Pak Presiden, Help
Me!
Nur Ernawati
“Den, nanti pulang sekolah cabut
yuk”.
“Haduh Ta, kamu itu kayak nggak tahu
aku saja. Schedule pulang sekolah itu
harus merumput buat si jenggot. Kalau dia lapar itu bisa ngamuk”.
“Halah… Si jenggot terus yang ada di
pikiranmu. Pantas cewek-cewek pada anti sama kamu. Lha kamu dikira pacarnya si
jenggot”.
“Weiss… Jangan salah. Gini-gini aku
itu punya banyak penggemar. Aku saja yang nggak sombong kayak kamu. Dikit-dikit
minta kenalan, minta nomer hp. Has… Basi itu. Mentang-mentang namanya bagus,
Arta Yudhistira. Iya to?”
“Iya sih iya Den, tapi kamu itu
ngomong kayak gitu ke aku sudah tujuh kali ini”.
“Iya po?”
“Ya iyalah”.
Deni dan Arta yang saat ini sedang
duduk di bangku SMA memang sepasang sahabat yang bagaikan dua sejoli tak
terpisahkan. Mereka sudah bersahabat sejak lahir karena rumah mereka berdekatan
alias bertetangga. Meskipun Arta bukan dari keluarga yang sangat berada namun
ia sedikit lebih beruntung dari Deni. Deni mempunyai segudang kegiatan untuk
sedikit membantu meringankan beban orang tuanya yang bekerja sebagai buruh
bangunan dan tukang cuci. Deni harus merumput untuk si jenggot, menyetrika
pakaian orang, dan berkebun di samping rumahnya. Sementara Arta yang kedua
orangtuanya berprofesi sebagai guru hanya tinggal ongkang-ongkang kaki di rumah.
“Lho Ta, kok kamu ada di sini? Sejak
kapan?”. Deni merasa kaget karena Arta sudah berada di teras rumahnya saat dia
mau merumput.
“Sejak tadi subuh”.
“Aku kan sudah bilang kalau aku
nggak bisa menemani kamu pergi”.
“GR
banget, siapa juga yang mau ngajak pergi. Aku ke sini karena di rumah nggak ada
teman dan aku mau ikut kamu merumput”.
“Oh… Ya sudah, ini karungnya kamu
yang bawa”.
Akhirnya Deni dan Arta menyusuri
jalan setapak untuk menuju sawah di balik bukit kecil di desanya. Di sana
memang tersedia banyak rumput yang subur dan hijau. Di tengah perjalanan
terjadi sedikit obrolan kecil di antara sahabat ini.
“Den, kamu itu nggak mau punya pacar
ya?”
“Ya sebenarnya mau Ta, tapi aku ini
kan orang miskin. Mana bisa aku memenuhi semua keinginan pacar aku nanti. Aku
pacarannya besok saja kalau sudah lulus kuliah dan bekerja”.
Mendengar jawaban Deni tiba-tiba
Arta berbalik ke arah Deni yang ada di belakangnya dengan menari-nari tidak
jelas.
“Are you sure? Ya Allah terimakasih telah
engkau bukakan mata hati temanku ini. Gitu dong, Den. Kamu itu memang harus
kuliah. Kamu harus mengejar cita-cita kamu setinggi langit. Yeah…”
“Iya, tapi kalau
kamu tidak segera jalan nanti kita kesorean dan si jenggot akan marah”.
“Ah kamu itu
Den, nggak seru. Aku kan lagi bahagia ternyata sahabatku yang satu ini sudah
mempunyai visi dan misi yang benar”.
Tiba-tiba Deni
langsung meninggalkan Arta yang masih kegirangan dengan dirinya sendiri.
“Lho Den, kok
aku ditinggal. Tunggu Den”.
Deni terus
berjalan tanpa menoleh lagi ke arah Arta. Arta merasa sangat bahagia karena
Deni sudah mengganti keputusannya yang semula tidak ingin kuliah akhirnya
menjadi ingin kuliah. Di tengah perjalanan Arta terus berjingkrak-jingkrak
karena terlalu bahagia seperti orang gila.
Sesampainya di
pinggir sawah Deni langsung berjongkok untuk merumput sementara Arta berteduh
di sebuah gubuk kecil menunggu Deni. Baru lima menit Arta duduk hp-nya sudah
berbunyi. Dia membuka sebuah pesan singkat yang ternyata dari pacarnya, Dewi.
|
Yank,aq
k rumahmu skrng
|
“Waduh, aku
harus pulang sekarang”, Arta berkata pada dirinya sendiri.
Arta segera
berjalan ke tempat Deni merumput dan ijin pulang terlebih dahulu.
“Den, aku pulang
dulu ya”.
“Mau ke mana
Ta?”
“Dewi mau
datang”.
“Oh… Pacar kamu
yang ke enam itu ya”.
“Iya”.
Hal ini juga
menjadi salah satu perbedaan Deni dan Arta. Arta sering berganti-ganti pacar
alias playboy sementara Deni sama
sekali belum pernah pacaran selama hidupnya.
Setelah merasa
rumputnya sudah cukup membuat si jenggot kenyang akhirnya Deni memutuskan untuk
pulang. Ketika melewati rumah Arta, Deni melihat Arta dan Dewi sedang bercanda.
Sebenarnya dulu Deni pernah berharap kalau suatu saat nanti ia bisa berpacaran
dengan Dewi bahkan sampai menjadi suaminya Dewi. Tapi sekarang ternyata wanita
pujaannya itu menjadi kekasih sahabatnya. Deni tidak bisa berbuat banyak karena
memang Arta yang lebih pantas untuk bersanding dengan Dewi.
“Den, mampir
sini”. Arta menyapa sahabatnya itu.
“Iya Den,
ngobrol dulu sini”. Dewi ikut menimpali.
“Jenggot sudah
nunggu itu, aku harus cepat pulang”. Deni cukup sadar diri untuk tidak
menggangu acara pacaran Arta dan Dewi.
Malam pun tiba.
Deni duduk di teras rumahnya sambil melihat jutaan bintang yang bertaburan di
angkasa. Dia mencoba menyelami batinnya sendiri tentang masa depannya. Deni
ingin keluar dari jerat kemiskinan ini. Dia ingin membahagiakan orangtua dan
adik semata wayangnya. Sebenarnya dari dulu Deni bercita-cita ingin menjadi
dokter namun kini ia merasa bahwa semua itu terlalu mustahil untuk dirinya.
Dari mana dia bisa mendapatkan uang puluhan bahkan ratusan juta hanya untuk
kuliah di kedokteran.
“Woy Den”. Arta
berteriak dari teras rumahnya karena melihat Deni melamun.
“Jangan
teriak-teriak Ta, ini sudah malam”.
Arta segera
menghampiri Deni dan duduk di sebelahnya.
“Bintang itu
kalau mau kamu hitung sampai lebaran gajah juga nggak akan selesai”.
Deni hanya
terdiam tanpa menoleh ke arah Arta sedikitpun. Sebenarnya kehadiran Arta cukup
menjadi sedikit gangguan baginya.
“Kamu itu kenapa
Den? Jangan drama, kayak perempuan aja”.
“Siapa yang
drama sih Ta? Aku cuma lagi mikir tentang kehidupanku”.
“Den, hidup ini for fun. Nikmati aja, jangan dijadikan
beban”.
“Kamu bisa
bicara seperti itu karena kamu nggak berada di posisiku. Kamu bisa mendapatkan
apa saja yang kamu mau sementara aku tidak. Sebentar lagi bapak dan ibuku akan
tua dan itu artinya aku akan menjadi tulang punggung keluarga. Kalau orangtua
kamu kan sampai mereka tua juga masih tetap dapat gaji”.
“Den…”
“Nggak apa-apa
Ta, nggak usah minta maaf. Aku bisa maklum kok kamu bicara seperti itu”.
Beberapa saat
Deni dan Arta terdiam sampai akhirnya Deni kembali membuka percakapan.
“Aku itu ingin
masuk kedokteran Ta, tapi itu kan mustahil kalau aku nggak punya banyak uang”.
“Tapi kamu itu
pintar Den, kamu bisa kok dapat beasiswa”.
“Iya aku memang
lebih pintar dari kamu, tapi di luar sana kan lebih banyak orang yang tidak
hanya sekedar pintar, mereka luar biasa”.
“Sedih sih sedih
Den, tapi nggak usah pakai acara menghina seperti itu”.
“Hahaha…”. Deni
tertawa sendiri melihat ekspresi jengkel dari Arta.
“Tapi omongan
kamu ada benarnya juga sih Den. Sekarang itu memang kuliah terkesan hanya untuk
orang-orang berduit. Kasihan mereka yang mampu otaknya tapi nggak punya
kesempatan itu”.
“Ya seperti aku
ini. Rasanya aku itu ingin membuat buku yang bisa dibaca dan dilihat semua
orang dengan judul “Pak Presiden, Help Me!”.
Aku ingin kalau presiden itu tahu masih ada rakyatnya yang seperti aku ini.
Kalau presiden, menteri-menteri, dang anggota DPR kita itu mau turun ke jalan
dan hidup di antara orang-orang miskin aku yakin negara kita bebas dari korupsi.
Tapi semua terlalu mustahil karena pejabat kita itu mayoritas berasal dari
keluarga berada yang belum pernah merasakan kekurangan sehingga mereka menutup
hati dan mata untuk mendengar dan melihat rintihan orang-orang miskin. Atau
kalau para pejabat itu pernah merasakan kemiskinan namun mereka tidak punya
iman maka sama saja mereka akan korupsi karena takut kembali merasakan
kemiskinan. Pencuri ayam saja dihakimi masa sampai mau mati, tapi para maling
negara itu dilindungi polisi. Lihat saja itu di tivi-tivi, wartawan mau
mendekat saja sudah dihadang oleh polisi. Apa ini yang dinamakan keadilan?”
Deni menoleh ke
arah Arta yang ternyata dari tadi Arta memperhatikan cara bicara serta inti
pembicaraan Deni dengan seksama.
“Ta, kamu
ngapain sih kayak gitu”.
Prok…prok…prok…
Arta memberi tepuk tangan atas apa yang disampaikan Deni, menurutnya kata-kata
Deni lebih dahsyat dari halilintar.
“Aku nggak nyangka
Den, ternyata kamu mempunyai bakat terpendam untuk menjadi seorang penyair”.
“Ta, aku
serius”.
“Aku juga serius
Den. Aku punya ide, gimana kalau kamu benar-benar membuat tulisan tentang Pak
Presiden kamu itu. Nanti kita coba kirim ke penerbit, siapa tahu diterima.
Gimana?”
Deni tidak
langsung menjawab pertanyaan Arta. Dia bingung menanggapi ide Arta yang
menurutnya sedikit gila itu.
“Kamu itu ya
Den, hidup kebanyakan mikir. Kamu pakai saja laptopku untuk menyusun kata-kata
dahsyat kamu itu”.
Akhirnya Deni
menuruti ide Arta meskipun dia sendiri belum begitu yakin bahwa cara ini akan
berhasil menggambarkan perasaanya sebagai orang kecil.
Enam bulan sudah
waktu berlalu dan selama itu pula Deni berusaha menyelesaikan tulisannya. Namun
perjuangan Deni dan Arta tak cukup sampai di situ. Mencari penerbit yang mau
untuk menerbitkan tulisan Deni ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan.
Beberapa kali permintaan penerbitan itu ditolak dengan berbagai alasan dan
alasan yang kebanyakan diungkapkan adalah takut kalau buku ini nantinya akan
menjadi kontroversi yang akhirnya menyeret penerbit ke meja hijau. Tapi Deni
dan Arta tidak menyerah sampai di situ bahkan Arta mencoba mencari penerbit
luar kota melalui internet yang mau menerbitkan tulisan Deni. Sampai akhirnya
ada sebuah penerbit yang dengan senang hati mau menerbitkan tulisan Deni.
Meskipun penerbit itu belum mempunyai nama besar tapi Deni dan Arta yakin kalau
ini akan menjadi karya yang fenomenal.
Enam bulan
setelah terbitnya buku ini kehidupan Deni menjadi berbalik seratus delapan
puluh derajat. Buku itu menjadi fenomenal dan mencapai angka penjualan yang
fantastis. Bukan hanya kalangan masyarakat saja yang membacanya namun kalangan
atas juga tak mau ketinggalan. Berkat “Pak Presiden, Help Me!” kini Deni bisa mewujudkan cita-citanya kuliah di
kedokteran. Karya Deni juga tidak berhenti sampai di situ, dia kini menjadi dokter
sekaligus penulis yang sebagian besar karyanya secara tegas menyoroti permasalahan
pemerintah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar