Jumat, 10 Januari 2014

Multilevel Marketing Amal


Penggandaan Amal

Bisakah amal atau lebih tepatnya pahala seorang muslim dilipatgandakan?
Tentu bisa, itulah jawabannya. Eits... tapi jangan dulu beranggapan bahwa besarnya pahala seorang muslim merupakan jaminan masuk surga. Mengapa demikian? Hal tersebut terjadi karena kita tidak akan pernah tahu bagaimana ending hidup kita. Banyak kisah yang telah membuktikan hal tersebut. Ada seorang muslim yang ahli ibadah, boleh dikatakan jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal satu jengkal tetapi di akhir hidupnya dia tidak khusnul khotimah karena sedang berbuat khilaf. Padahal kekhilafan tersebut baru dilakukannya sekali dalam seumur hidup. Di sisi lain, ada seorang muslim yang boleh dikatakan jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal satu jengkal tetapi di akhir hidupnya dia khusnul khotimah karena sedang berada dalam kebaikan. Padahal kebaikan itu baru dilakukannya sekali dalam seumur hidup. Wallahu’alam.
Berdasarkan uraian di atas dapat kita lihat bahwa hidup itu adalah sebuah misteri. Yang harus kita lakukan hanyalah berusaha untuk menjadi hamba yang selalu diridhoi Allah dan bertawakkal hanya kepada Allah. Semoga kita menjadi hamba yang selalu dicintai dan mendapat ridho dari Allah untuk menjadi penghuni surga. Amin.
Kembali pada penggandaan amal. Ustadz Wahadi (2003) mengatakan bahwa penggandaan amal disebut dengan strategi Multilevel Marketing Amal. Artinya, hanya dengan satu amal kita bisa mendapatkan banyak pahala bahkan bisa jadi pahala itu akan terus mengalir meskipun kita sudah meninggal dunia. Bagaimana caranya?
Ketika kita mengajak seseorang pada kebaikan atau melakukan kebaikan pada seseorang kemudian orang yang kita ajak tersebut melakukan apa yang kita anjurkan maka kita akan mendapatkan dua nilai sekaligus. Maksudnya, kita mendapat pahala dari ajakan kebaikan kita dan mendapat pahala dari perbuatan yang dilakukan oleh orang yang kita ajak tersebut. Contoh nyatanya, A mengajak B shalat, kemudian B melakukan shalat atas ajakan A. Jadi, A mendapatkan pahala dari seruan kebaikannya sekaligus pahala dari shalatnya B. Contoh lain yang dapat menjadi ladang amal bahkan sampai kita meninggal dunia, yaitu: A memberikan jilbab kepada B, kemudian B memakai jilbab tersebut bahkan karena pemberian jilbab tersebut B memutuskan untuk berjilbab selamanya. Nah, pahala itu akan terus mengalir pada kita.
Nah, itu tadi sedikit hal yang bisa saya sampaikan. Kalau amal bisa dilipatgandakan kenapa tidak kita lakukan?!

Keterampilan Menulis


KETERAMPILAN MENULIS

A.           Hakikat Menulis sebagai Aspek Keterampilan Berbahasa
1.      Pengertian Menulis
Menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu (Sunarti dan Anggraini, 2009: 87).
2.      Fungsi dan Tujuan Menulis
Pada prinsipnya fungsi utama dari tulisan adalah sebagai alat komunikasi yang tidak langsung.
Hugo Hartig (via Tarigan, 1982: 26, via Sunarti dan Anggraini 2009: 89) merangkum tujuan penulisan sebagai berikut:
a.       Assignment purpose (tujuan penugasan)
Penulis menulis sesuatu karena ditugaskan, bukan atas kemauan sendiri (misalnya para siswa yang diberi tugas merangkum buku).
b.      Altruistic purpose (tujuan altruistik)
Penulis bertujuan untuk menyenangkan para pembaca, menghindarkan kedukaan para pembaca, ingin menolong para pembaca memahami, menghargai perasaan dan penalarannya, ingin membuat hidup para pembaca lebih mudah dan lebih menyenangkan dengan karyanya itu. Seseorang tidak akan dapat menulis secara tepat guna kalau dia percaya, baik secara sadar maupun secara tidak sadar bahwa pembaca atau penikmat karyanya itu adalah “lawan” atau “musuh”. Tujuan altruistik adalah kunci keterbacaan sesuatu tulisan.
c.       Persuasive purpose (tujuan persuasif)
Tulisan yang bertujuan meyakinkan para pembaca akan kebenaran gagasan yang diutarakan.
d.      Informational purpose (tujuan informasional, tujuan penerangan)
Tulisan yang bertujuan memberi informasi atau keterangan/penerangan kepada para pembaca.
e.       Self expressive purpose (tujuan pernyataan diri)
Tulisan yang bertujuan memperkenalkan atau menyatakan diri sang pengarang kepada para pembaca.
f.       Creative purpose (tujuan kreatif)
Tjuan ini erat berhubungan dengan tujuan pernyataan diri. Tetapi “keinginan kreatif” di sini melebihi pernyataan diri dan melibatkan dirinya dengan keinginan mencapai norma artistik, atau seni yang ideal, seni idaman. Tulisan yang mencapai nilai-nilai artistik, nilai-nilai kesenian.
g.      Problem-solving purpose (tujuan pemecahan masalah)
Dalam tulisan seperti ini sang penulis ingin memecahkan masalah yang dihadapi. Sang penulis ingin menjelaskan, menjernihkan, serta meneliti secara cermat pikiran-pikiran dan gagasan-gagasannya sendiri agar dapat mengerti dan diterima oleh para pembaca.

B.            Ragam Tulisan
1.      Narasi
Narasi adalah jenis karangan yang menceritakan rangkaian peristiwa atau pengalaman berdasarkan urutan waktu (kronologis). Isi karangan narasi bisa betul-betul terjadi (nonfiksi) atau hanya khayalan semata (fiksi).
2.      Deskripsi
Deskripsi adalah jenis karangan yang melukiskan atau menggambarkan suatu objek apa adanya, sehingga pembaca ikut juga merasakan, mengalami, melihat, dan mendengar apa yang ditulis si pengarang itu.
3.      Eksposisi
Eksposisi adalah jenis karangan yang bertujuan menambah pengetahuan pembaca dengan cara memaparkan informasi secara akurat.
4.      Argumentasi
Argumentasi adalah jenis karangan yang bertujuan mempengaruhi pembaca dengan bukti-bukti, alasan, atau pendapat yang kuat, sehingga gagasan yang dikemukakan penulis dapat diyakini/dipercaya oleh pembaca.

C.           Tujuan Pembelajaran Menulis
Keraf (via Sunarti dan Anggraini, 2009: 97) mengemukakan tujuan pengajaran keterampilan menulis sebagai berikut:
1.      Peserta didik mampu memilih dan menata gagasan dengan penalaran yang logis dan sistematis.
2.      Peserta didik mampu menuangkannya ke dalam bentuk-bentuk tuturan bahasa Indonesia sesuai dengan kadiah-kaidah bahasa Indonesia.
3.      Peserta didik mampu menuliskannya sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan.
4.      Peserta didik mampu memilih ragam bahasa Indonesia sesuai konteks komunikasi.

Keterampilan Membaca


KETERAMPILAN MEMBACA

A.           Hakikat Membaca sebagai Aspek Keterampilan Berbahasa
1.      Pengertian Membaca
Beberapa pengertian tentang membaca, yaitu:
a.       Membaca sebagai proses melisankan paparan bahasa tulis.
b.      Membaca sebagai kegiatan memberikan persepsi secara tertulis.
c.      Membaca adalah penerapan seperangkat keterampilan kognitif untuk memperoleh pemahaman dari tuturan tertulis yang dibaca.
d.      Membaca sebagai proses berpikir dan bernalar.
e.       Membaca sebagai proses pemberian makna kepada simbol-simbol visual.
Berbagai perbedaan dari pengertian membaca tersebut terletak pada lingkup masalah yang dimasukkan ke dalam membaca.
Berikut ini tiga pengertian membaca berdasarkan perbedaan lingkup masalah:
a.       Pengertian sempit, yaitu pengertian yang menganggap membaca adalah proses pengenalan simbol-simbol tertulis. Pengertian sempit ini tidak memasukkan proses pemahaman dan penafsiran makna sebagai bagian dari proses berpikir yang menyertai proses membaca.
b.      Pengertian agak luas, pengertian ini memusatkan diri pada proses pemahaman makna atau isi bacaan. Masalah reaksi pembaca terhadap bacaan dan kreativitas pembaca dalam menemukan nilai, fungsi, dan signifikasi bacaan itu dipandang bukan merupakan masalah membaca.
c.       Pengertian luas, pengertian ini memandang membaca meliputi pula proses atau kegiatan memberikan respons kritis-kreatif terhadap bacaan dalam menemukan signifikasi, nilai, fungsi, dan hubungan isi bacaan itu dengan suatu kehidupan yang lebih luas serta dampak dari masalah yang dipaparkan pengarang.
2.      Manfaat Membaca
Dengan membaca, kita dapat mengetahui peristiwa-peristiwa waktu lampau atau waktu sekarang di tempat lain atau berbagai cerita yang menarik tentang kehidupan di dunia ini. Karena itu, sebagai salah satu jenis keterampilan berbahasa, keterampilan membaca sangat diperlukan dalam dunia modern seperti sekarang ini.

B.            Ragam Membaca
Ragam membaca menurut Jazir Burhan (1976) via Sunarti dan Anggraini (2009: 60), yaitu:
1.      Membaca Internsif
Membaca intensif adalah membaca yang dilakukan dengan hati-hati dan teliti sekali, dan biasanya cara membacanya lambat-lambat. Tujuannya adalah untuk memahami keseluruhan bahan bacaan itu sampai kepada bagian yang sekecil-kecilnya.
2.      Membaca Kritis
Kegiatan membaca ini merupakan jenis kegiatan membaca yang dilakukan secara bijaksana, bukan hanya mencari kesalahan belaka. Penggunaan teknik membaca kritis memberikan manfaat berupa penilaian yang beralasan serta pemahaman yang mantap sebagai akibat keterlibatan yang mendalam dengan bahan bacaan.
3.      Membaca Cepat
Dibedakan menjadi:
a.       Skimming, merupakan teknik membaca cepat untuk mencari hal-hal yang penting atau mencari pokok dari suatu bacaan. Membaca dengan teknik skimming artinya membaca untuk menemukan sesuatu yang diperlukan.
b.      Scanning, merupakan suatu teknik membaca untuk mendapatkan suatu informasi tanpa membaca yang lainnya.
Membaca adalah aktivitas yang kompleks dengan mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah. Pemahaman dan kecepatan membaca menjadi sangat tergantung pada kecakapan dalam menjalankan setiap organ tubuh yang diperlukan untuk itu.
Beikut ini hal-hal yang bisa menghambat dalam kegiatan membaca:
a.       Vokalisasi
Vokalisasi atau membaca dengan bersuara sangat memperlambat membaca, karena itu berarti mengucapkan kata demi kata dengan lengkap.
b.      Gerakan bibir
Menggerakkan bibir atau komat-kamit sewaktu membaca, sekalipun tidak mengeluarkan suara, sama lambatnya dengan membaca bersuara.
c.       Gerakan kepala
Semasa kanak-kanak penglihatan memang masih sulit menguasai seluruh penampang bacaan. Akibatnya adalah menggerakkan kepala dari kiri ke kanan untuk dapat membaca baris-baris bacaan secara lengkap. Namun setelah dewasa penglihatan telah mampu secara optimal sehingga seharusnya cukup mata saja yang bergerak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa membaca dengan menggerakkan kepala akan menghambat dalam kegiatan membaca.
d.      Menunjuk dengan jari
Membaca dengan menunjuk dengan jari atau benda lain sangat menghambat membaca sebab gerakan tangan lebih lambat daripada gerakan mata.
e.       Regresi
Kebiasaan selalu kembali ke belakang (regresi) untuk melihat kata atau beberapa kata yang baru dibaca akan menjadi hambatan yang serius dalam membaca.
f.       Subvokalisasi
Subvokalisasi atau melafalkan dalam batin/pikiran kata-kata yang dibaca dapat menghambat membaca karena pembaca menjadi lebih memperhatikan bagaimana melafalkan secara benar daripada berusaha memahami ide yang dikandung dalam kata-kata yang dibaca tersebut.
4.       Membaca untuk Keperluan Praktis
Salah satu tujuan dari membaca adalah sebagai sarana untuk memahami setiap bacaan yang perlu untuk dibaca dengan praktis, sesuai denga kebutuhan masing-masing atau tujuan yang hendak dicapai oleh pembaca.
5.      Membaca untuk Keperluan Studi
Membaca untuk studi ialah membaca untuk memahami isi buku secara keseluruhan, baik pikiran pokok maupun pikiran-pikiran penjelas sehingga pemahaman yang komprehensif (mendalam dan utuh) tentang isi buku tercapai.

C.           Teknik Membaca
1.      Teknik Membaca Pre Reading Plan (PReP)
Penggunaan teknik PRep mengandung dua kegiatan: melibatkan murid-murid/para mahasiswa dalam diskusi kelompok mengenai konsep-konsep utama dan menganilisis hakikat tanggapan murid/mahasiswa.
Prosedur penggunaan teknik PReP:
a.       Melibatkan murid-murid/para mahasiswa dalam diskusi kelompok
Langkah 1
Asosiasi awal dengan konsep (apa yang muncul dalam pikiran Anda ketika...?)
Langkah 2
Refleksi mengenai asosiasi awal (apa yang membuat Anda memikirkan tentang...?)
Langkah 3
Reformulasi pengetahuan (apakah Anda mempunyai gagasan-gagasan baru tentang...?)
b.      Menganalisis tanggapan murid/mahasiswa
Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada guru/dosen untuk memperoleh informasi diagnostik yang diperlukan untuk menentukan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid-murid/para mahasiswa.
2.      SQ3R
SQ3R merupakan metode membaca untuk menemukan ide-ide pokok dan pendukung ide pokok juga membantu pembaca dapat mengingat lebih lama. SQ3R mencakup lima langkah kegiatan yaitu survey, question, read, recite, dan review.
Langkah 1: survey (penelaahan pendahuluan)
Survey dilakukan sebelum membaca keseluruhan isi buku. Semua unsur dilihat sekilas untuk mengenal seluruh anatomi buku.
Langkah 2: question (bertanya)
Sebelum mengetahui keseluruhan isi buku biasanya dalam hati calon pembaca akan muncul berbagai pertanyaan seputar isi buku. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menuntun pembaca untuk memahami bacaan sehingga pembaca bersikap aktif dan kritis, tidak saja hanya mengikuti apa yang dikatakan pengarang.
Langkah 3: read (baca)
Setelah melakukan kegiatan survey dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan, pembaca mulai melakukan kegiatan membaca. Dengan memperlambat cara membaca pada bagian-bagian yang penting atau dianggap sulit dan mempercepat kembali pada bagian-bagian yang tidak penting atau telah diketahui akan meningkstkan efektifitas membaca.
Langkah 4: recite (mengutarakan kembali)
Setiap selesai membaca satu bagian maka sebaiknya berhenti sejenak untuk membuat catatan-catatan penting. Catatan itu dapat berupa kutipan, simpulan, atau komentar. Catatan-catatan tersebut akan membantu untuk mengingat apa yang sudah dibaca agar tidak sampai terjadi begitu selesai membaca, hilang pula apa yang telah dibaca.
Langkah 5: review (mengulang kembali)
Setelah selesai membaca buku secara keseluruhan, tinjau kembali hal-hal penting yang telah dibaca. Tentukan bagian-bagian penting yang perlu diingat kembali, terutama hal-hal yang telah diberi tanda atau digarisbawahi. Pengulangan kembali ini akan membantu daya ingat untuk memperjelas pemahaman terhadap bacaan, juga membantu menemukan hal penting yang mungkin terlewat sebelumnya.

D.           Tujuan Umum Pembelajaran Membaca
Tujuan umum pembelajaran membaca ialah membina siswa agar memiliki:
1.        Kemampuan/keterampilan yang baik dalam membaca yang tersurat, tersirat, dan tersorot dari macam-macam tuturan tertulis yang dibacanya.
2.        Pengetahuan yang sahih tentang nilai dan fungsi membaca, dan teknik membaca untuk mencapai tujuan tertentu.
3.        Sikap yang positif terhadap membaca dan belajar membaca.