Selasa, 10 Desember 2013

Aurora di Khatulistiwa


Aurora di Khatulistiwa
Nur Ernawati

            “Kamu sudah yakin dengan keputusanmu Ran?”
            “Semua sudah bulat, yah”.
            “Baik kalau itu maumu. Kamu sudah dewasa dan sudah bisa menentukan pilihan untuk hidupmu sendiri. Ayah, ibu, dan kakakmu hanya bisa mendo’akan yang terbaik”.
            Ranti tersenyum mendengar nasihat ayahnya, dia pandangi satu persatu orang-orang yang selama ini telah mencintainya dengan setulus hati. Ayah, ibu, dan Kak Ilham.
            “Ranti, kalau kamu butuh apa-apa atau terjadi sesuatu kamu harus segera telepon kakak”.
            “Iya kak, Ranti kan perginya untuk kebaikan, jadi Ranti yakin kalau Ranti akan mendapat kebaikan juga”. Ranti berusaha meyakinkan keluarganya bahwa ia akan baik-baik saja.
            Pagi itu Ranti sudah bersiap untuk pergi ke sebuah desa yang terisolir. Ranti berniat untuk mengamalkan ilmunya sebagai dokter. Dia ingin berguna untuk orang-orang yang selama ini belum terjamah oleh ilmu pengetahuan karena bagi Ranti itu lebih mulia daripada menjadi seorang dokter tetap di rumah sakit dengan gaji yang lumayan besar. Ranti sudah tidak sabar untuk bertemu dengan orang-orang di desa itu.
            “Kak, nanti kalau aku minta obat dikirim secepatnya ya”. Ranti berpesan kepada kakaknya.
            “Iya”.
            Dengan mengendarai motor gede kesayangannya, Kak Ilham mengantarkan Ranti sampai terminal. Ranti sengaja tidak mau diantar ke desa itu menggunakan mobil karena menurutnya dengan memakai angkutan umum dia lebih bisa membaur dengan orang-orang.
            “Jaga diri baik-baik ya. Kakak sayang kamu”. Kak Ilham memeluk Ranti dengan erat sebelum Ranti masuk ke dalam bus.
            “Kakak juga harus janji sama Ranti kalau kakak akan menjaga ayah dan ibu”.
            “Kakak janji”.
            Ranti segera naik ke dalam bus karena bus akan segera berangkat. Ranti memilih tempat duduk di pinggir jendela agar bisa melihat pemandangan. Ranti melambaikan tangan sembari tersenyum kepada Kak Ilham sebagai salam perpisahan.
            Seorang pemuda yang seumuran dengan Ranti duduk di samping Ranti. Dia terlihat sangat cuek bahkan untuk sekedar menyapa Ranti pun tidak. Padahal dari rumah Ranti berharap tetangganya di bus adalah orang yang ramah dan pandai bergaul. Karena pemuda itu tidak ramah akhirnya Ranti memutuskan untuk tidak menyapanya juga.
            Lama-kelamaan Ranti merasa bosan dengan perjalanannya. Kemudian ia mengeluarkan laptop dari ranselnya untuk menyapa teman-temannya lewat dunia maya.
            “Dasar bodoh…”
            Ranti terkejut mendengar omongan pemuda yang lumayan tampan itu.
            “Maksud anda saya?”. Ranti memberanikan diri untuk buka suara.
            “Ya iyalah. Di tempat kayak gini masih pamer, kalau nanti dibuntuti orang baru tahu rasa”.
            Ranti merasa tersinggung dengan omongan pemuda itu. Selama ini belum pernah ada yang mengatakannya bodoh tapi sekarang ada orang yang belum dikenalnya tiba-tiba mengatakan itu. Apalagi pemuda itu mengatakan kalau Ranti pamer.
            “Maaf ya, dari tadi saya tidak mengganggu mas. Dan sekarang berani-beraninya mas mengatakan saya bodoh dan pamer!”
            Pemuda itu hanya diam dan tak membalas kata-kata Ranti. Ucapan pemuda itu membuat Ranti kehilangan nafsunya untuk bermain laptop.
            Setelah menempuh perjalanan hampir 24 jam akhirnya Ranti tiba di terminal tujuannya dan ternyata pemuda itu juga turun di tempat yang sama. Ranti segera mencari kendaraan yang bisa mengantarkannya sampai ke desa itu. Baru beberapa meter Ranti melangkah tiba-tiba ada seseorang yang menyahut tas jinjingnya yang berisi laptop. Sontak Ranti meneriakinya maling.
            Ranti terduduk menangis di pinggir terminal. Dia menangis bukan karena kehilangan laptopnya melainkan materi yang ada di dalamnya.
            “Ini laptopnya”.
            Ranti mengangkat kepalanya dan mengusap air matanya. Ternyata yang telah menyelamatkan laptopnya adalah pemuda yang tadi menjadi tetangganya di dalam bus. Ranti menerima laptopnya dan pemuda itu langsung duduk di samping Ranti.
            “Terimakasih”.
            “Aku kan sudah bilang jangan pamer”.
            Ranti tidak membalas kata-kata pemuda itu. Dia masih sedikit terisak.
            “Namaku Arya, kamu siapa?”. Pemuda itu bertanya kepada Ranti sambil membakar rokok di tangannya yang kemudian dihisapnya.
“Ranti”, jawab Ranti singkat.
Sebenarnya Ranti tidak suka dengan perokok. Dia yang bertahun-tahun sekolah di kedokteran pastilah sudah hafal di luar kepala tentang bahaya rokok. Apalagi perokok pasif sebenarnya juga akan mendapatkan dampaknya. Tapi Ranti juga tidak mau menyinggung perasaan Arya.
“Mau kemana?”
“Desa Kenanga”.
Arya sedikit kaget dengan jawaban Ranti karena Desa Kenanga adalah desa tempat tinggal Arya. Setahu Arya Ranti bukanlah warga Desa Kenanga yang merantau seperti dirinya.
Setelah terjadi pembicaraan sekitar setengah jam akhirnya Arya tahu bahwa Ranti adalah seorang dokter dari kota yang akan mengabdikan diri untuk desanya. Begitupun Ranti. Sekarang dia tahu bahwa Arya yang ada di hadapannya ini adalah anak kepala Desa Kenanga yang pergi merantau ke kota. Memang waktu Ranti dan Kak Ilham mengunjungi Desa Kenanga untuk pertama kalinya mereka disambut dengan baik oleh Pak Bambang ayahnya Arya yang menjabat sebagai kepala desa. Pak Bambang sudah banyak bercerita tentang Arya, anak laki-laki satu-satunya yang menjadi kebanggaannya.
Desa Kenanga adalah sebuah desa kecil yang letaknya sangat jauh dari keramainan. Bahkan dengan desa tetangga jaraknya bisa mencapai sepuluh kilometer. Tapi untunglah ada Arya yang dijemput dengan mobil, jadi Ranti bisa naik mobil bersama Arya.
Kehadiran Arya dan Ranti disambut dengan baik oleh warga Desa Kenanga dan terutama oleh Pak Bambang, ayahnya Arya. Rencana sebelumnya adalah Ranti akan tinggal di rumah Pak Bambang. Selain sebagai kepala desa juga karena Pak Bambang dan istrinya hanya berdua di rumah. Tapi ternyata di luar dugaan Arya pulang. Karena tidak ingin timbul fitnah antara dirinya dan Arya akhirnya Ranti meminta ijin untuk tidak tinggal di rumah Pak Bambang melainkan tinggal di rumah Bu Marwiyah, seorang janda tanpa anak. Dengan senang hati Bu Marwiyah menerima Ranti.
Hari-hari dilalui Ranti sebagai dokter. Dan entah mengapa Arya tidak mau kembali lagi ke kota. Dia memilih bertahan di Desa Kenanga untuk membantu tugas ayahnya dan tugas Ranti sebagai dokter di klinik kecilnya. Dia juga sering menemani Ranti memberikan penyuluhan kepada warga tentang pentingnya kesehatan. Bahkan Ranti dan Arya juga mendirikan sekolah untuk anak-anak Desa Kenanga.
Berita kedekatan Ranti dan Arya sudah merebak di tengah warga. Tapi warga juga tidak keberatan dengan hubungan itu karena dengan bersatunya Ranti dan Arya akan membuat mereka tetap bertaha di Desa Kenanga. Itu artinya warga akan memiliki seorang dokter untuk selamanya dan memiliki pemimpin yang baik dan peduli seperti Arya.
Kehadiran Arya dan Ranti di tengah Desa Kenanga bagaikan aurora di khatulistiwa yang sangat indah. Cahaya mereka yang penuh warna menghiasi atmosfer desa terisolir itu. Peran Ranti sebagai guru dan dokter telah memberikan kontribusi besar dalam mengembangkan pola pikir serta kesehatan warga sedangkan Arya yang berperan menjadi guru dan kini telah menggantikan ayahnya sebagai kepala desa juga telap menyulap Desa Kenanga menjadi desa yang berkembang pesat dalam berbagai sektor.
“Ran, kamu sudah tahu berita yang tersebar di tengah warga tentang kita?”, tanya Arya kepada Ranti di suatu sore ketika mereka berjalan-jalan menyusuri keindahan Desa Kenanga.
“Ya, tapi aku pikir itu hanya spekulasi yang tidak terbukti kebenarannya. Dan aku datang ke desa ini untuk mengabdi, bukan untuk bersenang-senang apalagi sampai jatuh hati kepada pemuda Kenanga”.
Kata-kata Ranti telah memupuskan harapan Arya, padahal Arya berniat untuk mengungkapkan rasa sayangnya kepada Ranti sore ini juga. Kini Arya memutuskan untuk memendam perasaannya itu dan perlahan-lahan membuangnya.
Pagi itu ketika Ranti bersiap untuk mengajar anak-anak di balai desa tiba-tiba kepalanya menjadi pusing. Sebenarnya kejadian ini sudah sering Ranti alami tapi ia tidak mau memeriksakan kesehatannya ke rumah sakit dengan alasan dia harus tetap bertahan di Desa Kenanga, ia tidak mau pergi meskipun untuk memeriksakan kesehatannya sendiri. Sebagai dokter, Ranti sudah mempunyai beberapa dugaan tentang penyakitnya itu, tapi ia selalu menghibur diri bahwa ia hanya kelelahan. Sesampainya di balai desa Ranti terlihat sedikit pucat.
“Ran, kamu sakit?”, tanya Arya yang khawatir dengan keadaan Ranti.
“Aku hanya sedikit pusing tapi nanti juga sembuh kok. Aku kan dokter”, jawab Ranti dengan sedikit senyuman manis.
“Dokter juga manusia, Ran. Kamu juga bisa sakit”.
“Iya, tapi semuanya baik-baik saja kok”.
Ranti tetap mengajar bersama Arya meskipun ia merasakan sangat sakit di kepalanya. Dan kali ini rasa sakit itu tidak main-main. Dan ketika sekolah sudah selesai anak-anak pulang, Ranti merasa tidak tahan lagi. Ia menjerit sekuat tenaga sambil memegang kepalanya.
“Aaaaa…. Sakit…”. Ranti berteriak sambil menangis dan memegang kepalanya.
“Ranti, kamu kenapa?”. Arya sangat panik melihat keadaan Ranti karena di tempat itu hanya ada Ranti dan dirinya.
Arya kemudian memeluk Ranti dan berusaha menenangkan Ranti sementara Ranti terus berteriak kesakitan. Arya tidak bisa tinggal diam melihat keadaan Ranti, ia langsung menelepon ayahnya dan meminta untuk segera mengantarkan mobil untuk membawa Ranti ke rumah sakit. Pak Bambang juga tidak membuang-buang waktu, ia segera mengantarkan mobil kepada Arya.
Berita tentang sakitnya Ranti cepat menyebar di Desa Kenanga, Bu Marwiyah tentulah menjadi orang yang sangat sedih karena selama ini Ranti tinggal bersamanya. Semua warga kini mendo’akan yang terbaik untuk Ranti.
Satu setengah jam perjalanan yang harus ditempuh Arya dan Ranti untuk menuju rumah sakit yang besar. Dan sesampainya di sana jantung Arya seperti mau copot ketika dokter mengatakan bahwa Ranti menderita kanker otak stadium akhir. Ingin rasanya Arya menangis meraung-raung bak anak kecil yang kehilangan balonnya, tapi Arya berusaha untuk tegar dan berharap Allah masih memberinya hidup. Arya mencari-cari nomer telepon keluarga Ranti di handphonenya Ranti. Ia tidak mau disalahkan jika nanti sampai terjadi apa-apa dengan Ranti. Akhirnya Arya berhasil menghubungi keluarga Ranti dan meminta mereka untuk segera datang.
Satu jam sudah Arya menunggu dokter menangani Ranti. Dan ketika dokter keluar ternyata bukan kabar baik yang diterimanya melainkan kabar buruk. Dokter mengatakan bahwa Ranti sudah menghembuskan nafasnya yang terakhir.
“Maaf nak Arya, tapi Ranti sudah tidak dapat kami tolong”.
Seketika itu tangis Arya pecah, dia menerobos masuk untuk melihat Ranti. Ranti yang dicintainya kini telah terdiam memejamkan mata, ia tak lagi tersenyum manis seperti dulu. Arya sangat terguncang jiwanya, ia bertindak seperti orang gila. Dia nekat memeluk sambil berbaring satu ranjang bersama Ranti, ia berpikir bahwa Ranti hanya tidur untuk sementara. Dokter dan suster sudah memperingatkan Arya, tapi karena melihat air mata Arya yang mengalir deras membuat mereka membiarkan perbuatan Arya sampai keluarga Ranti yang sebenarnya datang.
Keajaiban datang. Beberapa saat setelah Arya melakukan hal gila itu tiba-tiba alat di samping Ranti menunjukkan bahwa detak jantung Ranti kembali. Dokter yang melihat kejadian itu sangat terkejut. Dokter kemudian memastikan lagi apakah Ranti masih hidup. Dan ternyata setelah diselidiki detak jantung itu bukan milik Ranti melainkan milik Arya yang sedang memeluk Ranti dengan sangat erat. Dokter dan suster yang melihat kejadian itu menjadi terharu. Keterkejutan dokter tak hanya sampai di situ, Arya yang dari tadi terlihat sangat sehat tiba-tiba tak bergerak lagi dan tidak ada lagi detak jantungnya. Arya telah pergi selamanya bersama Ranti.
Kejadian meninggalnya Ranti dan Arya yang sedang berpelukan cepat menyebar bahkan bukan hanya di Desa Kenanga tapi juga di desa-desa lain. Akhirnya diputuskan Ranti dan Arya dimakamkan bersebelahan di Desa Kenanga. Kini aurora khatulistiwa dari Desa Kenanga itu telah pergi untuk selamanya, meski begitu nama mereka tak akan pernah dilupakan oleh warga Kenanga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar