Rabu, 04 Desember 2013

Jiwa-Jiwa Tersakiti


Jiwa-Jiwa Tersakiti
Nur Ernawati

            “Kamu itu ya, berkali-kali saya bilang jangan ke sini lagi. Pelanggan saya itu jadi nggak nafsu makan kalau melihat gembel seperti kamu”, bentak Yu Juminten kepada seorang pengemis yang terlihat sangat dekil.
            Melihat kejadian itu Naryo menjadi tergerak hatinya untuk membela pengemis tua itu. Ia meninggalkan gudeg yang disantapnya dan menghampiri pengemis yang masih dimaki-maki Yu Juminten.
            “Maaf Yu Juminten, beri saja dia sebungkus gudeg dengan lauknya lengkap. Nanti saya yang akan bayar semuanya”.
            “Tapi Mas Naryo…”
            “Saya kan tadi bilang dibungkus, jadi dia tidak akan duduk di warung Yu Jum ini kan?”
            “Baik kalau begitu mas”
            “Terimakasih tuan. Semoga kebaikan tuan mendapat imbalan yang berlipat-lipat dari Allah”. Pengemis tua itu mendo’akan Naryo dengan sedikit berkaca-kaca.
“Amin. Terimakasih atas do’anya pak”
            “Ini Mas Naryo gudegnya”. Yu Juminten sudah selesai membungkus gudeg.
            “Kok dikasih ke saya? Saya tadi kan bilang untuk bapak ini”. Naryo sengaja mengatakan itu kepada Yu Jum agar Yu Jum mau memberikan langsung gudeg itu kepada pengemis. Naryo ingin mengajarkan kepada Yu Jum bahwa semua makhluk di dunia ini sama dan tidak boleh dipandang rendah hanya karena status sosial.
            Dengan raut muka sedikit kesal akhirnya Yu Jum mau memberikan gudeg itu secara langsung. “Ini gudegnya pak tua”
            “Terimakasih bu, semoga Allah juga membalas kebaikan ibu”
            “Amin”
            Setelah pengemis tua itu pergi Naryo kembali ke tempat duduknya semula untuk menghabiskan gudeg miliknya. Sambil mengunyah gudeg Yu Jum ingatan Naryo seperti dilempar kembali kepada kejadian lima belas tahun silam saat kemiskinan merenggut nyawa ibunya.
            Naryo yang saat itu berusia sepuluh tahun harus kehilangan satu-satunya orang yang ia miliki dan cintai saat itu. Orang itu adalah ibunya sendiri. Dan yang lebih memukul batinnya adalah sikap orang-orang di sekitarnya. Saat Naryo berlari kesana-kemari untuk meminta bantuan karena ibunya meninggal tidak ada seorangpun yang mau menolongnya. Naryo kecil tidak mau putus asa sampai di situ. Dengan tubuhnya yang kurus kering karena kemiskinan Naryo menyeret jasad ibunya menuju pinggir rel kereta api yang agak jauh dari keramaian. Naryo berpikir akan menguburkan jenazah ibunya di tempat itu yang tidak banyak diketahui orang.
            Sumber dari semua petaka itu adalah persahabatan. Naryo yang hanya seorang pemulung menjalin persahabatan dengan Dirga, anak seorang anggota brimob yang kaya. Dengan penghasilan ayahnya sebagai anggota brimob dan ibunya yang memiliki sebuah pabrik roti Dirga mampu memiliki semuanya. Apalagi Dirga adalah anak tunggal. Meski Dirga bisa mendapatkan semuanya namun dia bukan anak yang sombong dan membeda-bedakan teman.
            Pertemuan Dirga dan Naryo dimulai di sekolah dasar. Naryo yang miskin selalu dicemooh teman-temannya dan saat itulah Dirga selalu datang dan membela Naryo. Bahkan Dirga tak segan untuk berkelahi dengan temannya hanya untuk membela Naryo. Sampai akhirnya orangtua Dirga harus dipanggil ke sekolah karena perkelahiannya sudah sampai tiga kali. Ayah Dirga sangat marah kepada Naryo karena menganggap kalau Naryo membawa pengaruh buruk kepada Dirga.
            “Heh, kamu anak miskin. Berani-beraninya kamu mempengaruhi Dirga untuk berkelahi. Dasar anak tidak tahu aturan”. Ayah Dirga tampak marah sekali kepada Naryo. Dia memarahi Naryo dengan setengah berteriak seperti mau memakan Naryo.
            Mendengar amarah ayah Dirga, Naryo hanya tertunduk. Perasaanya sangat takut. Dirga juga tidak tinggal diam melihat kejadian itu. Dengan sekuat tenaga ia berusaha membela Naryo sahabatnya itu.
            “Ayah, ini semua bukan salah Naryo. Ini semua salah mereka. Mereka terlalu kejam dengan selalu mengejek Naryo. Naryo tidak salah!”
            Pembelaan Dirga seperti membuat Naryo merasa menjadi pengecut. Dirga saja mau membelanya tapi mengapa dia hanya diam saja? Itulah perasaan Naryo.
            “Dirga! Kamu sekarang berani melawan ayah?” Amarah ayah Dirga semakin memuncak.
            “Maafkan Dirga, yah”. Dirga juga tertunduk seperti Naryo melihat amarah ayahnya.
            “Dirga, sekarang kamu kembali ke kelas. Ayah mau bicara kepada pemulung ini”
            Tanpa berkata-kata Dirga langsung meninggalkan Naryo dan ayahnya.
            Naryo semakin tertunduk tak berdaya. Keringatnya bercucuran mengguyur tubuh kurusnya. Dia takut kalau akan dimarahi habis-habisan oleh ayahnya Dirga.
            “Heh pemulung kecil. Kamu itu tidak pantas untuk berteman dengan Dirga anak saya. Lihat diri kamu yang dekil ini sementara Dirga selalu rapi dan terlihat berkelas. Saya tidak mau kehadiran kamu akan merusak masa depan anak saya satu-satunya. Dan kalau sampai saya mendengar Dirga berkelahi lagi hanya karena membela kamu maka saya akan pastikan kalau hidup kamu seperti di neraka”
            Setelah menyelesaikan omongannya, ayah Dirga langsung meninggalkan Naryo yang masih ketakutan. Naryo tak kuasa menahan air matanya dan ia terisak menangis. Naryo menangis bukan karena takut akan ancaman ayah Dirga, dia menangis karena teringat ibunya yang sudah bersusah payah untuk menyekolahkannya tetapi di sekolah dia malah sering membuat kekacauan.
            Setelah kejadian itu Naryo selalu berusaha menghindar dari Dirga. Naryo tidak mau kalau Dirga sampai berkelahi hanya karena dirinya. Namun semakin Naryo menghindar Dirga malah semakin mendekati Naryo. Meskipun Naryo berpura-pura marah kepada Dirga supaya Dirga menjauh namun Dirga tidak putus asa. Tetap saja Dirga bersikeras untuk masih menjadi sahabat Naryo.
            “Nar, kamu masih marah sama aku gara-gara ayah waktu itu ya? Kalau iya aku minta maaf”.
            “Bukan, bukan karena itu. Tapi karena aku tahu kalau kamu itu hanya berpura-pura mau berteman denganku, aku tahu kalau sebenarnya kamu itu sama seperti mereka yang ingin memanfaatkan kebodohan orang miskin sepertiku”.
            Kata-kata Naryo bagaikan petir di tengah padang pasir bagi Dirga. Dirga sama sekali tidak menyangka bahwa sahabat yang selama ini sudah dibelanya mati-matian tega mengatakan itu. Begitupun bagi Naryo. Naryo yang tidak terbiasa berbohong kali ini harus berbohong untuk memperbaiki keadaan.
            Lama-kelamaan hubungan Naryo dan Dirga merenggang. Di satu sisi Naryo merasa lega karena menurutnya ini akan lebih baik, tapi di sisi lain dia juga sedih karena kehilangan sahabat terbaiknya. Naryo berjanji dalam hati untuk suatu saat nanti meceritakan semua ini kepada Dirga. Suatu saat nanti.
            Hari yang menyedihkan kembali harus menghampiri Naryo. Ibunya menjadi sakit-sakitan dan Naryo tidak bisa lagi membayar uang sekolah yang akhirnya dia harus dikeluarkan. Dirga merasa sedih atas kejadian yang menimpa Naryo tapi dia tidak bisa berbuat banyak karena pastilah Naryo akan menolak bantuannya.
            Naryo terpaksa kembali memulung. Dia berusaha mengumpulkan uang untuk berobat ibunya. Namun sekeras apapun usahanya toh uang itu tak kunjung terkumpul. Setiap harinya Naryo harus mengeluarkan uang untuk makan dirinya dan ibunya. Naryo sudah meminimalkan jatah makannya tapi hasilnya tetap nihil. Uang yang dicarinya dengan susah payah tak pernah cukup untuk membeli obat.
            Berbagai cobaan datang silih berganti menghampiri Naryo. Orang-orang di sekitarnya selalu menganggap dirinya rendah. Naryo berusaha tegar menghadapi semua itu. Dia rela mengorek-ngorek bak sampah untuk mendapatkan sisa nasi demi perutnya. Naryo selalu memegang teguh nasihat ibunya untuk berbuat jujur. Tak pernah terlintas sedikitpun di benak Naryo untuk menjadi seorang pencuri ataupun pencopet yang selama ini sering dilakukan teman-teman jalanannya.
            Suatu hari saat ia mengorek-ngorek bak sampah di dekat restoran cepat saji dia kembali bertemu dengan Dirga.
            “Hai Nar”.
            Kehadiran Dirga sedikit mengagetkan Naryo.
            “Dirga? Ada apa? Kok kamu ada di sini?”
            “Sssttt… Jangan keras-keras, ayah dan ibuku ada di dalam restoran. Kamu lagi cari makanan ya?”
            Naryo tidak menjawab pertanyaan Dirga dan malah melanjutukan mengorek-ngorek bak sampah. Dirga mengerti kalau kehadirannya tidak begitu disukai Naryo. Tapi hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk membantu Naryo. Dia segera mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya dan membuangnya ke dalam bak sampah.
            “Nar, aku mau bantuin kamu. Kalau kamu tidak mau terima uang dari aku anggap saja uang itu sampah yang sengaja dibuang orang dan jika kamu yang menemukannya itu artinya sudah menjadi hak kamu”. Dirga tidak menunggu jawaban dari Naryo dan langsung masuk kembali ke dalam restoran.
            Naryo masih terdiam melihat uang Dirga itu. Tapi dia berpikir bahwa uang itu bisa ia gunakan untuk membeli obat ibunya. Setelah beberapa saat dia berpikir akhirnya Naryo memutuskan untuk mengambil uang itu.
            Berkali-kali Dirga sengaja mencari Naryo di jalanan untuk membantu kehidupannya. Dan kini Naryo juga sudah membuka hati untuk bersahabat kembali dengan Dirga. Namun ternyata perbuatan Dirga itu diketahui ayahnya. Ayah Dirga tidak mau tinggal diam dengan semua ini. Dia mencari cara untuk menyingkirkan Naryo dari kehidupan Dirga selama-lamanya.
            Saat ayah Dirga makan di Restoran Padang dia melihat Naryo mau memungut botol plastik yang ada di pintu masuk restoran itu. Terlintas dalam pikiran ayah Dirga untuk memberi pelajaran pada Naryo.
            “Maling… Itu ada maling”. Ayah Dirga menunjuk ke arah Naryo yang sedang memungut botol bekas dan sontak membuat semua orang berlari ke arah Naryo dan bersiap untuk menghakimi Naryo. Naryo tidak berdaya menjadi bulan-bulanan orang. Ibunya yang kebetulan berada di sekitar tempat itu mendapat laporan dari salah seorang anak jalanan bahwa Naryo sedang dipukuli masa langsung berlari untuk menyelamatkan Naryo.
            “Naryo…”. Tanpa pikir panjang ibu Naryo menelusup diantara kerumunan orang dan… “dug!!!”. Sebuah hantaman keras tanpa sengaja mengenai kepala ibu Naryo yang langsung membuat ibu Naryo terdiam tak sadarkan diri.
            Kejadian itu membuat semua orang meninggalkan lokasi dan membiarkan Naryo kecil yang berlumuran darah menangisi ibunya.
            “Ibu…”. Naryo berteriak sekuat tenaga memanggil ibunya. Dia menggerak-gerakkan tubuh ibunya dan berharap ibunya mau membuka mata. Setelah beberapa saat Naryo baru menyadari bahwa ibunya telah meninggal.
            Kini Naryo menjadi frustasi atas kematian ibunya. Dia bersumpah dalam hati untuk membalas kematian ibunya kepada keluarga Dirga.
            Namun sepertinya Allah tidak memberikan jalan bagi Naryo untuk balas dendam. Beberapa bulan setelah kejadian itu Naryo diangkat anak oleh pasangan muda yang memang divonis dokter tidak akan pernah bisa mempunyai anak. Naryo diajak pindah ke luar kota dan dia tidak pernah lagi bertemu dengan Dirga dan keluarganya. Akhirnya dia bisa mengikhlaskan kematian ibunya dan menganggap semua ini bagian dari takdir hidup yang harus dijalaninya. Meskipun dia dan ibunya telah menjadi jiwa-jiwa tersakiti namun Naryo tetap memaafkan semua kesalahan ayah Dirga dan mendo’akan Dirga. Bagaimanapun juga Dirga selalu menyayanginya.
            Naryo tergagap dari lamunannya ketika ada anak-anak jalanan yang lewat sambil mendendangkan sebuah lagu. Kini Naryo bukan Naryo yang dulu. Bukan lagi menjadi Naryo yang kurus dan dekil. Kini Naryo menjadi seorang pengusaha muda sukses yang bergerak di bidang konveksi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar