Selasa, 10 Desember 2013

Kacamata


Kacamata
Nur Ernawati


                 “Mak, baju Rini robek”.
            “Ya sudah, nanti pulang sekolah bajunya emak benahi. Sekarang sarapan dulu ya”, kata emak dengan penuh kasih.
            Kejadian robeknya seragam Rini sudah hal yang lumrah karena ini bukan untuk yang pertama kalinya. Maklumlah, keadaan yang telah memaksanya untuk hidup dalam keterbatasan. Rini yang kini hanya tinggal dengan emaknya karena bapaknya sudah meninggal ketika Rini masih dalam kandungan terpaksa harus hidup pas-pasan. Untuk makan saja susah apalagi membeli lemari pakaian untuk seragamnya. Jadi, Rini hanya menancapkan paku di bambu penyangga pojok kamarnya. Karena masih SD dan belum begitu tinggi terkadang ia hanya menyeret seragamnya itu sampai akhirnya ada bagian yang robek. Meskipun Rini hidup dalam kekurangan bahkan rumahnya pun hanya berdinding anyaman bambu, tetapi Rini selalu bersyukur. Itulah hal yang selalu diajarkan emaknya.
            Setelah menghabiskan sarapan, Rini langsung berangkat sekolah.
            “Mak, Rini berangkat sekolah dulu ya”. Rini mencium punggung tangan emaknya.
            “Iya, hati-hati. Nanti bajunya emak benahi”.
            Rini berangkat sekolah dengan begitu bersemangat meski dengan baju yang sedikit robek. Ia tidak bisa memaksa emaknya untuk membenahi bajunya pagi ini juga karena emaknya yang sudah agak tua itu mengalami gangguan pada matanya. Emak tidak bisa melihat sesuatu yang kecil seperti jarum dan benang kalau keadaan tidak benar-benar terang. Maka dari itu emak hanya bisa menjahit baju Rini kalau sudah siang karena matahari sudah bersinar terang. Walaupun emak mempunyai kaca mata tetapi karena kaca mata itu dibeli sebelum Rini lahir maka fungsinya pun sudah banyak berkurang dan bahkan menurut Rini kaca mata itu tidak membantu penglihatan emak sedikitpun.
            “Selamat pagi anak-anak”.
            “Selamat pagi bu guru…”
            “Hari ini kita akan belajar tentang cita-cita. Tapi kalian menceritakannya dalam bentuk gambar. Kalian bisa menggambar apa yang kalian cita-citakan. Misalnya kalau yang ingin jadi pilot berarti harus menggambar pesawat. Mengerti?”.
            “Mengerti…”
            Semua anak menggambar apa yang mereka cita-citakan. Ada yang menggambar rumah sakit, sekolahan, kapal, dan sebagainya. Dengan sangat percaya diri Rini menggambar sebuah kacamata yang indah.
            “Baiklah, ibu rasa sudah cukup menggambarnya. Ibu ingin kalian menceritakan maksud gambar kalian. Tadi ibu sempat berkeliling dan sangat tertarik dengan gambaran Rini. Rini coba kamu ceritakan maksud gambarmu di depan sini”.
            Rini ke depan kelas dan bersiap menceritakan apa yang menjadi cita-citanya selama ini.
            “Teman-teman, saya mau menceritakan cita-cita saya. Di sini saya menggambar sebuah kacamata karena saya ingin sekali membelikan kacamata untuk emak. Emak sudah agak tua jadi penglihatannya sudah terganggu. Saya sering merasa kasihan kepada emak yang sudah tidak bisa melihat jarak jauh ataupun melihat benda yang kecil. Oleh karena itu, dengan sekuat tenaga saya akan mengumpulkan uang untuk membelikan kacamata emak. Dan di Hari Ibu 22 Desember nanti  saya akan memberikan hadiah kacamata kepada emak”.
            “Cita-cita yang bagus Rini. Ibu terkesan. Silahkan duduk kembali”.
            “Terima kasih bu guru”.
            Rini tidak main-main dengan ucapannya. Dia berusaha bekerja untuk mencari uang sehingga dapat mewujudkan cita-citanya membelikan kacamata untuk emak. Sepulang sekolah Rini menjadi pemulung. Dia tidak mau mengamen karena menurutnya memulung itu jauh lebih mulia dari mengamen.
            “Rini, dari mana kamu? Ini sudah jam lima sore. Kenapa kamu baru pulang?”, emak menghambur ke arah Rini melihat Rini baru pulang sekolah.
            “Maafkan Rini, mak”.
            “Dari mana kamu?”, emak membelai rambut Rini dengan penuh kasih.
            “Selama beberapa minggu ke depan Rini ada tambahan tugas sekolah”.
            “Tidak bohong?”
            “Tidak”.
            “Baiklah emak percaya. Sekarang kamu mandi dan makan”.
           Sungguh sebenarnya batin Rini dihantam kerasnya karang. Ingin rasanya dia menangis meraung-raung karena telah membohongi emak. Hal yang selama ini belum pernah Rini lakukan. Tapi Rini melakukan semua ini semata-mata karena ingin membahagiakan emak. Rini menghitung penghasilannya memulung hari ini dan ternyata hasilnya tidak begitu banyak. Meski begitu Rini tetap mensyukurinya dan memasukkan uang itu ke dalam kaleng bekas dan menyimpannya di kolong tempat tidur.
            Pagi itu hari Minggu, Rini sengaja berangkat memulung lebih awal karena ingin mendapatkan hasil yang lebih banyak. Sampai saat ini Rini masih membohongi emaknya tentang pekerjaan memulungnya tapi Rini selalu berjanji untuk menceritakan semuanya setelah Rini berhasil membeli kacamata yang ia impikan untuk emaknya.
            Namun mungkin memulung kali ini belum menjadi rejeki Rini. Ketika hari sudah mulai sore dan Rini hendak pulang tiba-tiba ada dua orang anak jalanan yang menghadangnya dan meminta uang.
            “Heh anak baru, bekerja di sini itu tidak gratis. Kamu harus membayar pajak. Serahkan uang kamu!”, bentak seorang anak jalanan sambil merogoh saku Rini dengan penuh paksaan.
            “Jangan, ini uang saya”, Rini berusaha keras mempertahankan uangnya.
            Sekeras apapun Rini berusaha mempertahankan uangnya toh Rini tetap kalah, di samping karena Rini masih kecil dan anak perempuan tetapi anak jalanan yang satunya juga tidak kalah jahat. Setelah berhasil mendapatkan uang Rini, dia kemudian mendorong Rini sampai terjatuh.
            Rini hanya bisa berkaca-kaca melihat kepergian dua anak jalanan itu. Padahal hasil memulung hari ini lumayan banyak. Tapi Rini segera menghapus air matanya karena ia tidak mau melihat emaknya khawatir ketika pulang nanti. Dengan perasaan yang galau Rini pun pulang.
            Kejadian dipalak oleh anak jalanan bukanlah satu-satunya kejadian pahit yang dialami Rini. Bahkan Rini pernah dituduh mencuri gorengan oleh penjual gorengan dan akan dibawa ke kantor polisi. Padahal semua itu tidak pernah dilakukannya.
            Rini tidak pernah menyerah untuk mewujudkan impian membahagiakan emaknya itu. Karena di rumah ia tidak mempunyai kalender maka ia selalu menghitung sisa waktu untuknya sampai tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu pada kalender yang ada di dinding kelas.
            “Mau kemana Rin?”, tanya Kania yang merasa heran karena melihat Rini setiap hari menghitung hari di kalender.
            “22 Desember itu Hari Ibu kan?”, Rini malah berbalik tanya.
            “Iya, memang kenapa?”
            “Cuma tanya aja”.
            “Oh…”, Kania segera berlalu dan tidak tertarik lagi untuk kembali memberikan pertanyaan kepada Rini.
            Tepat tanggal 21 Desember Rini menghitung uangnya dan ternyata sudah lebih dari cukup. Melihat uangnya yang sudah cukup maka Rini segera tidur dengan nyenyak dan berharap pagi segera datang agar ia bisa pergi ke Jaya Optik untuk menukarkan uangnya dengan sebuah kacamata yang indah.
            Tanggal 22 Desember pun tiba. Sepulang sekolah Rini berlari dengan sekencang-kencangnya ke toko Jaya Optik. Dia sudah tak sabar untuk membelikan hadiah kacamata untuk emaknya.
            “Mas, mau beli kacamata yang waktu itu saya tawar. Belum ada yang membelinya kan?”, tanya Rini kepada seorang pelayannya.
            Dengan senyum ramah, pelayan itu menjawab pertanyaan Rini.
            “Belum kok”.
            “Dibungkus yang bagus ya mas, sekalian tolong masukin surat ini ke dalam bungkusannya”. Rini menyerahkan sepucuk surat dengan amplop bergambar Winnie The Pooh yang tentunya ia tujukan kepada emaknya.
            “Siap. Kertasnya mau warna apa dan gambar apa?”
            “Terserah mas saja”.
            “Tunggu sebentar ya”.
            “Iya”.
            Rini menunggu pelayan yang baik dan ramah itu membungkus barangnya sambil melihat-lihat berbagai macam kacamata yang dijual di situ.
            “Ini sudah selesai”. Pelayan itu menyerahkan barang Rini dan selembar nota kecil untuk membayar di kasir.
            “Terima kasih”.
            “Sama-sama”.
            Setelah membayar barangnya di kasir, Rini segera berlari pulang karena ingin segera memberikan hadiah itu kepada emak dan mengucapkan selamat Hari Ibu. Namun ternyata takdir berkata lain. Karena perasaannya yang terlalu senang, Rini berlari tanpa memperhatikan jalanan sampai ia ditabrak sebuah mobil yang merenggut nyawanya seketika. Rini menjadi korban tabrak lari tepat di samping gang kecil menuju rumahnya.
            Kepergian Rini untuk selamanya telah menghancurkan jiwa emak. Rini yang selama ini menjadi matahari dalam kehidupannya harus pergi dengan cara yang cepat dan cukup tragis.
            Selang beberapa hari setelah kematian Rini, emak baru berani membuka bungkusan kado yang ditemukan tergeletak di samping Rini saat kecelakaan itu terjadi. Dan benda yang emak lihat pertama kali adalah sebuah kacamata yang indah. Ternyata di bawah kacamata itu ada sebuah amplop yang isinya sebuah surat. Dengan perasaan yang begitu menyakitkan dan air mata yang meleleh emak mencoba menata hati untuk mendapat kekuatan membaca surat itu.

Emak…
            Selamat Hari Ibu… Ini hadiah spesial dari Rini untuk emak. Maafkan Rini ya mak. Selama ini Rini berbohong, tugas sekolah yang selama ini Rini ceritakan sebenarnya tidak pernah ada. Selama ini Rini memulung untuk mendapatkan uang agar bisa membelikan emak kacamata sebagai hadiah di Hari Ibu ini dan juga sebagai ucapan terima kasih Rini karena emak sudah merawat, menjaga, dan menyayangi Rini. Emak adalah nyawa dan hidup Rini. Rini tak akan pernah melihat warna-warni dunia tanpa emak.
Selalu sayang emak, Rini Listyana
            Air mata yang semakin deras membahasi pipi tua emak. Surat dari Rini itu didekapnya dengan erat dan seakan yang didekap itu adalah Rini. Emak berjanji dalam hati untuk memakai kacamata dari Rini itu. Tapi ada satu hal yang tidak emak tahu dan Rini memang tidak pernah ingin emak mengetahui tentang hal ini. Di surat itu Rini tidak menceritakan penderitaannya saat memulung karena baginya semua itu belum seberapa dibandingkan dengan kerja keras emaknya dari melahirkannya ke dunia sampai merawat, membesarkan, mendidik, dan menyayangi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar