.
“Selamat pagi bu guru…”
“Hari ini kita akan belajar tentang
cita-cita. Tapi kalian menceritakannya dalam bentuk gambar. Kalian bisa
menggambar apa yang kalian cita-citakan. Misalnya kalau yang ingin jadi pilot
berarti harus menggambar pesawat. Mengerti?”.
“Mengerti…”
Semua anak menggambar apa yang
mereka cita-citakan. Ada yang menggambar rumah sakit, sekolahan, kapal, dan
sebagainya. Dengan sangat percaya diri Rini menggambar sebuah kacamata yang
indah.
“Baiklah, ibu rasa sudah cukup
menggambarnya. Ibu ingin kalian menceritakan maksud gambar kalian. Tadi ibu
sempat berkeliling dan sangat tertarik dengan gambaran Rini. Rini coba kamu
ceritakan maksud gambarmu di depan sini”.
Rini ke depan kelas dan bersiap
menceritakan apa yang menjadi cita-citanya selama ini.
“Teman-teman, saya mau menceritakan
cita-cita saya. Di sini saya menggambar sebuah kacamata karena saya ingin
sekali membelikan kacamata untuk emak. Emak sudah agak tua jadi penglihatannya
sudah terganggu. Saya sering merasa kasihan kepada emak yang sudah tidak bisa
melihat jarak jauh ataupun melihat benda yang kecil. Oleh karena itu, dengan
sekuat tenaga saya akan mengumpulkan uang untuk membelikan kacamata emak. Dan
di Hari Ibu 22 Desember nanti saya akan
memberikan hadiah kacamata kepada emak”.
“Cita-cita yang bagus Rini. Ibu
terkesan. Silahkan duduk kembali”.
“Terima kasih bu guru”.
Rini tidak main-main dengan
ucapannya. Dia berusaha bekerja untuk mencari uang sehingga dapat mewujudkan
cita-citanya membelikan kacamata untuk emak. Sepulang sekolah Rini menjadi pemulung.
Dia tidak mau mengamen karena menurutnya memulung itu jauh lebih mulia dari
mengamen.
“Rini, dari mana kamu? Ini sudah jam
lima sore. Kenapa kamu baru pulang?”, emak menghambur ke arah Rini melihat Rini
baru pulang sekolah.
“Maafkan Rini, mak”.
“Dari mana kamu?”, emak membelai
rambut Rini dengan penuh kasih.
“Selama beberapa minggu ke depan
Rini ada tambahan tugas sekolah”.
“Tidak bohong?”
“Tidak”.
“Baiklah emak percaya. Sekarang kamu
mandi dan makan”.
Sungguh sebenarnya batin Rini
dihantam kerasnya karang. Ingin rasanya dia menangis meraung-raung karena telah
membohongi emak. Hal yang selama ini belum pernah Rini lakukan. Tapi Rini
melakukan semua ini semata-mata karena ingin membahagiakan emak. Rini menghitung
penghasilannya memulung hari ini dan ternyata hasilnya tidak begitu banyak.
Meski begitu Rini tetap mensyukurinya dan memasukkan uang itu ke dalam kaleng
bekas dan menyimpannya di kolong tempat tidur.
Pagi itu hari Minggu, Rini sengaja
berangkat memulung lebih awal karena ingin mendapatkan hasil yang lebih banyak.
Sampai saat ini Rini masih membohongi emaknya tentang pekerjaan memulungnya
tapi Rini selalu berjanji untuk menceritakan semuanya setelah Rini berhasil
membeli kacamata yang ia impikan untuk emaknya.
Namun mungkin memulung kali ini
belum menjadi rejeki Rini. Ketika hari sudah mulai sore dan Rini hendak pulang
tiba-tiba ada dua orang anak jalanan yang menghadangnya dan meminta uang.
“Heh anak baru, bekerja di sini itu
tidak gratis. Kamu harus membayar pajak. Serahkan uang kamu!”, bentak seorang
anak jalanan sambil merogoh saku Rini dengan penuh paksaan.
“Jangan, ini uang saya”, Rini
berusaha keras mempertahankan uangnya.
Sekeras apapun Rini berusaha
mempertahankan uangnya toh Rini tetap kalah, di samping karena Rini masih kecil
dan anak perempuan tetapi anak jalanan yang satunya juga tidak kalah jahat.
Setelah berhasil mendapatkan uang Rini, dia kemudian mendorong Rini sampai
terjatuh.
Rini hanya bisa berkaca-kaca melihat
kepergian dua anak jalanan itu. Padahal hasil memulung hari ini lumayan banyak.
Tapi Rini segera menghapus air matanya karena ia tidak mau melihat emaknya
khawatir ketika pulang nanti. Dengan perasaan yang galau Rini pun pulang.
Kejadian dipalak oleh anak jalanan
bukanlah satu-satunya kejadian pahit yang dialami Rini. Bahkan Rini pernah
dituduh mencuri gorengan oleh penjual gorengan dan akan dibawa ke kantor
polisi. Padahal semua itu tidak pernah dilakukannya.
Rini tidak pernah menyerah untuk
mewujudkan impian membahagiakan emaknya itu. Karena di rumah ia tidak mempunyai
kalender maka ia selalu menghitung sisa waktu untuknya sampai tanggal 22
Desember sebagai Hari Ibu pada kalender yang ada di dinding kelas.
“Mau kemana Rin?”, tanya Kania yang
merasa heran karena melihat Rini setiap hari menghitung hari di kalender.
“22 Desember itu Hari Ibu kan?”,
Rini malah berbalik tanya.
“Iya, memang kenapa?”
“Cuma tanya aja”.
“Oh…”, Kania segera berlalu dan
tidak tertarik lagi untuk kembali memberikan pertanyaan kepada Rini.
Tepat tanggal 21 Desember Rini
menghitung uangnya dan ternyata sudah lebih dari cukup. Melihat uangnya yang sudah
cukup maka Rini segera tidur dengan nyenyak dan berharap pagi segera datang
agar ia bisa pergi ke Jaya Optik untuk menukarkan uangnya dengan sebuah kacamata
yang indah.
Tanggal 22 Desember pun tiba.
Sepulang sekolah Rini berlari dengan sekencang-kencangnya ke toko Jaya Optik.
Dia sudah tak sabar untuk membelikan hadiah kacamata untuk emaknya.
“Mas, mau beli kacamata yang waktu
itu saya tawar. Belum ada yang membelinya kan?”, tanya Rini kepada seorang
pelayannya.
Dengan senyum ramah, pelayan itu
menjawab pertanyaan Rini.
“Belum kok”.
“Dibungkus yang bagus ya mas,
sekalian tolong masukin surat ini ke dalam bungkusannya”. Rini menyerahkan
sepucuk surat dengan amplop bergambar Winnie The Pooh yang tentunya ia tujukan
kepada emaknya.
“Siap. Kertasnya mau warna apa dan
gambar apa?”
“Terserah mas saja”.
“Tunggu sebentar ya”.
“Iya”.
Rini menunggu pelayan yang baik dan
ramah itu membungkus barangnya sambil melihat-lihat berbagai macam kacamata
yang dijual di situ.
“Ini sudah selesai”. Pelayan itu
menyerahkan barang Rini dan selembar nota kecil untuk membayar di kasir.
“Terima kasih”.
“Sama-sama”.
Setelah membayar barangnya di kasir,
Rini segera berlari pulang karena ingin segera memberikan hadiah itu kepada
emak dan mengucapkan selamat Hari Ibu. Namun ternyata takdir berkata lain.
Karena perasaannya yang terlalu senang, Rini berlari tanpa memperhatikan
jalanan sampai ia ditabrak sebuah mobil yang merenggut nyawanya seketika. Rini
menjadi korban tabrak lari tepat di samping gang kecil menuju rumahnya.
Kepergian Rini untuk selamanya telah
menghancurkan jiwa emak. Rini yang selama ini menjadi matahari dalam
kehidupannya harus pergi dengan cara yang cepat dan cukup tragis.
Selang beberapa hari setelah
kematian Rini, emak baru berani membuka bungkusan kado yang ditemukan
tergeletak di samping Rini saat kecelakaan itu terjadi. Dan benda yang emak
lihat pertama kali adalah sebuah kacamata yang indah. Ternyata di bawah kacamata
itu ada sebuah amplop yang isinya sebuah surat. Dengan perasaan yang begitu
menyakitkan dan air mata yang meleleh emak mencoba menata hati untuk mendapat
kekuatan membaca surat itu.
Emak…
Selamat Hari Ibu… Ini hadiah spesial
dari Rini untuk emak. Maafkan Rini ya mak. Selama ini Rini berbohong, tugas
sekolah yang selama ini Rini ceritakan sebenarnya tidak pernah ada. Selama ini
Rini memulung untuk mendapatkan uang agar bisa membelikan emak kacamata sebagai
hadiah di Hari Ibu ini dan juga sebagai ucapan terima kasih Rini karena emak
sudah merawat, menjaga, dan menyayangi Rini. Emak adalah nyawa dan hidup Rini.
Rini tak akan pernah melihat warna-warni dunia tanpa emak.
Selalu sayang
emak, Rini Listyana
Air mata yang semakin deras
membahasi pipi tua emak. Surat dari Rini itu didekapnya dengan erat dan seakan
yang didekap itu adalah Rini. Emak berjanji dalam hati untuk memakai kacamata
dari Rini itu. Tapi ada satu hal yang tidak emak tahu dan Rini memang tidak
pernah ingin emak mengetahui tentang hal ini. Di surat itu Rini tidak
menceritakan penderitaannya saat memulung karena baginya semua itu belum
seberapa dibandingkan dengan kerja keras emaknya dari melahirkannya ke dunia
sampai merawat, membesarkan, mendidik, dan menyayangi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar