Aurora di Khatulistiwa
Nur Ernawati
“Kamu sudah yakin dengan keputusanmu
Ran?”
“Semua sudah bulat, yah”.
“Baik kalau itu maumu. Kamu sudah
dewasa dan sudah bisa menentukan pilihan untuk hidupmu sendiri. Ayah, ibu, dan
kakakmu hanya bisa mendo’akan yang terbaik”.
Ranti tersenyum mendengar nasihat
ayahnya, dia pandangi satu persatu orang-orang yang selama ini telah
mencintainya dengan setulus hati. Ayah, ibu, dan Kak Ilham.
“Ranti, kalau kamu butuh apa-apa
atau terjadi sesuatu kamu harus segera telepon kakak”.
“Iya kak, Ranti kan perginya untuk
kebaikan, jadi Ranti yakin kalau Ranti akan mendapat kebaikan juga”. Ranti
berusaha meyakinkan keluarganya bahwa ia akan baik-baik saja.
Pagi itu Ranti sudah bersiap untuk pergi
ke sebuah desa yang terisolir. Ranti berniat untuk mengamalkan ilmunya sebagai
dokter. Dia ingin berguna untuk orang-orang yang selama ini belum terjamah oleh
ilmu pengetahuan karena bagi Ranti itu lebih mulia daripada menjadi seorang
dokter tetap di rumah sakit dengan gaji yang lumayan besar. Ranti sudah tidak
sabar untuk bertemu dengan orang-orang di desa itu.
“Kak, nanti kalau aku minta obat
dikirim secepatnya ya”. Ranti berpesan kepada kakaknya.
“Iya”.
Dengan mengendarai motor gede
kesayangannya, Kak Ilham mengantarkan Ranti sampai terminal. Ranti sengaja
tidak mau diantar ke desa itu menggunakan mobil karena menurutnya dengan
memakai angkutan umum dia lebih bisa membaur dengan orang-orang.
“Jaga diri baik-baik ya. Kakak
sayang kamu”. Kak Ilham memeluk Ranti dengan erat sebelum Ranti masuk ke dalam
bus.
“Kakak juga harus janji sama Ranti
kalau kakak akan menjaga ayah dan ibu”.
“Kakak janji”.
Ranti segera naik ke dalam bus
karena bus akan segera berangkat. Ranti memilih tempat duduk di pinggir jendela
agar bisa melihat pemandangan. Ranti melambaikan tangan sembari tersenyum
kepada Kak Ilham sebagai salam perpisahan.
Seorang pemuda yang seumuran dengan
Ranti duduk di samping Ranti. Dia terlihat sangat cuek bahkan untuk sekedar
menyapa Ranti pun tidak. Padahal dari rumah Ranti berharap tetangganya di bus
adalah orang yang ramah dan pandai bergaul. Karena pemuda itu tidak ramah
akhirnya Ranti memutuskan untuk tidak menyapanya juga.
Lama-kelamaan Ranti merasa bosan
dengan perjalanannya. Kemudian ia mengeluarkan laptop dari ranselnya untuk
menyapa teman-temannya lewat dunia maya.
“Dasar bodoh…”
Ranti terkejut mendengar omongan
pemuda yang lumayan tampan itu.
“Maksud anda saya?”. Ranti
memberanikan diri untuk buka suara.
“Ya iyalah. Di tempat kayak gini
masih pamer, kalau nanti dibuntuti orang baru tahu rasa”.
Ranti merasa tersinggung dengan
omongan pemuda itu. Selama ini belum pernah ada yang mengatakannya bodoh tapi
sekarang ada orang yang belum dikenalnya tiba-tiba mengatakan itu. Apalagi
pemuda itu mengatakan kalau Ranti pamer.
“Maaf ya, dari tadi saya tidak
mengganggu mas. Dan sekarang berani-beraninya mas mengatakan saya bodoh dan
pamer!”
Pemuda itu hanya diam dan tak
membalas kata-kata Ranti. Ucapan pemuda itu membuat Ranti kehilangan nafsunya
untuk bermain laptop.
Setelah menempuh perjalanan hampir
24 jam akhirnya Ranti tiba di terminal tujuannya dan ternyata pemuda itu juga
turun di tempat yang sama. Ranti segera mencari kendaraan yang bisa
mengantarkannya sampai ke desa itu. Baru beberapa meter Ranti melangkah
tiba-tiba ada seseorang yang menyahut tas jinjingnya yang berisi laptop. Sontak
Ranti meneriakinya maling.
Ranti terduduk menangis di pinggir
terminal. Dia menangis bukan karena kehilangan laptopnya melainkan materi yang
ada di dalamnya.
“Ini laptopnya”.
Ranti mengangkat kepalanya dan
mengusap air matanya. Ternyata yang telah menyelamatkan laptopnya adalah pemuda
yang tadi menjadi tetangganya di dalam bus. Ranti menerima laptopnya dan pemuda
itu langsung duduk di samping Ranti.
“Terimakasih”.
“Aku kan sudah bilang jangan pamer”.
Ranti tidak membalas kata-kata
pemuda itu. Dia masih sedikit terisak.
“Namaku Arya, kamu siapa?”. Pemuda
itu bertanya kepada Ranti sambil membakar rokok di tangannya yang kemudian
dihisapnya.
“Ranti”, jawab
Ranti singkat.
Sebenarnya Ranti
tidak suka dengan perokok. Dia yang bertahun-tahun sekolah di kedokteran
pastilah sudah hafal di luar kepala tentang bahaya rokok. Apalagi perokok pasif
sebenarnya juga akan mendapatkan dampaknya. Tapi Ranti juga tidak mau
menyinggung perasaan Arya.
“Mau kemana?”
“Desa Kenanga”.
Arya sedikit
kaget dengan jawaban Ranti karena Desa Kenanga adalah desa tempat tinggal Arya.
Setahu Arya Ranti bukanlah warga Desa Kenanga yang merantau seperti dirinya.
Setelah terjadi
pembicaraan sekitar setengah jam akhirnya Arya tahu bahwa Ranti adalah seorang
dokter dari kota yang akan mengabdikan diri untuk desanya. Begitupun Ranti.
Sekarang dia tahu bahwa Arya yang ada di hadapannya ini adalah anak kepala Desa
Kenanga yang pergi merantau ke kota. Memang waktu Ranti dan Kak Ilham
mengunjungi Desa Kenanga untuk pertama kalinya mereka disambut dengan baik oleh
Pak Bambang ayahnya Arya yang menjabat sebagai kepala desa. Pak Bambang sudah
banyak bercerita tentang Arya, anak laki-laki satu-satunya yang menjadi
kebanggaannya.
Desa Kenanga
adalah sebuah desa kecil yang letaknya sangat jauh dari keramainan. Bahkan
dengan desa tetangga jaraknya bisa mencapai sepuluh kilometer. Tapi untunglah
ada Arya yang dijemput dengan mobil, jadi Ranti bisa naik mobil bersama Arya.
Kehadiran Arya dan
Ranti disambut dengan baik oleh warga Desa Kenanga dan terutama oleh Pak
Bambang, ayahnya Arya. Rencana sebelumnya adalah Ranti akan tinggal di rumah
Pak Bambang. Selain sebagai kepala desa juga karena Pak Bambang dan istrinya
hanya berdua di rumah. Tapi ternyata di luar dugaan Arya pulang. Karena tidak
ingin timbul fitnah antara dirinya dan Arya akhirnya Ranti meminta ijin untuk
tidak tinggal di rumah Pak Bambang melainkan tinggal di rumah Bu Marwiyah,
seorang janda tanpa anak. Dengan senang hati Bu Marwiyah menerima Ranti.
Hari-hari
dilalui Ranti sebagai dokter. Dan entah mengapa Arya tidak mau kembali lagi ke
kota. Dia memilih bertahan di Desa Kenanga untuk membantu tugas ayahnya dan
tugas Ranti sebagai dokter di klinik kecilnya. Dia juga sering menemani Ranti
memberikan penyuluhan kepada warga tentang pentingnya kesehatan. Bahkan Ranti
dan Arya juga mendirikan sekolah untuk anak-anak Desa Kenanga.
Berita kedekatan
Ranti dan Arya sudah merebak di tengah warga. Tapi warga juga tidak keberatan
dengan hubungan itu karena dengan bersatunya Ranti dan Arya akan membuat mereka
tetap bertaha di Desa Kenanga. Itu artinya warga akan memiliki seorang dokter
untuk selamanya dan memiliki pemimpin yang baik dan peduli seperti Arya.
Kehadiran Arya
dan Ranti di tengah Desa Kenanga bagaikan aurora di khatulistiwa yang sangat
indah. Cahaya mereka yang penuh warna menghiasi atmosfer desa terisolir itu.
Peran Ranti sebagai guru dan dokter telah memberikan kontribusi besar dalam
mengembangkan pola pikir serta kesehatan warga sedangkan Arya yang berperan
menjadi guru dan kini telah menggantikan ayahnya sebagai kepala desa juga telap
menyulap Desa Kenanga menjadi desa yang berkembang pesat dalam berbagai sektor.
“Ran, kamu sudah
tahu berita yang tersebar di tengah warga tentang kita?”, tanya Arya kepada
Ranti di suatu sore ketika mereka berjalan-jalan menyusuri keindahan Desa
Kenanga.
“Ya, tapi aku
pikir itu hanya spekulasi yang tidak terbukti kebenarannya. Dan aku datang ke
desa ini untuk mengabdi, bukan untuk bersenang-senang apalagi sampai jatuh hati
kepada pemuda Kenanga”.
Kata-kata Ranti
telah memupuskan harapan Arya, padahal Arya berniat untuk mengungkapkan rasa
sayangnya kepada Ranti sore ini juga. Kini Arya memutuskan untuk memendam
perasaannya itu dan perlahan-lahan membuangnya.
Pagi itu ketika
Ranti bersiap untuk mengajar anak-anak di balai desa tiba-tiba kepalanya
menjadi pusing. Sebenarnya kejadian ini sudah sering Ranti alami tapi ia tidak
mau memeriksakan kesehatannya ke rumah sakit dengan alasan dia harus tetap bertahan
di Desa Kenanga, ia tidak mau pergi meskipun untuk memeriksakan kesehatannya
sendiri. Sebagai dokter, Ranti sudah mempunyai beberapa dugaan tentang
penyakitnya itu, tapi ia selalu menghibur diri bahwa ia hanya kelelahan.
Sesampainya di balai desa Ranti terlihat sedikit pucat.
“Ran, kamu
sakit?”, tanya Arya yang khawatir dengan keadaan Ranti.
“Aku hanya
sedikit pusing tapi nanti juga sembuh kok. Aku kan dokter”, jawab Ranti dengan
sedikit senyuman manis.
“Dokter juga
manusia, Ran. Kamu juga bisa sakit”.
“Iya, tapi
semuanya baik-baik saja kok”.
Ranti tetap
mengajar bersama Arya meskipun ia merasakan sangat sakit di kepalanya. Dan kali
ini rasa sakit itu tidak main-main. Dan ketika sekolah sudah selesai anak-anak
pulang, Ranti merasa tidak tahan lagi. Ia menjerit sekuat tenaga sambil
memegang kepalanya.
“Aaaaa….
Sakit…”. Ranti berteriak sambil menangis dan memegang kepalanya.
“Ranti, kamu
kenapa?”. Arya sangat panik melihat keadaan Ranti karena di tempat itu hanya
ada Ranti dan dirinya.
Arya kemudian
memeluk Ranti dan berusaha menenangkan Ranti sementara Ranti terus berteriak
kesakitan. Arya tidak bisa tinggal diam melihat keadaan Ranti, ia langsung
menelepon ayahnya dan meminta untuk segera mengantarkan mobil untuk membawa
Ranti ke rumah sakit. Pak Bambang juga tidak membuang-buang waktu, ia segera
mengantarkan mobil kepada Arya.
Berita tentang
sakitnya Ranti cepat menyebar di Desa Kenanga, Bu Marwiyah tentulah menjadi
orang yang sangat sedih karena selama ini Ranti tinggal bersamanya. Semua warga
kini mendo’akan yang terbaik untuk Ranti.
Satu setengah
jam perjalanan yang harus ditempuh Arya dan Ranti untuk menuju rumah sakit yang
besar. Dan sesampainya di sana jantung Arya seperti mau copot ketika dokter
mengatakan bahwa Ranti menderita kanker otak stadium akhir. Ingin rasanya Arya
menangis meraung-raung bak anak kecil yang kehilangan balonnya, tapi Arya
berusaha untuk tegar dan berharap Allah masih memberinya hidup. Arya
mencari-cari nomer telepon keluarga Ranti di handphonenya Ranti. Ia tidak mau disalahkan jika nanti sampai
terjadi apa-apa dengan Ranti. Akhirnya Arya berhasil menghubungi keluarga Ranti
dan meminta mereka untuk segera datang.
Satu jam sudah
Arya menunggu dokter menangani Ranti. Dan ketika dokter keluar ternyata bukan
kabar baik yang diterimanya melainkan kabar buruk. Dokter mengatakan bahwa
Ranti sudah menghembuskan nafasnya yang terakhir.
“Maaf nak Arya,
tapi Ranti sudah tidak dapat kami tolong”.
Seketika itu
tangis Arya pecah, dia menerobos masuk untuk melihat Ranti. Ranti yang dicintainya
kini telah terdiam memejamkan mata, ia tak lagi tersenyum manis seperti dulu.
Arya sangat terguncang jiwanya, ia bertindak seperti orang gila. Dia nekat memeluk
sambil berbaring satu ranjang bersama Ranti, ia berpikir bahwa Ranti hanya
tidur untuk sementara. Dokter dan suster sudah memperingatkan Arya, tapi karena
melihat air mata Arya yang mengalir deras membuat mereka membiarkan perbuatan
Arya sampai keluarga Ranti yang sebenarnya datang.
Keajaiban
datang. Beberapa saat setelah Arya melakukan hal gila itu tiba-tiba alat di
samping Ranti menunjukkan bahwa detak jantung Ranti kembali. Dokter yang
melihat kejadian itu sangat terkejut. Dokter kemudian memastikan lagi apakah
Ranti masih hidup. Dan ternyata setelah diselidiki detak jantung itu bukan milik
Ranti melainkan milik Arya yang sedang memeluk Ranti dengan sangat erat. Dokter
dan suster yang melihat kejadian itu menjadi terharu. Keterkejutan dokter tak
hanya sampai di situ, Arya yang dari tadi terlihat sangat sehat tiba-tiba tak
bergerak lagi dan tidak ada lagi detak jantungnya. Arya telah pergi selamanya
bersama Ranti.
Kejadian
meninggalnya Ranti dan Arya yang sedang berpelukan cepat menyebar bahkan bukan
hanya di Desa Kenanga tapi juga di desa-desa lain. Akhirnya diputuskan Ranti
dan Arya dimakamkan bersebelahan di Desa Kenanga. Kini aurora khatulistiwa dari
Desa Kenanga itu telah pergi untuk selamanya, meski begitu nama mereka tak akan
pernah dilupakan oleh warga Kenanga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar