Selasa, 10 Desember 2013

Pak Presiden, Help Me!


Pak Presiden, Help Me!
Nur Ernawati

            “Den, nanti pulang sekolah cabut yuk”.
            “Haduh Ta, kamu itu kayak nggak tahu aku saja. Schedule pulang sekolah itu harus merumput buat si jenggot. Kalau dia lapar itu bisa ngamuk”.
            “Halah… Si jenggot terus yang ada di pikiranmu. Pantas cewek-cewek pada anti sama kamu. Lha kamu dikira pacarnya si jenggot”.
            “Weiss… Jangan salah. Gini-gini aku itu punya banyak penggemar. Aku saja yang nggak sombong kayak kamu. Dikit-dikit minta kenalan, minta nomer hp. Has… Basi itu. Mentang-mentang namanya bagus, Arta Yudhistira. Iya to?”
            “Iya sih iya Den, tapi kamu itu ngomong kayak gitu ke aku sudah tujuh kali ini”.
            “Iya po?”
            “Ya iyalah”.
            Deni dan Arta yang saat ini sedang duduk di bangku SMA memang sepasang sahabat yang bagaikan dua sejoli tak terpisahkan. Mereka sudah bersahabat sejak lahir karena rumah mereka berdekatan alias bertetangga. Meskipun Arta bukan dari keluarga yang sangat berada namun ia sedikit lebih beruntung dari Deni. Deni mempunyai segudang kegiatan untuk sedikit membantu meringankan beban orang tuanya yang bekerja sebagai buruh bangunan dan tukang cuci. Deni harus merumput untuk si jenggot, menyetrika pakaian orang, dan berkebun di samping rumahnya. Sementara Arta yang kedua orangtuanya berprofesi sebagai guru hanya tinggal ongkang-ongkang kaki di rumah.
            “Lho Ta, kok kamu ada di sini? Sejak kapan?”. Deni merasa kaget karena Arta sudah berada di teras rumahnya saat dia mau merumput.
            “Sejak tadi subuh”.
            “Aku kan sudah bilang kalau aku nggak bisa menemani kamu pergi”.
            GR banget, siapa juga yang mau ngajak pergi. Aku ke sini karena di rumah nggak ada teman dan aku mau ikut kamu merumput”.
            “Oh… Ya sudah, ini karungnya kamu yang bawa”.
            Akhirnya Deni dan Arta menyusuri jalan setapak untuk menuju sawah di balik bukit kecil di desanya. Di sana memang tersedia banyak rumput yang subur dan hijau. Di tengah perjalanan terjadi sedikit obrolan kecil di antara sahabat ini.
            “Den, kamu itu nggak mau punya pacar ya?”
            “Ya sebenarnya mau Ta, tapi aku ini kan orang miskin. Mana bisa aku memenuhi semua keinginan pacar aku nanti. Aku pacarannya besok saja kalau sudah lulus kuliah dan bekerja”.
            Mendengar jawaban Deni tiba-tiba Arta berbalik ke arah Deni yang ada di belakangnya dengan menari-nari tidak jelas.
Are you sure? Ya Allah terimakasih telah engkau bukakan mata hati temanku ini. Gitu dong, Den. Kamu itu memang harus kuliah. Kamu harus mengejar cita-cita kamu setinggi langit. Yeah…”
“Iya, tapi kalau kamu tidak segera jalan nanti kita kesorean dan si jenggot akan marah”.
“Ah kamu itu Den, nggak seru. Aku kan lagi bahagia ternyata sahabatku yang satu ini sudah mempunyai visi dan misi yang benar”.
Tiba-tiba Deni langsung meninggalkan Arta yang masih kegirangan dengan dirinya sendiri.
“Lho Den, kok aku ditinggal. Tunggu Den”.
Deni terus berjalan tanpa menoleh lagi ke arah Arta. Arta merasa sangat bahagia karena Deni sudah mengganti keputusannya yang semula tidak ingin kuliah akhirnya menjadi ingin kuliah. Di tengah perjalanan Arta terus berjingkrak-jingkrak karena terlalu bahagia seperti orang gila.
Sesampainya di pinggir sawah Deni langsung berjongkok untuk merumput sementara Arta berteduh di sebuah gubuk kecil menunggu Deni. Baru lima menit Arta duduk hp-nya sudah berbunyi. Dia membuka sebuah pesan singkat yang ternyata dari pacarnya, Dewi.

Yank,aq k rumahmu skrng

“Waduh, aku harus pulang sekarang”, Arta berkata pada dirinya sendiri.
Arta segera berjalan ke tempat Deni merumput dan ijin pulang terlebih dahulu.
“Den, aku pulang dulu ya”.
“Mau ke mana Ta?”
“Dewi mau datang”.
“Oh… Pacar kamu yang ke enam itu ya”.
“Iya”.
Hal ini juga menjadi salah satu perbedaan Deni dan Arta. Arta sering berganti-ganti pacar alias playboy sementara Deni sama sekali belum pernah pacaran selama hidupnya.
Setelah merasa rumputnya sudah cukup membuat si jenggot kenyang akhirnya Deni memutuskan untuk pulang. Ketika melewati rumah Arta, Deni melihat Arta dan Dewi sedang bercanda. Sebenarnya dulu Deni pernah berharap kalau suatu saat nanti ia bisa berpacaran dengan Dewi bahkan sampai menjadi suaminya Dewi. Tapi sekarang ternyata wanita pujaannya itu menjadi kekasih sahabatnya. Deni tidak bisa berbuat banyak karena memang Arta yang lebih pantas untuk bersanding dengan Dewi.
“Den, mampir sini”. Arta menyapa sahabatnya itu.
“Iya Den, ngobrol dulu sini”. Dewi ikut menimpali.
“Jenggot sudah nunggu itu, aku harus cepat pulang”. Deni cukup sadar diri untuk tidak menggangu acara pacaran Arta dan Dewi.
Malam pun tiba. Deni duduk di teras rumahnya sambil melihat jutaan bintang yang bertaburan di angkasa. Dia mencoba menyelami batinnya sendiri tentang masa depannya. Deni ingin keluar dari jerat kemiskinan ini. Dia ingin membahagiakan orangtua dan adik semata wayangnya. Sebenarnya dari dulu Deni bercita-cita ingin menjadi dokter namun kini ia merasa bahwa semua itu terlalu mustahil untuk dirinya. Dari mana dia bisa mendapatkan uang puluhan bahkan ratusan juta hanya untuk kuliah di kedokteran.
“Woy Den”. Arta berteriak dari teras rumahnya karena melihat Deni melamun.
“Jangan teriak-teriak Ta, ini sudah malam”.
Arta segera menghampiri Deni dan duduk di sebelahnya.
“Bintang itu kalau mau kamu hitung sampai lebaran gajah juga nggak akan selesai”.
Deni hanya terdiam tanpa menoleh ke arah Arta sedikitpun. Sebenarnya kehadiran Arta cukup menjadi sedikit gangguan baginya.
“Kamu itu kenapa Den? Jangan drama, kayak perempuan aja”.
“Siapa yang drama sih Ta? Aku cuma lagi mikir tentang kehidupanku”.
“Den, hidup ini for fun. Nikmati aja, jangan dijadikan beban”.
“Kamu bisa bicara seperti itu karena kamu nggak berada di posisiku. Kamu bisa mendapatkan apa saja yang kamu mau sementara aku tidak. Sebentar lagi bapak dan ibuku akan tua dan itu artinya aku akan menjadi tulang punggung keluarga. Kalau orangtua kamu kan sampai mereka tua juga masih tetap dapat gaji”.
“Den…”
“Nggak apa-apa Ta, nggak usah minta maaf. Aku bisa maklum kok kamu bicara seperti itu”.
Beberapa saat Deni dan Arta terdiam sampai akhirnya Deni kembali membuka percakapan.
“Aku itu ingin masuk kedokteran Ta, tapi itu kan mustahil kalau aku nggak punya banyak uang”.
“Tapi kamu itu pintar Den, kamu bisa kok dapat beasiswa”.
“Iya aku memang lebih pintar dari kamu, tapi di luar sana kan lebih banyak orang yang tidak hanya sekedar pintar, mereka luar biasa”.
“Sedih sih sedih Den, tapi nggak usah pakai acara menghina seperti itu”.
“Hahaha…”. Deni tertawa sendiri melihat ekspresi jengkel dari Arta.
“Tapi omongan kamu ada benarnya juga sih Den. Sekarang itu memang kuliah terkesan hanya untuk orang-orang berduit. Kasihan mereka yang mampu otaknya tapi nggak punya kesempatan itu”.
“Ya seperti aku ini. Rasanya aku itu ingin membuat buku yang bisa dibaca dan dilihat semua orang dengan judul “Pak Presiden, Help Me!”. Aku ingin kalau presiden itu tahu masih ada rakyatnya yang seperti aku ini. Kalau presiden, menteri-menteri, dang anggota DPR kita itu mau turun ke jalan dan hidup di antara orang-orang miskin aku yakin negara kita bebas dari korupsi. Tapi semua terlalu mustahil karena pejabat kita itu mayoritas berasal dari keluarga berada yang belum pernah merasakan kekurangan sehingga mereka menutup hati dan mata untuk mendengar dan melihat rintihan orang-orang miskin. Atau kalau para pejabat itu pernah merasakan kemiskinan namun mereka tidak punya iman maka sama saja mereka akan korupsi karena takut kembali merasakan kemiskinan. Pencuri ayam saja dihakimi masa sampai mau mati, tapi para maling negara itu dilindungi polisi. Lihat saja itu di tivi-tivi, wartawan mau mendekat saja sudah dihadang oleh polisi. Apa ini yang dinamakan keadilan?”
Deni menoleh ke arah Arta yang ternyata dari tadi Arta memperhatikan cara bicara serta inti pembicaraan Deni dengan seksama.
“Ta, kamu ngapain sih kayak gitu”.
Prok…prok…prok… Arta memberi tepuk tangan atas apa yang disampaikan Deni, menurutnya kata-kata Deni lebih dahsyat dari halilintar.
“Aku nggak nyangka Den, ternyata kamu mempunyai bakat terpendam untuk menjadi seorang penyair”.
“Ta, aku serius”.
“Aku juga serius Den. Aku punya ide, gimana kalau kamu benar-benar membuat tulisan tentang Pak Presiden kamu itu. Nanti kita coba kirim ke penerbit, siapa tahu diterima. Gimana?”
Deni tidak langsung menjawab pertanyaan Arta. Dia bingung menanggapi ide Arta yang menurutnya sedikit gila itu.
“Kamu itu ya Den, hidup kebanyakan mikir. Kamu pakai saja laptopku untuk menyusun kata-kata dahsyat kamu itu”.
Akhirnya Deni menuruti ide Arta meskipun dia sendiri belum begitu yakin bahwa cara ini akan berhasil menggambarkan perasaanya sebagai orang kecil.
Enam bulan sudah waktu berlalu dan selama itu pula Deni berusaha menyelesaikan tulisannya. Namun perjuangan Deni dan Arta tak cukup sampai di situ. Mencari penerbit yang mau untuk menerbitkan tulisan Deni ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Beberapa kali permintaan penerbitan itu ditolak dengan berbagai alasan dan alasan yang kebanyakan diungkapkan adalah takut kalau buku ini nantinya akan menjadi kontroversi yang akhirnya menyeret penerbit ke meja hijau. Tapi Deni dan Arta tidak menyerah sampai di situ bahkan Arta mencoba mencari penerbit luar kota melalui internet yang mau menerbitkan tulisan Deni. Sampai akhirnya ada sebuah penerbit yang dengan senang hati mau menerbitkan tulisan Deni. Meskipun penerbit itu belum mempunyai nama besar tapi Deni dan Arta yakin kalau ini akan menjadi karya yang fenomenal.
Enam bulan setelah terbitnya buku ini kehidupan Deni menjadi berbalik seratus delapan puluh derajat. Buku itu menjadi fenomenal dan mencapai angka penjualan yang fantastis. Bukan hanya kalangan masyarakat saja yang membacanya namun kalangan atas juga tak mau ketinggalan. Berkat “Pak Presiden, Help Me!” kini Deni bisa mewujudkan cita-citanya kuliah di kedokteran. Karya Deni juga tidak berhenti sampai di situ, dia kini menjadi dokter sekaligus penulis yang sebagian besar karyanya secara tegas menyoroti permasalahan pemerintah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar