Jiwa-Jiwa Tersakiti
Nur Ernawati
“Kamu itu ya, berkali-kali saya
bilang jangan ke sini lagi. Pelanggan saya itu jadi nggak nafsu makan kalau
melihat gembel seperti kamu”, bentak Yu Juminten kepada seorang pengemis yang
terlihat sangat dekil.
Melihat kejadian itu Naryo menjadi
tergerak hatinya untuk membela pengemis tua itu. Ia meninggalkan gudeg yang
disantapnya dan menghampiri pengemis yang masih dimaki-maki Yu Juminten.
“Maaf Yu Juminten, beri saja dia
sebungkus gudeg dengan lauknya lengkap. Nanti saya yang akan bayar semuanya”.
“Tapi Mas Naryo…”
“Saya kan tadi bilang dibungkus,
jadi dia tidak akan duduk di warung Yu Jum ini kan?”
“Baik kalau begitu mas”
“Terimakasih tuan. Semoga kebaikan
tuan mendapat imbalan yang berlipat-lipat dari Allah”. Pengemis tua itu
mendo’akan Naryo dengan sedikit berkaca-kaca.
“Amin.
Terimakasih atas do’anya pak”
“Ini Mas Naryo gudegnya”. Yu
Juminten sudah selesai membungkus gudeg.
“Kok dikasih ke saya? Saya tadi kan
bilang untuk bapak ini”. Naryo sengaja mengatakan itu kepada Yu Jum agar Yu Jum
mau memberikan langsung gudeg itu kepada pengemis. Naryo ingin mengajarkan
kepada Yu Jum bahwa semua makhluk di dunia ini sama dan tidak boleh dipandang
rendah hanya karena status sosial.
Dengan raut muka sedikit kesal akhirnya
Yu Jum mau memberikan gudeg itu secara langsung. “Ini gudegnya pak tua”
“Terimakasih bu, semoga Allah juga
membalas kebaikan ibu”
“Amin”
Setelah pengemis tua itu pergi Naryo
kembali ke tempat duduknya semula untuk menghabiskan gudeg miliknya. Sambil
mengunyah gudeg Yu Jum ingatan Naryo seperti dilempar kembali kepada kejadian
lima belas tahun silam saat kemiskinan merenggut nyawa ibunya.
Naryo yang saat itu berusia sepuluh
tahun harus kehilangan satu-satunya orang yang ia miliki dan cintai saat itu.
Orang itu adalah ibunya sendiri. Dan yang lebih memukul batinnya adalah sikap
orang-orang di sekitarnya. Saat Naryo berlari kesana-kemari untuk meminta
bantuan karena ibunya meninggal tidak ada seorangpun yang mau menolongnya.
Naryo kecil tidak mau putus asa sampai di situ. Dengan tubuhnya yang kurus
kering karena kemiskinan Naryo menyeret jasad ibunya menuju pinggir rel kereta
api yang agak jauh dari keramaian. Naryo berpikir akan menguburkan jenazah
ibunya di tempat itu yang tidak banyak diketahui orang.
Sumber dari semua petaka itu adalah
persahabatan. Naryo yang hanya seorang pemulung menjalin persahabatan dengan
Dirga, anak seorang anggota brimob yang kaya. Dengan penghasilan ayahnya
sebagai anggota brimob dan ibunya yang memiliki sebuah pabrik roti Dirga mampu
memiliki semuanya. Apalagi Dirga adalah anak tunggal. Meski Dirga bisa
mendapatkan semuanya namun dia bukan anak yang sombong dan membeda-bedakan
teman.
Pertemuan Dirga dan Naryo dimulai di
sekolah dasar. Naryo yang miskin selalu dicemooh teman-temannya dan saat itulah
Dirga selalu datang dan membela Naryo. Bahkan Dirga tak segan untuk berkelahi
dengan temannya hanya untuk membela Naryo. Sampai akhirnya orangtua Dirga harus
dipanggil ke sekolah karena perkelahiannya sudah sampai tiga kali. Ayah Dirga
sangat marah kepada Naryo karena menganggap kalau Naryo membawa pengaruh buruk
kepada Dirga.
“Heh, kamu anak miskin.
Berani-beraninya kamu mempengaruhi Dirga untuk berkelahi. Dasar anak tidak tahu
aturan”. Ayah Dirga tampak marah sekali kepada Naryo. Dia memarahi Naryo dengan
setengah berteriak seperti mau memakan Naryo.
Mendengar amarah ayah Dirga, Naryo
hanya tertunduk. Perasaanya sangat takut. Dirga juga tidak tinggal diam melihat
kejadian itu. Dengan sekuat tenaga ia berusaha membela Naryo sahabatnya itu.
“Ayah, ini semua bukan salah Naryo.
Ini semua salah mereka. Mereka terlalu kejam dengan selalu mengejek Naryo.
Naryo tidak salah!”
Pembelaan Dirga seperti membuat
Naryo merasa menjadi pengecut. Dirga saja mau membelanya tapi mengapa dia hanya
diam saja? Itulah perasaan Naryo.
“Dirga! Kamu sekarang berani melawan
ayah?” Amarah ayah Dirga semakin memuncak.
“Maafkan Dirga, yah”. Dirga juga
tertunduk seperti Naryo melihat amarah ayahnya.
“Dirga, sekarang kamu kembali ke
kelas. Ayah mau bicara kepada pemulung ini”
Tanpa berkata-kata Dirga langsung
meninggalkan Naryo dan ayahnya.
Naryo semakin tertunduk tak berdaya.
Keringatnya bercucuran mengguyur tubuh kurusnya. Dia takut kalau akan dimarahi
habis-habisan oleh ayahnya Dirga.
“Heh pemulung kecil. Kamu itu tidak
pantas untuk berteman dengan Dirga anak saya. Lihat diri kamu yang dekil ini
sementara Dirga selalu rapi dan terlihat berkelas. Saya tidak mau kehadiran
kamu akan merusak masa depan anak saya satu-satunya. Dan kalau sampai saya mendengar
Dirga berkelahi lagi hanya karena membela kamu maka saya akan pastikan kalau
hidup kamu seperti di neraka”
Setelah menyelesaikan omongannya,
ayah Dirga langsung meninggalkan Naryo yang masih ketakutan. Naryo tak kuasa
menahan air matanya dan ia terisak menangis. Naryo menangis bukan karena takut
akan ancaman ayah Dirga, dia menangis karena teringat ibunya yang sudah
bersusah payah untuk menyekolahkannya tetapi di sekolah dia malah sering
membuat kekacauan.
Setelah kejadian itu Naryo selalu
berusaha menghindar dari Dirga. Naryo tidak mau kalau Dirga sampai berkelahi
hanya karena dirinya. Namun semakin Naryo menghindar Dirga malah semakin
mendekati Naryo. Meskipun Naryo berpura-pura marah kepada Dirga supaya Dirga
menjauh namun Dirga tidak putus asa. Tetap saja Dirga bersikeras untuk masih
menjadi sahabat Naryo.
“Nar, kamu masih marah sama aku
gara-gara ayah waktu itu ya? Kalau iya aku minta maaf”.
“Bukan, bukan karena itu. Tapi
karena aku tahu kalau kamu itu hanya berpura-pura mau berteman denganku, aku
tahu kalau sebenarnya kamu itu sama seperti mereka yang ingin memanfaatkan
kebodohan orang miskin sepertiku”.
Kata-kata Naryo bagaikan petir di
tengah padang pasir bagi Dirga. Dirga sama sekali tidak menyangka bahwa sahabat
yang selama ini sudah dibelanya mati-matian tega mengatakan itu. Begitupun bagi
Naryo. Naryo yang tidak terbiasa berbohong kali ini harus berbohong untuk
memperbaiki keadaan.
Lama-kelamaan hubungan Naryo dan
Dirga merenggang. Di satu sisi Naryo merasa lega karena menurutnya ini akan lebih
baik, tapi di sisi lain dia juga sedih karena kehilangan sahabat terbaiknya.
Naryo berjanji dalam hati untuk suatu saat nanti meceritakan semua ini kepada
Dirga. Suatu saat nanti.
Hari yang menyedihkan kembali harus
menghampiri Naryo. Ibunya menjadi sakit-sakitan dan Naryo tidak bisa lagi
membayar uang sekolah yang akhirnya dia harus dikeluarkan. Dirga merasa sedih
atas kejadian yang menimpa Naryo tapi dia tidak bisa berbuat banyak karena
pastilah Naryo akan menolak bantuannya.
Naryo terpaksa kembali memulung. Dia
berusaha mengumpulkan uang untuk berobat ibunya. Namun sekeras apapun usahanya
toh uang itu tak kunjung terkumpul. Setiap harinya Naryo harus mengeluarkan
uang untuk makan dirinya dan ibunya. Naryo sudah meminimalkan jatah makannya
tapi hasilnya tetap nihil. Uang yang dicarinya dengan susah payah tak pernah
cukup untuk membeli obat.
Berbagai cobaan datang silih
berganti menghampiri Naryo. Orang-orang di sekitarnya selalu menganggap dirinya
rendah. Naryo berusaha tegar menghadapi semua itu. Dia rela mengorek-ngorek bak
sampah untuk mendapatkan sisa nasi demi perutnya. Naryo selalu memegang teguh
nasihat ibunya untuk berbuat jujur. Tak pernah terlintas sedikitpun di benak
Naryo untuk menjadi seorang pencuri ataupun pencopet yang selama ini sering
dilakukan teman-teman jalanannya.
Suatu hari saat ia mengorek-ngorek
bak sampah di dekat restoran cepat saji dia kembali bertemu dengan Dirga.
“Hai Nar”.
Kehadiran Dirga sedikit mengagetkan
Naryo.
“Dirga? Ada apa? Kok kamu ada di
sini?”
“Sssttt… Jangan keras-keras, ayah
dan ibuku ada di dalam restoran. Kamu lagi cari makanan ya?”
Naryo tidak menjawab pertanyaan
Dirga dan malah melanjutukan mengorek-ngorek bak sampah. Dirga mengerti kalau
kehadirannya tidak begitu disukai Naryo. Tapi hal itu tidak menyurutkan niatnya
untuk membantu Naryo. Dia segera mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya dan
membuangnya ke dalam bak sampah.
“Nar, aku mau bantuin kamu. Kalau
kamu tidak mau terima uang dari aku anggap saja uang itu sampah yang sengaja
dibuang orang dan jika kamu yang menemukannya itu artinya sudah menjadi hak
kamu”. Dirga tidak menunggu jawaban dari Naryo dan langsung masuk kembali ke
dalam restoran.
Naryo masih terdiam melihat uang
Dirga itu. Tapi dia berpikir bahwa uang itu bisa ia gunakan untuk membeli obat
ibunya. Setelah beberapa saat dia berpikir akhirnya Naryo memutuskan untuk
mengambil uang itu.
Berkali-kali Dirga sengaja mencari
Naryo di jalanan untuk membantu kehidupannya. Dan kini Naryo juga sudah membuka
hati untuk bersahabat kembali dengan Dirga. Namun ternyata perbuatan Dirga itu
diketahui ayahnya. Ayah Dirga tidak mau tinggal diam dengan semua ini. Dia
mencari cara untuk menyingkirkan Naryo dari kehidupan Dirga selama-lamanya.
Saat ayah Dirga makan di Restoran
Padang dia melihat Naryo mau memungut botol plastik yang ada di pintu masuk
restoran itu. Terlintas dalam pikiran ayah Dirga untuk memberi pelajaran pada
Naryo.
“Maling… Itu ada maling”. Ayah Dirga
menunjuk ke arah Naryo yang sedang memungut botol bekas dan sontak membuat
semua orang berlari ke arah Naryo dan bersiap untuk menghakimi Naryo. Naryo
tidak berdaya menjadi bulan-bulanan orang. Ibunya yang kebetulan berada di
sekitar tempat itu mendapat laporan dari salah seorang anak jalanan bahwa Naryo
sedang dipukuli masa langsung berlari untuk menyelamatkan Naryo.
“Naryo…”. Tanpa pikir panjang ibu
Naryo menelusup diantara kerumunan orang dan… “dug!!!”. Sebuah hantaman keras
tanpa sengaja mengenai kepala ibu Naryo yang langsung membuat ibu Naryo terdiam
tak sadarkan diri.
Kejadian itu membuat semua orang
meninggalkan lokasi dan membiarkan Naryo kecil yang berlumuran darah menangisi
ibunya.
“Ibu…”. Naryo berteriak sekuat
tenaga memanggil ibunya. Dia menggerak-gerakkan tubuh ibunya dan berharap
ibunya mau membuka mata. Setelah beberapa saat Naryo baru menyadari bahwa
ibunya telah meninggal.
Kini Naryo menjadi frustasi atas
kematian ibunya. Dia bersumpah dalam hati untuk membalas kematian ibunya kepada
keluarga Dirga.
Namun sepertinya Allah tidak
memberikan jalan bagi Naryo untuk balas dendam. Beberapa bulan setelah kejadian
itu Naryo diangkat anak oleh pasangan muda yang memang divonis dokter tidak
akan pernah bisa mempunyai anak. Naryo diajak pindah ke luar kota dan dia tidak
pernah lagi bertemu dengan Dirga dan keluarganya. Akhirnya dia bisa
mengikhlaskan kematian ibunya dan menganggap semua ini bagian dari takdir hidup
yang harus dijalaninya. Meskipun dia dan ibunya telah menjadi jiwa-jiwa
tersakiti namun Naryo tetap memaafkan semua kesalahan ayah Dirga dan mendo’akan
Dirga. Bagaimanapun juga Dirga selalu menyayanginya.
Naryo tergagap dari lamunannya
ketika ada anak-anak jalanan yang lewat sambil mendendangkan sebuah lagu. Kini Naryo
bukan Naryo yang dulu. Bukan lagi menjadi Naryo yang kurus dan dekil. Kini
Naryo menjadi seorang pengusaha muda sukses yang bergerak di bidang konveksi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar