Selasa, 10 Desember 2013

Intip Tradisi



Sinoman
Terlahir di Sangubanyu, Sumberrahayu, Moyudan, Sleman, Yogyakarta, sebuah daerah pedesaan yang asri dan sejuk menghadirkan serba-serbi tersendiri dalam setiap nafas kehidupannya. Hidup di daerah pedesaan adalah sebuah anugrah terindah bagi orang-orang yang selalu bersyukur. Kehidupan masyarakat desa pada umumnya yang masih mengutamakan kebersamaan dan kegotongroyongan akan terukir menjadi serpihan-serpihan kenangan yang indah di kemudian hari. Beragam tradisi yang berbeda di setiap daerah juga menjadi suguhan tersendiri dari masyarakat pedesaan. Nah... Yuk kita intip salah satu tradisi di dusun Sangubanyu yang disebut dengan SINOMAN.
Sebelum masuk pada tradisi sinoman, maka saya akan memberikan sedikit gambaran tentang acara pernikahan ala pedesaan. Acara bagi para pemuda biasanya dimulai pada H-1. Di sini pemuda bertugas untuk “laden tamu”. Laden tamu adalah melayani atau meladeni para tamu yang datang untuk “nyumbang”. Nyumbang adalah kebiasaan masyarakat desa yang datang ke acara pernikahan (umumnya dilakukan pada H-1) untuk memberikan sedikit sumbangan guna membantu pemilik hajat secara finansial. Di sini para penyumbang akan disediakan bermacam-macam makanan ringan, biasanya berupa lemper, roti, agar-agar, tape, emping, dsb. Penyumbang berhak untuk mengambil sendiri makanan yang diinginkannya. Setelah selesai makan makanan ringan tersebut maka tibalah saatnya untuk makan besar. Makan besar dalam hal ini dilakukan secara prasmanan. Lauk yang disediakan biasanya telur semur, mie, acar, sayur tempe, sambal goreng kentang, ayam goreng, sate ayam, sop, sambal goreng ati, oseng janggel, kerupuk, dan tak lupa buah semangka. Tentunya tidak semua lauk tersebut ada, hanya beberapa pilihan yang dikehendaki pemilik hajat. Biasanya pemuda perempuan yang bertugas laden tamu hanya mempersilakan masuk dan mengambil sendiri makanan yang ada. Sedangkan bagi para pemuda laki-laki biasanya bertugas menyingkirkan piring-piring kotor. Saat malam tiba adalah hal yang paling menyenangkan bagi para pemuda desa. Jika calon manten (pengantin) yang punya hajat tersebut adalah mempelai pria maka tugas para pemuda adalah membuat berbagai parcel cantik yang akan digunakan sebagai “tukonan” atau “srah-srahan”, dalam istilah bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai simbolisasi bahwa mempelai pria sanggup memberikan nafkah dunia kepada mempelai wanita. Barang-barang yang biasanya dibuat parcel adalah alat-alat kecantikan, berbagai produk make-up, sepatu, tas, baju, dan buah-buahan. Perlu diketahui juga bahwa dalam srah-srahan tersebut ada 2 barang yang tidak boleh dilupakan, yaitu ayam jago dan sepasang pisang Raja yang super besar. Namun jika yang punya hajat adalah mempelai wanita maka parcel yang dibuat lebih sedikit dan sederhana. Biasanya hanya berupa lemper, gula pasir, teh, jenang hitam, dan roti. Dalam hal ini tidak disebut dengan srah-srahan, tetapi hanya disebut sebagai oleh-oleh untuk keluarga mempelai pria.
Sinoman adalah sebuah tradisi masyarakat pedesaan yang lazimnya dilakukan oleh para pemuda dan pemudi desa. Tradisi ini terdapat di upacara pernikahan. Masyarakat pedesaan yang masih menggunakan rumah pribadi sebagai tempat tunggal untuk menggelar upacara pernikahan serta resepsi ditambah lagi dengan tidak adanya jasa catering maupun WO (Wedding Organizer) membuat pemilik hajat membutuhkan banyak tenaga dari masyarakat sekitarnya. Masyarakat pedesaan yang kental dengan kegotongroyongan akan dengan senang hati dan sukarela membantu dalam upacara pernikahan tersebut, tak terkecuali para pemuda. Dalam tradisi sinoman ini, pemuda berperan aktif dalam menyajikan berbagai makanan saat resepsi pernikahan kepada segenap tamu undangan. Biasanya sebelum hari-H pernikahan sudah diadakan rapat intern di dalam organisasi kepemudaan yang membahas tentang pembagian tugas. Biasanya ketua pemuda akan bertugas sebagai koordinator sedangkan para pemuda lainnya menyajikan makanan. Agar tidak terjadi kebingungan saat bertugas maka sudah ada yang ditugaskan untuk melayani keluarga mempelai, tamu laki-laki (bapak-bapak) yang berasal dari satu dusun,  tamu-tamu yang dihormati (misalnya: pak RT dan pak Kadus), dsb. Pemuda laki-laki akan bertugas membawa makanan dan minuman dengan menggunakan nampan, sedangkan pemuda perempuan yang memberikan kepada para tamu yang hadir.
Berikut ini adalah hal-hal yang harus dilakukan oleh para sinoman:
1.        Bagi laki-laki
a.         Memakai seragam yang sudah dibuat bersama, biasanya motif batik.
b.         Memakai sepatu pantovel warna gelap.
c.         Memakai celana kain hitam, sangat tidak diperbolehkan memakai celana jeans.
d.        Membawa nampan dengan diangkat setinggi dada.
e.         Bersikap ramah dan tersenyum kepada para tamu undangan.
2.        Bagi perempuan
a.         Memakai seragam yang sudah dibuat bersama.
b.         Memakai sepatu berhak tinggi.
c.         Memakai rok kain hitam panjang.
d.        Berjilbab bagi yang muslim.
e.         Bersikap ramah dan tersenyum kepada para tamu undangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar