Selasa, 10 Desember 2013

Indigo


Indigo
Nur Ernawati

            Sore yang kelabu bagi Dika. Ia baru saja dipecat dari pekerjaannya sebagai sales sepeda motor. Dia menuju rumahnya dengan berjalan kaki sambil menendang-nendang kaleng minuman bekas. Semuanya hilang. Semuanya lenyap. Pekerjaan, uang, dan sepeda motor fasilitas pegawainya harus musnah. Ia tidak tega saat nanti harus mengatakan kepahitan ini kepada ibunya beserta dua orang adik perempuannya. Dika yang kini menjadi tulang punggung semenjak ayahnya menghilang begitu saja menjadi merasa bersalah, sekarang ia tidak tahu harus menafkahi keluarganya dengan apa.
            “Dika, sudah pulang nak”, tanya Bu Eni, ibunya Dika yang sedang menyapu halaman.
            “Iya, bu”. Dika tersenyum kecut.
            “Itu Mas Dika. Mas, aku tadi ulangan matematikanya dapat seratus lho, mas akan tepati janji mas untuk membelikan teddy bear yang kemarin kita lihat kan?”. Salah satu adik Dika, yaitu Dira menyambut kepulangan Dika dengan bahagia dan berharap Dika mau menepati janjinya.
            Belum sempat Dika menjawab tiba-tiba Dira sudah memeluk Dika dengan sangat erat. Melihat kejadian itu Dika mengurungkan niatnya untuk mengatakan bahwa ia telah dipecat, ia tidak mau mengecewakan semuanya. Dika berjanji pada dirinya sendiri untuk mengatakan semuanya ketika nanti ia telah mendapatkan pekerjaan pengganti yang layak.
            “Iya. Mas kan kalau janji nggak pernah mengingkari”. Dika membelai rambut Dira yang masih duduk di kelas dua sekolah menengah pertama.
            “Tapi motornya kemana mas?”. Dira merasa heran karena Dika pulang hanya berjalan kaki.
            “Iya, motor kamu kemana Dik?”. Ibu ikut menimpali.
            “Perusahaan lagi ada sedikit masalah, jadi semua fasilitas pegawai yang dianggap tidak terlalu penting ditarik. Tapi jangan khawatir, semuanya baik-baik saja kok”. Dika berusaha meyakinkan.
            “Oh iya Dik sekalian kalau kamu mau pergi beli boneka itu sama beli beras ya, soalnya berasnya mau habis”.
            “Iya”. Dika menjawab singkat pesan ibunya itu.
            Malam pun tiba. Dika duduk sendirian di teras rumahnya. Dan tiba-tiba dia merasa ada yang aneh dengan penglihatnnya. Dia seperti melihat ada orang berbondong-bondong sambil membawa keranda menuju rumah Haji Maksum, tetangganya. Dika merasa ketakutan dan berlari ke dalam rumah. Melihat kepanikan Dika, ibunya merasa heran.
            “Ada apa Dik? Kok seperti orang ketakutan?”
            “Nggak. Nggak ada apa-apa kok bu”.
            Dika tidak mau menceritakan kejadian ini karena takut ia dianggap gila. Dika masuk ke kamarnya sambil terus bertanya-tanya di dalam hati tentang apa yang dilihatnya. Dari balik jendela kamarnya, Dika melihat kembali rumah Haji Maksum dan ternyata Dika semakin ketakutan ketika melihat rumah itu sepi. Tak lama kemudian Dika mendengar ada orang yang sedang membaca tahlil diiringi tangisan. Lagi-lagi Dika mendengar bahwa suara itu berasal dari rumah Haji Maksum namun anehnya rumah itu tetap terlihat sepi. Malam semakin larut dan Dika tertidur dengan sendirinya sambil menyimpan pertanyaan besar dalam hatinya.
            Tepat jam empat pagi, Dinda, adik Dika yang masih sekolah dasar mengetuk kamar Dika dengan kepanikan.
            “Mas Dika, bangun! Ada yang meninggal dunia”.
            Dika tergagap dari tidurnya dan segera membuka pintu.
            “Ada apa?”. Dika masih mengucek-ngucek matanya.
            “Mas Ilham meninggal dunia”.
            “Innalillahi wainna ilaihi roji’un”.
“Dia mengalami kecelakaan bus saat mau pulang ke sini. Ibu sama Mbak Dira sudah di sana sejak tadi, sekarang mendingan mas juga ke sana”.
“Iya, mas segera ke sana”.
“Cepet ya mas. Sudah banyak orang di sana menunggu jenazah Mas Ilham”.
Dika terduduk lemas di tempat tidurnya. Apa ini ada hubungannya dengan kejadian semalam? Itulah kata hati Dika.
“Apa aku bisa melihat kematian?”. Dika bertanya pada dirinya sendiri.
Setelah merapikan diri Dika bergegas menuju rumah Haji Maksum untuk mengetahui apa yang terjadi. Apalagi Ilham, anak Haji Maksum yang meninggal itu adalah teman sekolahnya sejak TK sampai SMA. Hanya saja setelah lulus SMA Ilham melanjutkan kuliah ke luar kota dan Dika sendiri memilih langsung bekerja dan tidak melanjutkan kuliah.
Tujuh hari setelah kematian Ilham, Dika mendapatkan mimpi. Di mimpinya itu ia sedang berada di tempat yang tak berbatas, semuanya serba putih, ia sendiri berpakaian putih. Dika mendengar suara yang sangat menggelegar tanpa sosok yang nyata.
Kamu adalah kamu. Kematian adalah kematian, bisa dilihat namun tak bisa dihentikan.
Dika terbangun dari mimpinya itu dengan keringat bercucuran. Dia mencoba menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Setelah merasa sedikit lebih baik Dika segera mengambil air wudhu dan menunaikan shalat malam. Dia merasa harus mengadukan semua ini kepada Sang Pencipta. Dika bersujud dengan khusyu’nya sambil berdo’a.
Pagi ini Dika sudah berdandan rapi seperti biasanya ketika ia masih bekerja sebagai sales. Rencananya ia mau mencari pekerjaan di saat semua keluarganya menganggap bahwa Dika belum dipecat.
“Mas, pulang cepet ya. Aku nggak sabar memiliki teddy bear itu”.
“Teddy bear?”
“Iya, Mas Dika itu mau beliin aku teddy bear. Iya kan mas?”
“Kok cuma Mbak Dira saja yang dibeliin teddy bear. Aku?”
“Iya, nanti semuanya mas beliin. Dira sama Dinda nanti semuanya dapat teddy bear”. Dika menenangkan kedua adiknya itu.
“Asyik…”. Dira dan Dinda berteriak serentak.
Setelah sarapan bersama ibu dan kedua adiknya, Dika langsung berangkat mencari pekerjaan. Ia berjalan santai menuju halte. Ketika ia dan beberapa calon penumpang sedang menunggu bus dengan tujuannya masing-masing, tiba-tiba Dika melihat kecelakaan bus di tikungan tak jauh dari halte tempatnya berdiri. Sontak ia berteriak histeris.
“Innalillahi, itu ada kecelakaan”. Dika menunjuk ke arah tikungan.
Semua orang yang berdiri di sekitar Dika menjadi kaget dan langsung melihat ke arah yang ditunjuk Dika.
“Mas, bercandanya nggak lucu”, bentak seorang bapak-bapak.
“Iya, mas pikir ini lucu”, lanjut seorang ibu-ibu.
Orang-orang lain di sekitar Dika juga ikut memarahi Dika. Dika hanya terdiam karena menyadari bahwa bayangan kecelakaan itu telah menghilang. Dika merasa malu dengan tindakannya sendiri dan meninggalkan halte itu. Belum jauh Dika meninggalkan halte, dia mendengar ada suara keras seperti tabrakan. Dika menoleh ke belakang dan ternyata di tikungan tadi telah terjadi kecelakaan dan posisi busnya sama persis dengan yang dilihatnya tadi. Dika malah semakin ketakutan, ia berlari jauh meninggalkan halte tersebut.
            “Tidak. Ini tidak mungkin. Aku indigo?”. Dika berbicara pada dirinya sendiri layaknya orang gila.
            Dika benar-benar bingung dengan  dirinya sendiri yang dapat melihat masa depan terutama yang berhubungan dengan kematian seseorang maupun beberapa orang. Dua kejadian aneh yang dialaminya tersebut membuatnya percaya bahwa Allah memang memberinya kelebihan. Ia sendiri tidak mau menceritakan itu kepada siapapun termasuk keluarganya.
            Setelah kejadian meninggalnya Ilham dan kecelakaan bus itu Dika juga mengalami kejadian-kejadian serupa. Bedanya kini Dika sudah mulai terbiasa dan bersikap wajar seolah-olah tidak tahu apa-apa. Hal ini dilakukannya dengan tujuan ia tidak mau mendahului takdir dan kehendak Allah.
            Tiga tahun sudah Dika menjadi indigo. Dan kini saatnya kejadian yang tidak pernah diinginkannya terjadi.
            “Mas, batuk ibu kok nggak sembuh-sembuh ya?”, tanya Dira.
            “Kamu tenang saja tidak akan terjadi apa-apa sama ibu kok”.
            Ibu Dika memang sedang sakit. Dan menurut dokter penyakit yang dideritanya adalah ISPA. Dika tidak melihat bahwa ibunya akan meninggal. Maka dengan santainya ia menjawab pertanyaan Dira dan mengatakan tidak akan terjadi apa-apa dengan ibunya.
            “Ya sudah, kamu jagain ibu ya. Mas mau berangkat kerja dulu”.
            “Iya mas”.
            Dika berangkat kerja dengan tenang karena menurutnya tidak akan terjadi apa-apa dengan ibunya. Ia tidak sabar untuk segera sampai ke toko coklat tempatnya bekerja karena disanalah Dika menemukan tambatan hati yang sangat dicintainya.
            “Selamat pagi Rani”, sapa Dika kepada pacarnya.
            “Hey… Bagaimana keadaan ibumu?”
            “Ya masih batuk-batuk gitu. Obatnya sih sudah diminum tapi sepertinya nggak ada perkembangan”.
            “Semoga cepat sembuh ya”.
            Dika tersenyum manis mendengar kata-kata pacarnya itu. Dia merasa sangat beruntung memiliki pacar yang sayang dan perhatian kepada dirinya dan keluarganya.
            Saat Dika bersiap untuk mengepel lantai sebelum banyak pelanggan datang ia mendengar dering handphone miliknya. Ia segera merogoh saku celananya dan ternyata itu telepon dari Dira. Tanpa pikir panjang Dika langsung mengangkatnya.
            “Assalamu’alaikum… Apa?... Nggak… Ini nggak mungkin”.
            Melihat wajah Dika yang bingung Rani menghampiri dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
            “Telepon dari siapa Dik?”, tanya Rani setelah Dika menutup teleponnya.
            “Aku harus pulang. Ibu meninggal”.
            Tanpa memperhatikan respon Rani, Dika langsung keluar dari toko dan mengambil sepeda motornya untuk segara pulang. Mendengar kabar buruk itu Rani langsung menelepon bosnya untuk minta ijin untuk tidak buka toko. Ternyata Rani dan Dika diijinkan untuk tutup sementara dalam rangka berduka atas meninggalnya ibunda Dika.
            Sementara sesampainya di rumah Dika malah bertingkah layaknya orang gila dengan berteriak-teriak.
            “Ini nggak adil. Kenapa aku tidak bisa melihatnya? Kenapa?”
            Semua orang yang berada di rumah Dika berusaha menenangkan Dika. Sekeras apapun usaha orang-orang untuk menenangkan Dika toh nyatanya Dika tetap seperti orang kesurupan dengan memarahi dirinya sendiri. Sampai akhirnya Rani datang dan berhasil menenangkannya.
            “Dika, kamu harus tenang”, kata Rani.
            “Tapi semuanya sudah mempermainkan aku”, kata Dika sambil terus meraung-raung di samping jenazah ibunya.
            Rani segera mengajak Dika berdiri dan sedikit menjauh dari keramaian agar Dika lebih tenang. Atas saran ibu-ibu, Rani mengajak Dika masuk ke kamar Dira tanpa menutup pintu. Pintu sengaja dibiarkan terbuka lebar agar tidak timbul fitnah.
            “Dika, ibu kamu itu masih di sini. Ibu kamu bisa melihat kamu yang seperti ini dan aku yakin ibu kamu tidak suka dengan perbuatan kamu ini”.
            “Kenapa aku bisa melihat kematian semua orang tetapi aku tidak bisa melihat kematian ibuku sendiri? Kenapa Ran?”
            “Kamu bisa melihat kematian?”, Rani tidak begitu mengerti dengan apa yang dibicarakan Dika.
            “Iya. Sudah tiga tahun ini aku menjadi indigo”.
            Rani kaget setengah mati mendengar pengakuan langsung dari mulut Dika. Tapi Rani segera sadar bahwa ia harus menghibur Dika.
            “Kita ambil saja hikmah di balik semua itu. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang mengetahui rahasia Allah. Jika kamu bisa melihat terlebih dahulu akan kematian ibumu pastilah kamu akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencegah maut itu datang. Dan itu artinya maka takdir Allah juga akan berubah. Hal ini mengingatkan kita bahwa kita hanya manusia biasa yang pada dasarnya tidak akan tahu apa-apa tentang masa depan bahkan kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada kita satu detik lagi”.
            Mendengar kata-kata bijak dari Rani, Dika mengangkat kepalanya yang tertunduk dan menatap Rani dalam-dalam. Rani merasa bahagia karena Dika sudah bisa menerima kenyataan.
            “Kamu harus kuat Dik. Masih ada Dira, Dinda dan juga aku yang membutuhkan kamu”.
            “Kamu benar”.
            “Sekarang kamu ganti baju dan keluar untuk menemui orang-orang yang datang untuk berbela sungkawa”, kata Rani sambil menepuk halus punggung Dika.
            “Iya”.
            Kini Dika sudah bisa menerima kenyataan akan kematian ibunya. Semenjak itu Dika juga sudah kembali normal dan tidak lagi menjadi seorang indigo. Dika semakin yakin akan kebesaran Allah yang memegang nyawa dan hidup manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar