MAKALAH
MEDIA AUDIO
Guna
Memenuhi Tugas Matakuliah Media Pembelajaran
Pengampu
: Wahyu Kurniawati, S.Si, M.Pd.
Disusun :
1.
Siska
Aprilia (12144600123)
2.
Nur
Ernawati (12144600141)
3.
Windri
Ratna Peni (12144600157)
4.
Is
Kholifah Trisnawati (12144600158)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA
2013
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang
atas rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah Media Pembelajaran
yang berjudul Media Audio dengan baik.
Selanjutnya kami mengucapkan
terimakasih kepada ibu Wahyu Kurniatawati, S.Si selaku dosen matakuliah Media
Pembelajaran di Universitas PGRI Yogyakarta yang telah memberikan pengarahan
dan bimbingan dalam penyusunan makalah ini. Dan tak lupa pula kami ucapkan
terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah
ini.
Dalam penulisan makalah ini kami
merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi,
mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu, kritik dan saran dari
semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Yogyakarta, November 2013
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Dalam
kehidupan manusia, media audio sepertinya telah mendominasi proses komunikasi
yang kita lakukan sehari-hari. Hal ini bahkan merambah hingga ke dunia
pengajaran (instruction), dari tingkat dasar, menegah, bahkan perguruan
tinggi. Pada kegiatan pembelajaran di kelas, media-media
pembelajaran berbasis audio (suara) sangat banyak digunakan, apalagi dalam era
digital sekarang. Sangat mudah membuat, memperbanyak, dan mengaplikasikan media
pembelajaran berbasis audio ini dalam KBM di kelas. Media pembelajaran berbasis
audio digunakan terutama untuk pengajaran musik,
pembacaan sajak, atau kegiatan dokumentasi lainnya.
Pada pengajaran bahasa asing, pemanfaatan
media audio atau audiovisual adalah hal yang sangat lumrah. Rekaman audio
utamanya digunakan untuk mencontohkan bagaimana pengucapan dalam berbahasa
asing. Sudah cukup banyak program pendidikan disampaikan dalam pembelajaran
melalui rekaman audio maupun radio. Penggunaan paket-paket belajar, dalam
bentuk rekaman audio, seringkali digunakan untuk mempermudah siswa mengakses
kembali secara berulang-ulang tentang suatu materi pembelajaran. Fungsi dari Media Audio adalah sebagi alat Bantu
bagi para pendidik, karena sifatnya hanya sekedar membantu, maka dalam
pemamfaatannya memerlukan bantuan metode atau media lain, sehingga pengalaman
dan pengetahuan siap dimiliki oleh pendengar yang akan membantu
keberhasilan. Selain itu, Sudjana (2009 : 129 ) menambahkan pemanfaatan
media audio dalam pengajaran terutama digunakan dalam : pengajaran music literary (pembacaan sajak), dan
kegiatan dokumentasi, pengajaran bahasa asing, baik secara audio ataupun secara
audio visual, pengajaran melalui radio atau radio pendidikan, paket–paket untuk
berbagai jenis materi, yang memungkinkan siswa dapat melatih daya penafsirannya
dalam suatu bidang studi. Karena audio lebih bersifat rekaman, maka jika ada
sesuatu yang kurang jelas peserta didik dapat memutarnya kembali secara
berulang-ulang di mana saja dan kapan saja, sampai akhirnya peserta didik dapat
memperoleh kejelasan tentang materi yang sedang mereka pelajari.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apakah pengertian dari
media audio?
2.
Bagaimana tahapan pengembangan media audio untuk
pembelajaran di kelas?
3.
Bagaimana penggunaan
media audio dalam pengajaran, kegiatan perekaman, dan penulisan naskah audio?
4.
Apa jenis-jenis dari
media audio dalam pengajaran?
5.
Bagaimana jenis-jenis
media audio berbasis teknologi digital dalam pengajaran?
6.
Apa kelebihan dan
kekurangan media audio?
C.
Tujuan
Makalah ini bertujuan
untuk menjelaskan:
1.
Pengertian media audio.
2.
Tahapan pengembangan media audio untuk pembelajaran
di kelas.
3.
Penggunaan media audio
dalam pengajaran, kegiatan perekaman, dan penulisan naskah audio.
4.
Jenis-jenis media audio
dalam pengajaran.
5.
Jenis-jenis media audio
berbasis teknologi digital dalam pengajaran.
6.
Kelebihan dan
kekurangan media audio.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Media Audio
Proses Belajar Mengajar (PBM) di sekolah menuntut
perhatian siswa dengan tujuan mencapai hasil belajar yang maksimal. Perhatian
dalam hal ini tidak hanya sekedar mendengarkan, melainkan sudah masuk dalam
tahapan menyimak. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2003: 1066 (via Sunarti,
dkk, 2009: 22), didapati pengertian menyimak yaitu mendengarkan (memperhatikan)
baik-baik apa yang diucapkan atau dibaca orang. Dalam PBM di tingkat Sekolah
Dasar pada umumnya didominasi oleh komunikasi dua arah antara guru dan siswa.
Guru yang berperan sebagai pengirim informasi (ilmu) akan menyampaikan
informasi yang dimilikinya kepada penerima informasi (siswa). Dalam penyampaian
informasi tersebut siswa akan mendengarkan dan mencoba memahami makna dari
informasi tersebut sesuai dengan apa yang dikendaki guru. Setelah memahami isi
informasi, maka siswa akan memberikan feedback
(umpan balik). Dari umpan balik tersebut guru dapat melakukan evaluasi
tentang tingkat pemahaman siswa. Berikut ini adalah bagan tentang komunikasi
dua arah yang terjadi di dalam kelas.
Gambar 2.1 Bagan komunikasi dua arah
Pembelajaran yang bersifat auditif tentunya tidak
hanya komunikasi lisan antara guru dan siswa. Dewasa ini perkembangan media
audio dalam dunia pendidikan sudah semakin pesat, terutama media audio berbasis
teknologi. Secara pengertian (definisi), media audio dalam proses pembelajaran
merupakan suatu bahan atau media yang mengandung pesan bentuk auditif (pita
suara atau cakram suara) yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian,
dan kemauan siswa, sehingga terjadi proses belajar mengajar.
Menurut
Sadiman (via Sanaky, 2011: 94), media audio adalah segala macam bentuk media
yang berkaitan dengan indera pendengaran, termasuk dalam kelompok media audio.
Karena media audio berkaitan dengan indera pendengaran, maka pesan yang akan
disampaikan dituangkan ke dalam lambang-lambang auditif, baik verbal (kata-kata
atau bahasa lisan) maupun nonverbal.
Dari pengertian di
atas, dapat diidentifikasi perangkat media audio terdiri dari:
1. Perangkat
keras (hardware), berupa alat-alat elektronik atau alat-alat lainnya.
2. Perangkat
lunak (software) atau material audio, berupa rekaman pita suara atau radio
kaset, rekaman piringan hitam, dan naskah program siaran radio. Untuk piringan
hitam, tidak akan dibahas karena jenis media ini sudah semakin sulit dijumpai,
selain itu dalam proses pembelajaran piringan hitam jarang digunakan, karena
memang kurang praktis serta sukar pengadaannya.
B.
Tahapan
Pengembangan Media Audio untuk Pembelajaran di Kelas
Sebagaimana tahapan pengembangan media pembelajaran
yang lain, tahapan pengembangan media pembelajaran berbasis audio secara umum
juga terdiri dari 3 tahapan, yaitu:
1. Perencanaan
(Planning). Pada proses perencanaan ini, meliputi
kegiatan-kegiatan penentuan tujuan media audio, analisis sasaran dalam hal ini
siswa, penentuan materi media audio yang akan direkam, penentuan format audio,
hingga penulisan skrip (naskah) yang akan direkam.
2. Produksi
(Production). Pada proses produksi, terdiri dari
beberapa kegiatan yaitu kegiatan perekaman atau recording, sehingga seluruh program yang telah direncanakan dapat
direkam menurut format yang telah ditentukan, kemudian proses editing, hingga
proses penggandaan bila dibutuhkan.
3. Evaluasi
(Evaluation). Kegiatan tahap akhir ini mempunyai
tujuan untuk menilai suatu program atau media audio yang telah diproduksi
apakah nantinya program atau media audio tersebut perlu direvisi atau
disempurnakan lagi ataukah sudah cukup bagus untuk dimanfaatkan dalam kegiatan
belajar (KBM) di kelas.
C.
Penggunaan
Media Audio dalam Pengajaran, Kegiatan Perekaman, dan Penulisan Naskah Audio
1.
Penggunaan
Media Audio dalam Pengajaran
Tahap-tahap
penggunaan media audio dalam pengajaran dikemukakan oleh Sudjana, dkk (2009:
131), yaitu:
a. Langkah
Persiapan
1) Persiapan
dalam merencana, berkonsultasi tentang materi dan perencanaan, mencatat
beberapa hal yang bisa membangkitkan interes, bahan diskusi, dan cara-cara
mengkaji pemahaman atau apresiasi.
2) Memberikan
pengarahan khusus terhadap ide-ide yang sulit bagi siswa yang akan dikemukakan
dalam materi. Untuk program radio, pengarahan materi program yang akan datang
harus dikemukakan atau diulas pada siaran waktu itu.
3) Kelompok
sasaran harus diperhitungkan, apakah perorangan atau kelompok kecil, ataukah
besar. Hal ini berhubungan dengan pengelolaan penyampaian atau penyajian,
penggunaan fasilitas, dan penentuan cara evaluasinya.
4) Mengusahakan
sasaran harus dalam keadaan siap, mengarahkan mereka dengan berbagai stimulus,
dan memusatkan perhatiannya melalui suatu komentar atau melalui suatu
pertanyaan pendahuluan.
5) Memeriksa
peralatan yang akan digunakan. Jangan sampai ada kerusakan atau kelainan yang
akan mengganggu rencana program yang telah ditetapkan.
b. Langkah
Penyajian
1) Menyajikan
dalam waktu yang tepat dengan kebiasaan atau cara mendengarkan, kebiasaan
menggunakan waktu untuk mendengarkan.
2) Mengatur
situasi ruangan, mungkin harus
menggunakan cahaya yang cukup atau redup, atau bahkan gelap. Hal ini
terutama bagi penggunaan dengan media lainnya seperti OHP, slide, dan sebagainya.
3) Memberikan
semangat untuk mulai mendengarkan dan mulai konsentrasi terhadap permasalahan
yang akan dihadapi. Mengusahakan agar sasaran:
a) Mendengarkan
dalam situasi yang tenang.
b) Memusatkan
perhatian untuk mendengarkan materi dan apa saja yang dikatakan serta apa
artinya.
c) Mendengarkan
dengan suatu kemauan yang kuat, meskipun mungkin mereka akan bertemu dengan
hal-hal yang bertentangan dengan kemauan dirinya.
d) Menghubungkan
apa yang mereka dengar saat itu dengan pengarahan sebelumnya.
c. Tindak
Lanjut
Dalam usaha tindak
lanjut perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1) Apakah
seluruhnya atau sebagian saja dari hal-hal yang dipertanyakan pada langkah
persiapan sebelumnya, terjawab atau terpenuhi. Bila tidak, apakah langkah yang
harus diambil selanjutnya.
2) Apakah
para siswa setuju dengan apa yang dikemukakan. Bila tidak, tindakan apa pula
yang akan dilakukan selanjutnya.
3) Apakah
materi yang disajikan telah cocok dengan kemampuan mereka. Apakah terlalu sukar
atau terlalu mudah.
4) Apakah
masih terjadi kesalahpahaman antara maksud materi dengan hasil penangkapan
mereka.
5) Menentukan
bagian-bagian mana saja atau bahkan keseluruhannya yang harus diulang kembali,
bila diperlukan.
6) Pada
bagian materi mana siswa memerlukan suatu pengayaan melalui bantuan penyertaan
media lainnya. Menentukan media apa yang akan dipergunakan dan bagaimana
pengaturannya.
Jenis-jenis
pemanfaatan media audio dalam kegiatan pengajaran pemanfaatannya dapat
digolongkan pada bagian-bagian berikut ini:
1) Audio card instuction.
Pengajaran melalui suatu kartu bergambar atau bertulisan yang bila dimasukkan
kepada alat player-nya akan terdengan
suara yang mengiringi gambar atau tulisan pada kartu tersebut.
2) Pengajaran
dengan menggunakan suatu recorder
bagi suatu kelompok kecil. Instalasi dalam sistem ini biasanya berupa satu record-player yang output-nya dihubungkan dengan beberapa headphone.
3) Pengajaran
untuk belajar mandiri. Bentuk ini biasanya dilakukan dalam suatu carrel atau kotak. Tiap kotak
diperuntukkan bagi seorang siswa dan dilengkapi dengan satu record-player dan satu headphone.
4) Pengajaran
untuk keperluan tutorial. Materinya
bisa dipergunakan secara perorangan atau secara kelompok. Untuk tujuan ini
materinya akan berisikan bimbingan atau pengarahan dalam suatu masalah atau
hal. Misalnya untuk kepentingan pengarahan sebagai prelab ataupun mungkin untuk bahan pengayaan materi yang
disampaikan oleh media lainnya.
5) Rekaman
sebagai alat evaluasi dimaksudkan ada dua macam kegiatan, yaitu:
a) Kegiatan
evaluasi yang harus merespons terhadap stimulus atau pernyataan yang telah
direkam terlebih dahulu.
b) Kegiatan
evaluasi yang jawabannya atau hasilnya merupakan hasil rekaman masing-masing.
2.
Kegiatan
Perekaman
Kegiatan
perekaman dapat dijadikan alat untuk pengalaman belajar dan hasil kegiatannya
dijadikan sebagai alat evaluasi. Jenis-jenis kegiatan ini bisa dipilih dari
beberapa kegiatan berikut ini:
a. Perekaman
sendiri, sehingga siswa bisa mendengarkan kembali suaranya sendiri. Dengan
kegiatan ini siswa akan:
1) Dapat
menilai kembali dan melatihnya berkali-kali terhadap beberapa kesukaran yang
dihadapi.
2) Bisa
melaksanakan segala kegiatan yang ditugaskan serta mengobservasi kembali
seluruh pekerjaannya.
b. Kegiatan
perekaman yang berulang-ulang pada kegiatan peniruan, akan menjamin konsistensi
dalam latihan pengucapan, tes, atau pemberian suatu pengarahan.
c. Latihan
meyusun dan menyatukan beberapa materi yang dipilih dan bahkan dengan cara
menambahkan materi yang disusun sendiri, sehingga akan menjadikan suatu konsep
pemikiran baru. Kegiatan seperti ini lazimnya disebut editing (penyusunan). Tentunya keterampilan menyusun urutan rekaman
dalam kegiatan seperti ini merupakan unsur pokok.
d. Perekaman
dan pemilihan materi guna keperluan suatu penyajian untuk dianalisis dalam
suatu bidang atau masalah. Pemilihan materi yang tepat untuk tujuan kritikan
dan analisis adalah suatu keterampilan tertentu yang tidak mudah untuk didapat.
e. Perekaman
sebagai kegiatan perencanaan dan melatih keterampilan perekaman untuk
kepentingan suatu penyajian dengan menggunakan waktu yang tepat, sesuai dengan
yang telah ditetapkan. Penyajian di radio atau televisi memerlukan keterampilan
ketepatan seperti ini. Bahan yang bertele-tele akan mengurangi waktu penyajian
dan bahan yang terlalu singkat akan mengakibatkan kelebihan waktu.
f. Latihan
perekaman audio yang sinkron atau tepat dengan penampilan yang bersifat visual
(rekaman untuk soun slide, sound film strips, transparansi), memerlukan
keterampilan dalam pemilihan suara atau kata-kata yang perlu dan dalam waktu
yang telah ditentukan. Dalam kegiatan seperti ini umumnya suara tidak menjadi
media utama melainkan sebagai pelengkap terhadap pesan gambar.
g. Rekaman
bisa digunakan untuk melatih penampilan dalam berbicara atau pidato. Orang yang
berlatih akan bisa mengevaluasinya sendiri dan akan melakukan koreksi-koreksi
untuk direkam pada kegiatan perekaman selanjutnya. Dalam kegiatan seerti ini
banyak faktor yang bisa dilatih, diantaranya:
1) Melatih
perubahan suara untuk perpindahan nasalah atau dalam membuat suatu contoh.
2) Melatih
tekanan suara pada bagian-bagian yang penting.
3) Melatih
mengubah lagu kalimat guna kepentingan apresiasi atau penjiwaan suatu perasaan.
h. Kegiatan
merekam atau memindahkan bahan rekaman bukan merupakan kegiatan yang mudah bagi
yang belum memiliki keterampilan ini. Oleh karena itu, kegiatan ini bisa
menjadi suatu bahan untuk latihan dalam hal perekaman.
i.
Perekaman sebagai suatu
kegiatan latihan perekaman suara yang baik serta asli dan jelas. Untuk
mendapatkan hasil rekaman seperti ini memerlukan pengalaman dalam cara
memproduksi suara yang netral dan bersih serta jelas sesuai dengan standar yang
telah ditetapkan atau diinginkan. Penempatan mikrofon, jarak dengan mikrofon,
dan penggunaan jenis mikrofon memerlukan pengalaman praktek untuk mecapai
kemampuan maksimal.
Teknik-teknik
perekaman bagi pembuatan materi pengajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum
dapat dipilih dari beberapa saran berikut ini:
a. Untuk
pengajaran bahasa asing
Dalam kegiatan ini
digunakan peralatan laboratorium bahasa atau perekam suara yang ada di rumah
guna kepentingan belajar secara audio-active
ataupun secara audio-active-comparative.
Dengan menggunakan perekam suara yang ada di rumah bisa dilakukan dengan dua
alat perekam; satu sebagai player
suatu master dan satunya lagi dipergunakan sebagai alat perekam suara master
bersama dengan suara sendiri. Dengan menggunakan peralatan yang ada di
laboratorium bahasa perekaman seperti ini bisa dilakukan denga mudah dan sinkron, karena kedua alat perekam
seperti tadi telah disatukan dalam satu pesawat teknologi masinal; sehingga
dengan hanya menekan satu tombol sudah bisa merekam sambil mendengar.
b. Pidato
Kegiatan ini memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menilai sendiri dalam cara mengutamakan pikiran,
pengucapan, lagu kalimat, kecepatan berbicara, dan ekspresi dalam berpidato.
Siswa akan menyadari kelemahan dan kekurangannya yang perlu dicoba lagi
berulang-ulang atau perlu dikoreksi kembali.
c. Musik
Seperti dalam latihan
pidato, kegiatan perekaman dalam latihan musik dapat diarahkan kepad tujuan
pencapaian beberapa keterampilan yang diharapkan, dengan cara mengevaluasi dan
memperbaikinya sendiri.
d. Pendidikan
bisnis
Materi yang telah
direkam atau instruksi yang telah disiapkan dapat digunakan untuk
memperkenalkan dan mengarahkan hal-hal yang diperlukan dalam membimbing latihan
keterampilan, misalnya mengetik. Materi ini dikirimkan oleh recorder kepada seluruh peserta melalui headphone, sementara trainec melakukan segala instruksi dan
memperhatikan segala saran serta koreksi. Contoh lain bisa digunakan dalam
latihan keterampilan pembukaan atau menggunakan komputer, dan sebagainya.
e. Pendidikan
fisik
Merekam segala
kesan-kesan dan pengalaman dari lapangan secara oral tentang apa yang telah
mereka lakukan dan temui guna kepentingan masukan atau penilaian selanjutnya.
f. Pendidikan
seni
Sebagai contoh,
kegiatan merekam segala pembicaraan yang didapat dari suatu kunjungan pameran
atau peninjauan ke sanggar seni tentang karya-karya yang kreatif mudah
dilakukan. Perekaman ini bisa pula ditujukan terhadap kegiatan pemberian
komentar atau wawancara dari para seniman yang telah berpengalaman atau dengan
seniman pembuatnya. Dari seluruh hasil kegiatan perekaman ini bisa diputar
kembali untuk kepentingan diskusi atau pembuatan kritik seni. Bagi perekaman
kegiatan seni yang bersifat oral, seperti pembacaan sajak dan rekaman drama
atau monolog maka bahan seperti ini bisa langsung dijadikan bahan atau materi
yang akan dibahas atau dikritik.
g. Perekaman
kegiatan diskusi
Kegiatan perekaman
suatu diskusi dapat dipakai bahan untuk membuat suatu kritikan atau evaluasi
terhadap jalannya diskusi. Untuk tujuan ini bisa dilihat dari segi-segi:
1) Apakah
diskusi berdasarkan pada suatu topik yang logis atau tidak. Jalannya diskusi
harus mengarah pada suatu penentuan ruang lingkup yang dibicarakan.
2) Apakah
diskusi dikuasai oleh seorang atau beberapa orang saja. Diskusi yang baik akan
melibatkan pembicaraan dari semua peserta.
3) Apakah
diskusi berjalan dari suatu masalah dan beranjak ke maslah lainnya tidak secara
campur baur.
4) Apakah
partisipan menggunakan fakta-fakta yang biasa atau fakta-fakta opini. Bila hal
seperti ini terjadi, maka diskusi tidak akan menghasilkan kesimpulan yang
bermutu.
5) Apakah
semua partisipan bereaksi secara baik pembicaraan yang lainnya, ataukah dengan
mengadakan pengujian terlebih dahulu untuk menerima pendapat orang lain ataupun
bila terdapat perbedaan pendapat dengan orang lain.
6) Proses
diskusi harus menghasilkan suatu kesimpulan yang logis, yang disusun secara
sistematis dengan jalan konsep topik yang dibicarakan.
h. Perekaman
untuk suatu interview
Saran-saran berikut ini
merupakan jaminan terhadap suatu kegiatan interview
yang baik, terutama dalam kelancaran prosedur pelaksanaannya. Saran-saran
tersebut adalah:
1) Memberi
tahu terlebih dahulu kepada orang yang akan di-interview tentang pertanyaan-pertanyaan yang akan dikemukakan dalam
interview nanti. Memberi tahu juga
siapa sasaran yang akan mendengarkan informasi ini dan menceritakan mengapa dia
yang dipilih dalam interview. Semua
hal tersebut dilakukan dengan pendekatan yang bijaksana.
2) Melakukan
kegiatan interview dalam situasi dan
lingkungan yang sebenarnya untuk membuat kepercayaan dalam penerimaan sasaran
pendengar.
3) Melakukan
interview dengan cara kekeluargaan
dan santai tetapi jalannya interview harus tetap terkendali. Menggunakan latar
belakang dan minat yang di-interview
dan menanyakan minatnya untuk menambah keyakinan terhadap informasi.
4) Menjaga
dominasi pertanyaan yang terlalu mengarah pada latar belakang dan minat yang
di-interview kecuali untuk
kepentingan suatu pengarahan bagi pokok masalah pertanyaan berikutnya.
i.
Perekaman untuk siaran
radio pendidikan
Siaran radio pendidikan
diarahkan bagi usaha-usaha:
1) Perombakan
atau perkembangan dalam suatu bidang.
2) Siaran
yang ditujukan ke sekolah atau suatu kelas dari sekolah sebagai tindakan
pengarahan atau pengayaan pada suatu bidang studi pada suatu tingkatan sekolah.
3) Kegiatan
yang merupakan kegiatan pendidikan formal yang bertindak sebagai perluasan
suatu sekolah atau tingkat prasekolah.
4) Kegiatan
yang merupakan kegiatan pendidikan nonformal, misalnya untuk pendidikan
kepramukaan, taruna karya, dan sebagainya di luar sekolah.
j.
Perekaman simulasi
siaran radio
Dalam kegiatan
perekaman simulasi ini akan memungkinkan siswa menemukan sendiri nilai-nilai
yang baik dalam pengalaman merencanakan suatu drama, menulis, membaca skrip
yang baik atau cara menampilkan serta memilih musik dan sound effect yang tepat, dan memproduksi sound effect yang baik bagi keperluan drama dan lain sebagainya.
Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan perekaman
ini, yaitu:
1) Memilih
subjek atau tema yang mungkin dilaksanakan supaya lebih menarik minat dan
perhatian siswa.
2) Menentukan
gari-garis besar cerita dan membuat dalam bentuk sinopsis.
3) Menentukan
para pemain atau pelaku dan para penanggungjawab siaran dan teknisi sebelum
melakukan penampilan.
4) Menentukan
operator dan pengatur sound effect.
5) Mengadakan
latihan di luar studio terlebih dahulu untuk melatih penjiwaan cerita,
kelancaran berbicara, dan berbagai hal yang berkaitan dengan cara-cara
pengucapannya.
6) Melakukan
rekaman sebenarnya di studio dan kalau sudah selesai mengadakan penilaian dan
revisi bersama-sama.
7) Bila
segala sesuatunya sudah baik dan benar maka dilanjutkan dengan membuat rekaman
jadi yang sebenarnya.
8) Memilih
sound effect yang sesuai.
k. Penyebaran
rekaman pita suara
Dengan adanya kemajuan
dan perkembangan alat rekaman saat ini yang sudah tersebar sampai ke
daerah-daerah pelosok maka penyebaran dan penggunaan rekaman pita suara dalam
bentuk kaset sangat populer di Indonesia. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
pemanfaatan media kaset sebagai media pendidikan, yaitu:
1) Membuat
skrip yang baik dan cocok dengan kebutuhan siswa sehingga siswa akan
berpartisipasi dalam kegiatan ini.
2) Mengadakan
kegiatan promosi sebelum dilakukan penyebaran.
3) Dalam
produksi rekaman pita kaset ini harus diawali dengan pembukaan dengan
menggunakan tema musik yang sesuai dengan siswa. Langkah selanjutnya
mengemukakan materi yang akan disajikan dan tujuan yang hendak dicapai oleh
penyajian materi itu.
4) Menyajikan
materi dalam bentuk-bentuk yang menarik perhatian dan minat para siswa. Umumnya
bentuk atau format drama atau monolog serta dialog akan sangat cocok untuk
kegiatan pendidikan.
5) Menjembatani
perpindahan masalah atau topik dengan adanya musik. Penggunaan musik ini harus
sesuai dengan situasi pokok pembicaraan.
6) Menggunakan
musik atau suara-suara asli untuk membangkitkan kepercayaan siswa sehingga
perhatian akan semakin terpusat. Suara seorang kakek yang terlalu kentara
ditirukan atau dibuat-buat akan membuat penafsiran atau anggapan sisa yang
mengakibatkan turunnya kepercayaan mereka. Suara peniruan hanya akan berhasil
bila dilakukan oleh seseorang yang telah terampil dan mampu untuk membuat suara
tiruan. Dalam penggunaan media audio kekurangan seperti ini tidak bisa
diimbangi dengan kesan visual, seperti dengan penggunaan make-up.
3.
Penulisan
Naskah Audio
Dalam
penulisan naskah audio, ada tiga faktor yang harus diperhatikan sebelum naskah
tersebut diproduksi, yaitu:
a. Penelitian
atau observasi
Penelitian
ini tidak dimaksudkan dengan suatu kegiatan yang berbentuk proyek. Penelitian
ditujukan untuk mengetahui keadaan siswa yang akan mendengarkan program.
Keadaan siswa tersebut meliputi:
1) Minat
dan kebutuhan
Bila
seorang siswa merasa terpenuhi kebutuhannya maka minat dan motivasinya akan
bertambah. Kebutuhan yang dimaksud di sini bisa digolongkan pada kebutuhan yang
bersifat hasrat, perasaan, dan rasionalitas. Penentuan materi yang sesuai
denga kebutuhan siswa akan menimbulkan
minat yang besar pada program yang disajikan.
2) Tingkat pengetahuan
Perlu
diketahui terlebih dahulu tingkat pengetahuan yang dimiliki siswa. Tingkat
pengetahuan tersebut meliputi konsep, materi, peristilahan, dan batasan-batasan
sehingga tingkat kesulitan materi yang akan disampaikan bisa diperhitungkan.
3) Sikap
(attitude)
Sikap
siswa akan akan mempunyai implikasi terhadap desain perencanaan suatu naskah
untuk memenuhi harapan siswa. Naskah yang baik akan selalu memperhatikan setiap
sikap sasarannya. Penggolongan sikap sasaran menurut jenisnya:
a) Personal attitude,
adalah bila seseorang mempunyai sikap percaya peda pemikiran yang persiasif,
bahwa sesuatu itu lebih sempurna menurut pandangannya.
b) Interpersonal attitude,
yaitu sikap seseorang untuk melakukan hal yang sama dengan sosok yang
disukainya. Strategi penyajian bagi orang seperti ini diberikan dengan
contoh-contoh yang dilakukan para pahlawan.
c) Intrapersonal attitude,
adalah sikap seseorang yang dipengaruhi oleh pertimbangan suatu konsep yang
dianut atau dimilikinya. Strategi penyajian materi dilakukan dengan menampilkan
pendekatan konsep yang dianutnya.
d) Impersonal attitude,
adalah sikap seseorang yang dipengaruhi oleh rasa senang dan puas.
4) Tingkah
laku (behaviour)
Tingkah
laku dalam hal ini akan mengarahkan pokok pembicaraan dan format penyajian yang
atraktif.
5) Konteks
komunikasi
Konteks
komunikasi merupakan situasi dan kondisi sosial budaya yang bisa memnpengaruhi
partisipasi terhadap program yang disajikan.
b. Penentuan
bentuk atau format naskah
Bentuk-bentuk
yang bisa dipakai atau dilakukan dalam menulis naskah atau skrip program audio
adalah:
1) Uraian
atau ceramah, biasanya digunakan untuk mengantarkan saran, nasihat, dan
informasi. Uraian akan sangat mengena untuk tujuan ini asalkan penyampaiannya
dilakukan secara ramah dan tidak bersifat menggurui, sementara kata-kata dan
kalimat yang dipakai tidak terlalu rumit tapi harus sederhana.
2) Berita,
adalah bentuk yang terbaik untuk penyampaian laporan mengenai
peristiwa-peristiwa yang sedang melanda atau terjadi di daerah sasaran.
3) Laporan,
merupakan bentuk penyajian yang paling baik apabila materinya sesuai dengan
kebutuhan sasaran.
4) Reportase,
dimaksudkan untuk memberikan laporan langsung dari tempat kejadian mengenai
peristiwa penting yang perlu diketahui oleh pendengar.
5) Dialog
atau monolog, merupakan bentuk yang dilakukan oleh beberapa pelaku dalam
dialog; sedangkan bentuk monolog merupakan bentuk percakapan yang hanya dilakukan
oleh satu orang.
6) Wawancara,
bentuk ini digunakan untuk pemberitahuan tentang persoalan yang dihadapi serta
bagaimana para ahli memikirkan masalah tersebut.
7) Diskusi,
melibatkan pendengar untuk ikut berpikir dalam proses penyelesaian perbedaan
pendapat, serta mengajak sasaran untuk memahami pendapat dan gagasan orang
lain.
8) Feature,
bentuk ini digunakan saat membicarakan suatu masalah agar lebih mendalam.
Kelebihan dari bentuk ini terletak pada variasinya yang dirangkai dalam satu
kesatuan penuturan cerita nyata yang kompak mengenai suatu permasalahan
tertentu.
9) Sandiwara
atau drama, biasanya untuk menyampaikan pesan-pesan dan pendidikan. Karena
pesan yang terkandung di dalamnya bisa disusun sedemikian rupa sehingga selain
memberikan amanat juga bersifat menghibur.
c. Menulis
skrip audio
Dalam
menulis skrip program audio terlebih dahulu perlu diadakan penyusunan garis
besar isi naskah yang akan ditulis. Hal ini sangat penting dalam membantu
mengarahkan dalam penulisan. Dengan melakukan hal ini diharapkan dalam menentukan
panjang setiap subpokok bahasan akan terpola, jangan sampai bagian pendahuluan
dan bagian penutup lebih panjang daripada bagian isi program materi.
D.
Jenis-Jenis
Media Audio dalam Pengajaran
Jenis-jenis media audio
dalam pengajaran menurut Sanaky (2011: 94):
1. Audio
kaset
Audio
kaset berupa pita magnetis (magnetic tape
recording) yang dapat menghasilkan suara jika diputar dalam tape recorder
(Sadiman, via Sanaky 2011: 94). Alat ini sudah memasyarakat sehingga dapat
dikatakan sudah menjadi bagian dalam kehidupan manusia. Hanya saja selama ini
lebih banyak dimanfaatkan untuk kepentingan hiburan. Penggunaan audio kaset
untuk kepentingan pembelajaran dirasakan belum memasyarakat secara maksimal.
Sebenarnya audio kaset cukup efektif dan efisien untuk dimanfaatkan dalam
proses pembelajaran di kelas untuk materi menyimak.
Gambar
2.2 Audio kaset
2. Radio
Radio
adalah sebuah alat elektronik yang dilengkapi dengan perangkat penerima
gelombang elektromagnetik dan perangkat penyiaran. Tim Dosen FIP IKIP
Yogyakarta (via Sanaky, 2011: 96), menjelaskan bahwa pengertian radio sebagai
media pembelajaran lebih ditonjolkan pada radio siaran (broadcast). Program
radio telah lama digunakan sebagai siaran pembelajaran untuk menyampaikan
materi pembelajaran pada beberapa lembaga pendidikan jarak jauh di seluruh
dunia, termasuk Indonesia. Fungsi radio adalah menyampaikan pesan bahan
pelajaran yang dapat didengar oleh penerima pesan atau pembelajar.
E.
Jenis-Jenis
Media Audio Berbasis Teknologi Digital dalam Pengajaran
Audio
digital mencakup berbagai format penyimpanan dan cara untuk mengakses file
seperti streaming dan podcasting. Bahan-bahan pendidikan dalam
format audio digital dapat dibeli berupa compact
disc, di-download atau streaming sebagai MP3, di-download sebagai file WAV dari Web, atau yang diproduksi sendiri. File digital tetap dijaga dalam
perangkat penyimpanan digital seperti CD, komputer hard drive, flash drive,
atau perekam digital genggam. File digital biasanya disimpan dalam format MP3
atau WAV.
1. Compact Discs
(CD)
Teknologi
CD telah menjadi format standar dalam pendidikan. CD berdiameter 4,72 inci (12
cm), dan menyimpan hingga 80 menit informasi. Pengguna CD dapat dengan cepat
menemukan pilihan pada disk dan dapat memprogram mereka untuk bermain dalam
urutan yang dikehendaki. Informasi dapat diambil secara selektif oleh peserta
didik atau diprogram oleh instruktur. Keuntungan utama dari CD adalah tidak
rentan terhadap kerusakan. Noda dapat dibersihkan, dan biasanya goresan tidak
mempengaruhi pemutaran. Jika goresan mempengaruhi kualitas sinyal audio, suatu
resin/ damar tersedia untuk memperbaiki disk. Banyak komputer yang dilengkapi
untuk menciptakan, atau "membakar" CD audio, sehingga mudah bagi para
guru dan siswa untuk membuat rekaman CD. Pembatasan hak cipta perlu diperiksa
ketika termasuk bahan atau musik yang direkam sebelumnya.
Gambar
2.3 Compact Disc (CD)
2. MP3
Komputer
dan internet dapat digunakan untuk memperoleh file audio. MP3 (MPEG Audio Layer 3) adalah format kompresi audio
yang membuat file audio yang besar
menyusut menjadi file yang lebih
kecil yang dapat dengan cepat dan dengan mudah ditangkap di Internet. Teknologi
kompresi audio MP3 mengurangi waktu upload
dan download dan jumlah ruang
penyimpanan. MP3 adalah sebuah standar "terbuka", yang berarti
tersedia bagi siapa saja yang memiliki akses ke Internet. Perangkat lunak
komputer perlu menggunakan file audio
MP3, sehingga gratis. Banyak file
audio juga gratis atau tersedia untuk di-download
dengan biaya rendah di banyak website
berbasis langganan.
MP3 adalah cara untuk audiophiles untuk menikmati bagian –
bagian musik favorit mereka dan untuk mendapatkan versi lagu terbaru dari artis
tertentu. Beberapa situs internet membiarkan pengguna menyesuaikan pilihan
mereka sehingga mereka dapat menciptakan "album" unik. Sisi
negatifnya, wacana peringatan yang berkaitan dengan hak cipta. Tidak semua
situs internet membuat salinan hukum musik yang tersedia. Ini adalah tanggung
jawab pengguna untuk menghormati undang-undang hak cipta yang berhubungan dengan
audio.
Gambar
2.4 MP3 Player
3. WAV
WAV
audio file merupakan salah satu cara
yang paling umum untuk menyimpan dan menggunakan audio. Sebuah file WAV adalah versi digital atau audio
analog yang dibuat dengan menggunakan kartu suara komputer dan software untuk mengubah dan menyimpan file dalam format digital. WAV file audio dapat disimpan pada setiap
perangkat penyimpanan digital seperti CD,
portable USB drive, atau jaringan/
network drive untuk diputar di komputer workstation
atau ke kelas. Keuntungan menggunakan format file WAV ialah file
audionya termasuk kualitas tinggi dan penggunaan di berbagai saluran suara.
Kekurangan file WAV adalah bahwa file-nya cenderung sangat besar,
sehingga sebagian besar klip audio WAV harus dalam durasi pendek. Ketika file audio disimpan sebagai format WAV,
Anda harus terlebih dahulu men-download
seluruh file sebelum Anda dapat memainkannya.
4. Podcast
Podcast
ialah seperti radio berbasis web yang disiarkan kepada siswa. Mereka
mendengarkan informasi dengan menggunakan komputer mereka. File audio tersebut dikirim melalui Web ke komputer pelanggan.
Untuk
melakukan podcast, guru atau siswa perlu untuk menghasilkan file audio untuk disiarkan. Guru atau
siswa dapat menghasilkan file audio
menggunakan Windows Sound Recorder atau
Audacity (audacity.sourceforge.net). Audacity memungkinkan untuk merekam
audio, mengedit file suara, menambah
musik, dan ekspor file. File MP3
telah menjadi standar untuk audio podcasting.
Selanjutnya guru meng-upload file
audio ke situs web. Periksa dengan spesialis media sekolah untuk mengetahui
prosedur yang tepat untuk sekolah. Lalu biarkan siswa tahu bahwa situs podcast yang tersedia untuk belajar dan
menikmatinya.
5. Portable Digital Audio
Player
Sebuah
pemutar audio digital portabel
memungkinkan pengguna untuk mengambil file
audio. Hal ini juga disebut "pemutar musik digital portabel" karena
kebanyakan orang saat ini menggunakannya untuk bermain musik. Contohnya adalah
Apple iPod. Tidak seperti Walkman, pengguna dapat menyimpan ribuan lagu atau file suara dalam Portable Digital Audio Player. File
akan disalin dengan menghubungkannya ke komputer. Para pemutar/ pemain
menggunakan kartu memori sejenis yang digunakan dalam kamera digital. Pemutar/
pemain dapat mengoperasikan dengan baterai atau pemasangan adaptor AC.
Pemutar
audio digital portabel membuka
pilihan baru yang menarik bagi pelajar bahasa. Sebagai contoh, siswa dapat
merekam dan merekam ulang pilihan membaca dan menyerahkan file elektronik kepada instruktur mereka sebagai evaluasi. Siswa
sekaligus praktik presentasi lisan, serta berbicara dalam bahasa asing sebagai
pembelajaran untuk mengasah kemampuan berbicara mereka. Guru dapat
menggunakannya untuk menentukan rencana pelajaran dan catatan penelitian, atau
merekam pendataan pemikiran siswanya.
F.
Kelebihan
dan Kekurangan Media Audio
Kelebihan
dan kekurangan media audio disampaikan oleh Anitah (2009: 40), yaitu:
1. Kelebihan
media audio
a. Tidak
begitu mahal untuk kegiatan pembelajaran.
b. Audio-tape
cukup hemat, sebab suatu rekaman dapat dihapus dan diganti dengan materi yang
baru.
c. Dapat
digunakan untuk pembelajaran kelompok maupun individual.
d. Pelajar
yang tunanetra maupun tunaaksara dapat belajar melalui media audio.
e. Untuk
anak yang masih kecil atau pelajar yang belum dapat membaca, media audio dapat
membentuk pengalaman belajar bahasa permulaan.
f. Media
audio dapat membawakan pesan verbal yang lebih dramatis daripada media cetak.
g. Dengan
imajinasi guru, program audio dapat lebih bervariasi.
h. Audio cassette
tape-recorder dapat dibawa kemana-mana dan dapat
digunakan di lapangan tanpa battery.
i.
Cassette
tape-recorder sangat ideal untuk belajar mandiri di
rumah karena bahan pembelajaran pada pita kaset mudah diperbanyak bila
diperlukan.
2. Kelemahan
media audio
a. Melalui
media audio kaset, dapat mendengarkan urutan penyajian yang tetap, bahkan bila
diputar kembali akan terdengar hal-hal yang sama. Hal ini kadang-kadang
membosankan.
b. Tanpa
ada penyaji yang bertatap muka langsung dengan pelajar, beberapa di antara
pelajar kurang memperhatikan penyajian itu.
c. Pengembangan
program audio yang baik akan banyak menyita waktu.
d. Penentuan
cara penyampaian informasi dapat menimbulkan kesulitan bila pendengar memiliki
latar belakang serta kemampuan mendengar yang berbeda.
e. Tidak
dapat diperoleh balikan secara langsung karena hanya ada satu jalur penyampaian
informasi.
BAB III
KESIMPULAN
Guru adalah pemegang kendali dalam
Proses Belajar Mengajar (PBM) di sekolah. Guru dituntut untuk bisa mentransfer
ilmu maupun nilai kepada siswa dengan baik. Dalam hal ini media pembelajaran
bisa menjembatani hal tersebut, termasuk media audio. Media audio yang bersifat
auditif, contohnya adalah audio kaset, radio, CD, MP3, dan lain sebagainya.
Pembelajaran menggunakan media audio
akan lebih menarik perhatian siswa jika dikemas secara menarik dan menggunakan
variasi. Jika guru dapat melakukan hal tersebut maka efektifitas dan efisiensi
dalam PBM akan terlaksana.
DAFTAR PUSTAKA
Anitah,
Sri. 2009. Media Pembelajaran.
Surakarta: Yuma Pustaka.
Sanaky,
Hujair AH. 2011. Media Pembelajaran Buku
Pegangan Wajib Guru dan Dosen. Yogyakarta: Kaukaba Dipantara.
Sudjana,
Nana, dkk. 2009. Media Pembelajaran.
Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Sunarti,
dkk. 2009. Keterampilan Berbahasa
Indonesia. Yogyakarta: Universitas PGRI Yogyakarta.
Alfiyah.
2012. http://alfiyah90.wordpress.com/2012/04/01/media-audio-4
(online). Diakses 4 November 2013.
Faiq,
Mohammad. 2013. http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/
2013/07/media-audio-dalam-pembelajaran-di-kelas.html
(online). Diakses 4 November 2013.
Hariyatun.
2012. http://pendidikanpeternakan-hariyatun.blogspot.com/2012
/03/audio-untuk-media-pembelajaran.html
(online). Diakses 4 November 2013.
Ma’roef,
Amir. 2011. http://rancahboy.blogspot.com/2011/07/media-audio-semester-iv.html
(online). Diakses 4 November 2013.
Oktarina,
Reni. 2012. http://rennyoktarina.blogspot.com/p/pengertian-media-audio.html
(online). Diakses 4 November 2013.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar