Sinoman
Terlahir di Sangubanyu, Sumberrahayu,
Moyudan, Sleman, Yogyakarta, sebuah daerah pedesaan yang asri dan sejuk
menghadirkan serba-serbi tersendiri dalam setiap nafas kehidupannya. Hidup di
daerah pedesaan adalah sebuah anugrah terindah bagi orang-orang yang selalu
bersyukur. Kehidupan masyarakat desa pada umumnya yang masih mengutamakan
kebersamaan dan kegotongroyongan akan terukir menjadi serpihan-serpihan
kenangan yang indah di kemudian hari. Beragam tradisi yang berbeda di setiap
daerah juga menjadi suguhan tersendiri dari masyarakat pedesaan. Nah... Yuk
kita intip salah satu tradisi di dusun Sangubanyu yang disebut dengan SINOMAN.
Sebelum masuk pada tradisi sinoman, maka
saya akan memberikan sedikit gambaran tentang acara pernikahan ala pedesaan. Acara bagi para pemuda
biasanya dimulai pada H-1. Di sini pemuda bertugas untuk “laden tamu”. Laden
tamu adalah melayani atau meladeni para tamu yang datang untuk “nyumbang”.
Nyumbang adalah kebiasaan masyarakat desa yang datang ke acara pernikahan
(umumnya dilakukan pada H-1) untuk memberikan sedikit sumbangan guna membantu
pemilik hajat secara finansial. Di sini para penyumbang akan disediakan
bermacam-macam makanan ringan, biasanya berupa lemper, roti, agar-agar, tape,
emping, dsb. Penyumbang berhak untuk mengambil sendiri makanan yang
diinginkannya. Setelah selesai makan makanan ringan tersebut maka tibalah
saatnya untuk makan besar. Makan besar dalam hal ini dilakukan secara
prasmanan. Lauk yang disediakan biasanya telur semur, mie, acar, sayur tempe,
sambal goreng kentang, ayam goreng, sate ayam, sop, sambal goreng ati, oseng
janggel, kerupuk, dan tak lupa buah semangka. Tentunya tidak semua lauk
tersebut ada, hanya beberapa pilihan yang dikehendaki pemilik hajat. Biasanya pemuda
perempuan yang bertugas laden tamu hanya mempersilakan masuk dan mengambil
sendiri makanan yang ada. Sedangkan bagi para pemuda laki-laki biasanya
bertugas menyingkirkan piring-piring kotor. Saat malam tiba adalah hal yang
paling menyenangkan bagi para pemuda desa. Jika calon manten (pengantin) yang
punya hajat tersebut adalah mempelai pria maka tugas para pemuda adalah membuat
berbagai parcel cantik yang akan digunakan sebagai “tukonan” atau “srah-srahan”,
dalam istilah bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai simbolisasi bahwa
mempelai pria sanggup memberikan nafkah dunia kepada mempelai wanita.
Barang-barang yang biasanya dibuat parcel adalah alat-alat kecantikan, berbagai
produk make-up, sepatu, tas, baju, dan buah-buahan. Perlu diketahui juga bahwa
dalam srah-srahan tersebut ada 2 barang yang tidak boleh dilupakan, yaitu ayam
jago dan sepasang pisang Raja yang super besar. Namun jika yang punya hajat
adalah mempelai wanita maka parcel yang dibuat lebih sedikit dan sederhana.
Biasanya hanya berupa lemper, gula pasir, teh, jenang hitam, dan roti. Dalam
hal ini tidak disebut dengan srah-srahan, tetapi hanya disebut sebagai
oleh-oleh untuk keluarga mempelai pria.
Sinoman adalah sebuah tradisi masyarakat
pedesaan yang lazimnya dilakukan oleh para pemuda dan pemudi desa. Tradisi ini
terdapat di upacara pernikahan. Masyarakat pedesaan yang masih menggunakan
rumah pribadi sebagai tempat tunggal untuk menggelar upacara pernikahan serta
resepsi ditambah lagi dengan tidak adanya jasa catering maupun WO (Wedding Organizer)
membuat pemilik hajat membutuhkan banyak tenaga dari masyarakat sekitarnya.
Masyarakat pedesaan yang kental dengan kegotongroyongan akan dengan senang hati
dan sukarela membantu dalam upacara pernikahan tersebut, tak terkecuali para
pemuda. Dalam tradisi sinoman ini, pemuda berperan aktif dalam menyajikan
berbagai makanan saat resepsi pernikahan kepada segenap tamu undangan. Biasanya
sebelum hari-H pernikahan sudah diadakan rapat intern di dalam organisasi
kepemudaan yang membahas tentang pembagian tugas. Biasanya ketua pemuda akan
bertugas sebagai koordinator sedangkan para pemuda lainnya menyajikan makanan.
Agar tidak terjadi kebingungan saat bertugas maka sudah ada yang ditugaskan
untuk melayani keluarga mempelai, tamu laki-laki (bapak-bapak) yang berasal
dari satu dusun, tamu-tamu yang
dihormati (misalnya: pak RT dan pak Kadus), dsb. Pemuda laki-laki akan bertugas
membawa makanan dan minuman dengan menggunakan nampan, sedangkan pemuda
perempuan yang memberikan kepada para tamu yang hadir.
Berikut
ini adalah hal-hal yang harus dilakukan oleh para sinoman:
1.
Bagi laki-laki
a.
Memakai seragam yang
sudah dibuat bersama, biasanya motif batik.
b.
Memakai sepatu pantovel
warna gelap.
c.
Memakai celana kain
hitam, sangat tidak diperbolehkan memakai celana jeans.
d.
Membawa nampan dengan
diangkat setinggi dada.
e.
Bersikap ramah dan
tersenyum kepada para tamu undangan.
2.
Bagi perempuan
a.
Memakai seragam yang
sudah dibuat bersama.
b.
Memakai sepatu berhak
tinggi.
c.
Memakai rok kain hitam
panjang.
d.
Berjilbab bagi yang
muslim.
e.
Bersikap ramah dan
tersenyum kepada para tamu undangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar