Minggu, 17 November 2013

INTIP TRADISI

Sinoman

Terlahir di Sangubanyu, Sumberrahayu, Moyudan, Sleman, Yogyakarta, sebuah daerah pedesaan yang asri dan sejuk menghadirkan serba-serbi tersendiri dalam setiap nafas kehidupannya. Hidup di daerah pedesaan adalah sebuah anugrah terindah bagi orang-orang yang selalu bersyukur. Kehidupan masyarakat desa pada umumnya yang masih mengutamakan kebersamaan dan kegotongroyongan akan terukir menjadi serpihan-serpihan kenangan yang indah di kemudian hari. Beragam tradisi yang berbeda di setiap daerah juga menjadi suguhan tersendiri dari masyarakat pedesaan. Nah... Yuk kita intip salah satu tradisi di dusun Sangubanyu yang disebut dengan SINOMAN.
Sebelum masuk pada tradisi sinoman, maka saya akan memberikan sedikit gambaran tentang acara pernikahan ala pedesaan. Acara bagi para pemuda biasanya dimulai pada H-1. Di sini pemuda bertugas untuk “laden tamu”. Laden tamu adalah melayani atau meladeni para tamu yang datang untuk “nyumbang”. Nyumbang adalah kebiasaan masyarakat desa yang datang ke acara pernikahan (umumnya dilakukan pada H-1) untuk memberikan sedikit sumbangan guna membantu pemilik hajat secara finansial. Di sini para penyumbang akan disediakan bermacam-macam makanan ringan, biasanya berupa lemper, roti, agar-agar, tape, emping, dsb. Penyumbang berhak untuk mengambil sendiri makanan yang diinginkannya. Setelah selesai makan makanan ringan tersebut maka tibalah saatnya untuk makan besar. Makan besar dalam hal ini dilakukan secara prasmanan. Lauk yang disediakan biasanya telur semur, mie, acar, sayur tempe, sambal goreng kentang, ayam goreng, sate ayam, sop, sambal goreng ati, oseng janggel, kerupuk, dan tak lupa buah semangka. Tentunya tidak semua lauk tersebut ada, hanya beberapa pilihan yang dikehendaki pemilik hajat. Biasanya pemuda perempuan yang bertugas laden tamu hanya mempersilakan masuk dan mengambil sendiri makanan yang ada. Sedangkan bagi para pemuda laki-laki biasanya bertugas menyingkirkan piring-piring kotor. Saat malam tiba adalah hal yang paling menyenangkan bagi para pemuda desa. Jika calon manten (pengantin) yang punya hajat tersebut adalah mempelai pria maka tugas para pemuda adalah membuat berbagai parcel cantik yang akan digunakan sebagai “tukonan” atau “srah-srahan”, dalam istilah bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai simbolisasi bahwa mempelai pria sanggup memberikan nafkah dunia kepada mempelai wanita. Barang-barang yang biasanya dibuat parcel adalah alat-alat kecantikan, berbagai produk make-up, sepatu, tas, baju, dan buah-buahan. Perlu diketahui juga bahwa dalam srah-srahan tersebut ada 2 barang yang tidak boleh dilupakan, yaitu ayam jago dan sepasang pisang Raja yang super besar. Namun jika yang punya hajat adalah mempelai wanita maka parcel yang dibuat lebih sedikit dan sederhana. Biasanya hanya berupa lemper, gula pasir, teh, jenang hitam, dan roti. Dalam hal ini tidak disebut dengan srah-srahan, tetapi hanya disebut sebagai oleh-oleh untuk keluarga mempelai pria.
Sinoman adalah sebuah tradisi masyarakat pedesaan yang lazimnya dilakukan oleh para pemuda dan pemudi desa. Tradisi ini terdapat di upacara pernikahan. Masyarakat pedesaan yang masih menggunakan rumah pribadi sebagai tempat tunggal untuk menggelar upacara pernikahan serta resepsi ditambah lagi dengan tidak adanya jasa catering maupun WO (Wedding Organizer) membuat pemilik hajat membutuhkan banyak tenaga dari masyarakat sekitarnya. Masyarakat pedesaan yang kental dengan kegotongroyongan akan dengan senang hati dan sukarela membantu dalam upacara pernikahan tersebut, tak terkecuali para pemuda. Dalam tradisi sinoman ini, pemuda berperan aktif dalam menyajikan berbagai makanan saat resepsi pernikahan kepada segenap tamu undangan. Biasanya sebelum hari-H pernikahan sudah diadakan rapat intern di dalam organisasi kepemudaan yang membahas tentang pembagian tugas. Biasanya ketua pemuda akan bertugas sebagai koordinator sedangkan para pemuda lainnya menyajikan makanan. Agar tidak terjadi kebingungan saat bertugas maka sudah ada yang ditugaskan untuk melayani keluarga mempelai, tamu laki-laki (bapak-bapak) yang berasal dari satu dusun,  tamu-tamu yang dihormati (misalnya: pak RT dan pak Kadus), dsb. Pemuda laki-laki akan bertugas membawa makanan dan minuman dengan menggunakan nampan, sedangkan pemuda perempuan yang memberikan kepada para tamu yang hadir.
Berikut ini adalah hal-hal yang harus dilakukan oleh para sinoman:
1.        Bagi laki-laki
a.         Memakai seragam yang sudah dibuat bersama, biasanya motif batik.
b.         Memakai sepatu pantovel warna gelap.
c.         Memakai celana kain hitam, sangat tidak diperbolehkan memakai celana jeans.
d.        Membawa nampan dengan diangkat setinggi dada.
e.         Bersikap ramah dan tersenyum kepada para tamu undangan.
2.        Bagi perempuan
a.         Memakai seragam yang sudah dibuat bersama.
b.         Memakai sepatu berhak tinggi.
c.         Memakai rok kain hitam panjang.
d.        Berjilbab bagi yang muslim. 
e.    Bersikap ramah dan tersenyum kepada para tamu undangan.
 

Jumat, 01 November 2013

Nasionalisme?

Nasionalisme? Sudah pudarkah nasionalisme pada generasi muda?

Sist, bro... Janganlah berpikiran sempit tentang nasionalisme. Nasionalisme tidak hanya sekedar mencintai Bangsa ini dari ucapan saja, melainkan dari berbagai perbuatan. Coba deh, sekarang kalian tanya kepada orang-orang Indonesia yang ada di luar negeri. Apakah mereka lupa akan Indonesia? Saya yakin dengan tegas mereka akan menjawab "SAYA TIDAK PERNAH MELUPAKAN INDONNESIA!".

Kita harus bisa menjadi umat yang cerdas. Cintailah Bangsamu tanpa merendahkan Bangsa lain. Katanya cinta Indonesia? Tapi kok nggak mau belajar menjadi lebih baik dari bangsa lain? Ayolah Sist, Bro... Jangan naif dalam mengartikan nasionalisme. Membandingakan Indonesia dengan Bangsa lain BUKAN perwujudan dari TIDAK cinta Indonesia. Apa mau kita menjadi Bangsa yang tertinggal hanya karena kita tidak mau belajar dari Bangsa lain? Tentu tidak bukan.

Berikut ini cara-cara yang bisa kita lakukan sebagai generasi muda dalam mewujudkan cinta tanah air (tentunya hanya dari sudut pandang pribadi):
  1.  Tidak pernah menghujat Indonesia ataupun merasa menyesal karena lahir di Indonesia.
  2.  Selalu berusaha melakukan hal-hal yang berguna untuk Indonesia, meskipun itu hal kecil dan tidak mendapat penghargaan berarti dari orang lain. Setidaknya malaikat yang akan mencatat kebaikan kita.
  3.  Menjadi generasi muda yang tidak pernah malas untuk kehidupan yang lebih baik.
  4.  Selalu berkarya di setiap waktu.
  5.  Jika bisa, harumkan nama Indonesia di kancah Internasional.

Manusia yang akan hidup di masa depan hanyalah manusia yang mampu berpikir global. Bukan manusia yang merasa nyaman tinggal di suatu tempat yang terlanjur aman. Bukankah untuk menjadi pintar kita perlu belajar? Begitupun dengan Indonesia. Kita perlu melihat negara lain sebagai sumber belajar. Tapi, jika ada yang bertanya "Bangsa mana yang harus menjadi contoh? Amerika? Negara adikuasa penganut kebebasan itu?". Di sinilah letak objektifitas yang kita perlukan. Bukan Amerika dengan paham liberalisme sekaligus negara penjajah yang kita lihat. Tetapi etos kerja yang ada di sana. Jangan khawatir... Indonesia punya filter yang luar biasa kok. Kita punya Pancasila dan UUD 1945 yang bisa menjadi filter dalam semua hal yang masuk dalam denyut nadi Bangsa Indonesia.

Masih merasa pesimis dengan kemampuan besar bangsa Indonesia? Sist, Bro... Saatnya kita bangkit dan berhenti untuk sekedar berorasi. Kita bisa mendapatkan hal lebih dari sekedar melakukan demonstrasi dan berorasi. Bukan melarang untuk melakukan demonstrasi, tapi coba deh dikalkulasi. Sebenarnya demonstrasi itu menguntungkan atau merugikan? Di satu sisi, kita meras puas karena dapat menyampaikan aspirasi meskipun harus dengan berpanas-panasan turun ke jalan.Tapi ketika demonstrasi itu sudah berujung pada tindakan anarkis, apakah itu menguntungkan? Apakah ini potret kaum terpelajar Indonesia? Ckckckc... Lebih memprihatinkan lagi hal itu dilakukan oleh MAHASISWA yang notabene kaum sangat terpelajar.

Jadi, apakah menyampaikan aspirasi itu hanya melalui demonstrasi?
Come on, guys... Kita hidup di era teknologi, bukan di Zaman Dinosaurus yang nggak kenal teknologi.
Berikut ini beberapa cara cerdas untuk mengungkapkan pendapat:
  1. Membuat forum diskusi cerdas yang membahas suatu topik tertentu dan berusaha mempublikasikannya.
  2. Menulis sebuah artikel tentang pendapat pribadi yang tentunya masuk kategori "pendapat cerdas" dan dimuat dalam surat kabar.
  3. Membuat sebuah buku tentang pandangan terhadap isu tertentu.
  4. Membuat film pendek dan berusaha mempublikasikannya tentang kebijakan pemerintah yang dianggap perlu untuk ditinjau ulang.
Bukankah cara-cara seperti di atas terlihat lebih cerdas daripada demonstrasi yang harus berteriak-teriak, berpanas-panasan, mengganggu arus lalu lintas, merusak fasilitas umum, dsb. Demonstrasi boleh-boleh saja, tapi lakukan dengan cara yang CERDAS.

Era reformasi adalah era kebebasan, di mana kita bebas berpendapat tetapi harus tetap bertanggungjwab.
So... Ayo jadi generasi muda yang mencintai Indonesia dengan bersikap nasionalisme secara cerdas.

Sekian...
Terima Kasih...