Indigo
Nur Ernawati
Sore yang kelabu bagi Dika. Ia baru
saja dipecat dari pekerjaannya sebagai sales sepeda motor. Dia menuju rumahnya
dengan berjalan kaki sambil menendang-nendang kaleng minuman bekas. Semuanya
hilang. Semuanya lenyap. Pekerjaan, uang, dan sepeda motor fasilitas pegawainya
harus musnah. Ia tidak tega saat nanti harus mengatakan kepahitan ini kepada
ibunya beserta dua orang adik perempuannya. Dika yang kini menjadi tulang
punggung semenjak ayahnya menghilang begitu saja menjadi merasa bersalah,
sekarang ia tidak tahu harus menafkahi keluarganya dengan apa.
“Dika, sudah pulang nak”, tanya Bu
Eni, ibunya Dika yang sedang menyapu halaman.
“Iya, bu”. Dika tersenyum kecut.
“Itu Mas Dika. Mas, aku tadi ulangan
matematikanya dapat seratus lho, mas akan tepati janji mas untuk membelikan
teddy bear yang kemarin kita lihat kan?”. Salah satu adik Dika, yaitu Dira
menyambut kepulangan Dika dengan bahagia dan berharap Dika mau menepati
janjinya.
Belum sempat Dika menjawab tiba-tiba
Dira sudah memeluk Dika dengan sangat erat. Melihat kejadian itu Dika
mengurungkan niatnya untuk mengatakan bahwa ia telah dipecat, ia tidak mau
mengecewakan semuanya. Dika berjanji pada dirinya sendiri untuk mengatakan
semuanya ketika nanti ia telah mendapatkan pekerjaan pengganti yang layak.
“Iya. Mas kan kalau janji nggak
pernah mengingkari”. Dika membelai rambut Dira yang masih duduk di kelas dua
sekolah menengah pertama.
“Tapi motornya kemana mas?”. Dira
merasa heran karena Dika pulang hanya berjalan kaki.
“Iya, motor kamu kemana Dik?”. Ibu
ikut menimpali.
“Perusahaan lagi ada sedikit
masalah, jadi semua fasilitas pegawai yang dianggap tidak terlalu penting
ditarik. Tapi jangan khawatir, semuanya baik-baik saja kok”. Dika berusaha
meyakinkan.
“Oh iya Dik sekalian kalau kamu mau
pergi beli boneka itu sama beli beras ya, soalnya berasnya mau habis”.
“Iya”. Dika menjawab singkat pesan
ibunya itu.
Malam pun tiba. Dika duduk sendirian
di teras rumahnya. Dan tiba-tiba dia merasa ada yang aneh dengan penglihatnnya.
Dia seperti melihat ada orang berbondong-bondong sambil membawa keranda menuju
rumah Haji Maksum, tetangganya. Dika merasa ketakutan dan berlari ke dalam
rumah. Melihat kepanikan Dika, ibunya merasa heran.
“Ada apa Dik? Kok seperti orang
ketakutan?”
“Nggak. Nggak ada apa-apa kok bu”.
Dika tidak mau menceritakan kejadian
ini karena takut ia dianggap gila. Dika masuk ke kamarnya sambil terus
bertanya-tanya di dalam hati tentang apa yang dilihatnya. Dari balik jendela
kamarnya, Dika melihat kembali rumah Haji Maksum dan ternyata Dika semakin
ketakutan ketika melihat rumah itu sepi. Tak lama kemudian Dika mendengar ada
orang yang sedang membaca tahlil diiringi tangisan. Lagi-lagi Dika mendengar
bahwa suara itu berasal dari rumah Haji Maksum namun anehnya rumah itu tetap
terlihat sepi. Malam semakin larut dan Dika tertidur dengan sendirinya sambil
menyimpan pertanyaan besar dalam hatinya.
Tepat jam empat pagi, Dinda, adik
Dika yang masih sekolah dasar mengetuk kamar Dika dengan kepanikan.
“Mas Dika, bangun! Ada yang
meninggal dunia”.
Dika tergagap dari tidurnya dan
segera membuka pintu.
“Ada apa?”. Dika masih
mengucek-ngucek matanya.
“Mas Ilham meninggal dunia”.
“Innalillahi wainna ilaihi roji’un”.
“Dia mengalami
kecelakaan bus saat mau pulang ke sini. Ibu sama Mbak Dira sudah di sana sejak
tadi, sekarang mendingan mas juga ke sana”.
“Iya, mas segera
ke sana”.
“Cepet ya mas.
Sudah banyak orang di sana menunggu jenazah Mas Ilham”.
Dika terduduk
lemas di tempat tidurnya. Apa ini ada hubungannya dengan kejadian semalam?
Itulah kata hati Dika.
“Apa aku bisa
melihat kematian?”. Dika bertanya pada dirinya sendiri.
Setelah
merapikan diri Dika bergegas menuju rumah Haji Maksum untuk mengetahui apa yang
terjadi. Apalagi Ilham, anak Haji Maksum yang meninggal itu adalah teman
sekolahnya sejak TK sampai SMA. Hanya saja setelah lulus SMA Ilham melanjutkan
kuliah ke luar kota dan Dika sendiri memilih langsung bekerja dan tidak
melanjutkan kuliah.
Tujuh hari
setelah kematian Ilham, Dika mendapatkan mimpi. Di mimpinya itu ia sedang
berada di tempat yang tak berbatas, semuanya serba putih, ia sendiri berpakaian
putih. Dika mendengar suara yang sangat menggelegar tanpa sosok yang nyata.
Kamu adalah kamu. Kematian adalah kematian, bisa dilihat
namun tak bisa dihentikan.
Dika terbangun
dari mimpinya itu dengan keringat bercucuran. Dia mencoba menarik nafas
dalam-dalam untuk menenangkan diri. Setelah merasa sedikit lebih baik Dika
segera mengambil air wudhu dan menunaikan shalat malam. Dia merasa harus
mengadukan semua ini kepada Sang Pencipta. Dika bersujud dengan khusyu’nya
sambil berdo’a.
Pagi ini Dika
sudah berdandan rapi seperti biasanya ketika ia masih bekerja sebagai sales.
Rencananya ia mau mencari pekerjaan di saat semua keluarganya menganggap bahwa
Dika belum dipecat.
“Mas, pulang
cepet ya. Aku nggak sabar memiliki teddy bear itu”.
“Teddy bear?”
“Iya, Mas Dika
itu mau beliin aku teddy bear. Iya kan mas?”
“Kok cuma Mbak
Dira saja yang dibeliin teddy bear. Aku?”
“Iya, nanti
semuanya mas beliin. Dira sama Dinda nanti semuanya dapat teddy bear”. Dika
menenangkan kedua adiknya itu.
“Asyik…”. Dira
dan Dinda berteriak serentak.
Setelah sarapan
bersama ibu dan kedua adiknya, Dika langsung berangkat mencari pekerjaan. Ia
berjalan santai menuju halte. Ketika ia dan beberapa calon penumpang sedang
menunggu bus dengan tujuannya masing-masing, tiba-tiba Dika melihat kecelakaan
bus di tikungan tak jauh dari halte tempatnya berdiri. Sontak ia berteriak
histeris.
“Innalillahi,
itu ada kecelakaan”. Dika menunjuk ke arah tikungan.
Semua orang yang
berdiri di sekitar Dika menjadi kaget dan langsung melihat ke arah yang
ditunjuk Dika.
“Mas,
bercandanya nggak lucu”, bentak seorang bapak-bapak.
“Iya, mas pikir
ini lucu”, lanjut seorang ibu-ibu.
Orang-orang lain
di sekitar Dika juga ikut memarahi Dika. Dika hanya terdiam karena menyadari
bahwa bayangan kecelakaan itu telah menghilang. Dika merasa malu dengan
tindakannya sendiri dan meninggalkan halte itu. Belum jauh Dika meninggalkan
halte, dia mendengar ada suara keras seperti tabrakan. Dika menoleh ke belakang
dan ternyata di tikungan tadi telah terjadi kecelakaan dan posisi busnya sama
persis dengan yang dilihatnya tadi. Dika malah semakin ketakutan, ia berlari jauh
meninggalkan halte tersebut.
“Tidak. Ini tidak mungkin. Aku
indigo?”. Dika berbicara pada dirinya sendiri layaknya orang gila.
Dika benar-benar bingung dengan dirinya sendiri yang dapat melihat masa depan
terutama yang berhubungan dengan kematian seseorang maupun beberapa orang. Dua
kejadian aneh yang dialaminya tersebut membuatnya percaya bahwa Allah memang
memberinya kelebihan. Ia sendiri tidak mau menceritakan itu kepada siapapun
termasuk keluarganya.
Setelah kejadian meninggalnya Ilham
dan kecelakaan bus itu Dika juga mengalami kejadian-kejadian serupa. Bedanya
kini Dika sudah mulai terbiasa dan bersikap wajar seolah-olah tidak tahu
apa-apa. Hal ini dilakukannya dengan tujuan ia tidak mau mendahului takdir dan
kehendak Allah.
Tiga tahun sudah Dika menjadi
indigo. Dan kini saatnya kejadian yang tidak pernah diinginkannya terjadi.
“Mas, batuk ibu kok nggak
sembuh-sembuh ya?”, tanya Dira.
“Kamu tenang saja tidak akan terjadi
apa-apa sama ibu kok”.
Ibu Dika memang sedang sakit. Dan
menurut dokter penyakit yang dideritanya adalah ISPA. Dika tidak melihat bahwa
ibunya akan meninggal. Maka dengan santainya ia menjawab pertanyaan Dira dan
mengatakan tidak akan terjadi apa-apa dengan ibunya.
“Ya sudah, kamu jagain ibu ya. Mas
mau berangkat kerja dulu”.
“Iya mas”.
Dika berangkat kerja dengan tenang
karena menurutnya tidak akan terjadi apa-apa dengan ibunya. Ia tidak sabar
untuk segera sampai ke toko coklat tempatnya bekerja karena disanalah Dika
menemukan tambatan hati yang sangat dicintainya.
“Selamat pagi Rani”, sapa Dika
kepada pacarnya.
“Hey… Bagaimana keadaan ibumu?”
“Ya masih batuk-batuk gitu. Obatnya
sih sudah diminum tapi sepertinya nggak ada perkembangan”.
“Semoga cepat sembuh ya”.
Dika tersenyum manis mendengar
kata-kata pacarnya itu. Dia merasa sangat beruntung memiliki pacar yang sayang
dan perhatian kepada dirinya dan keluarganya.
Saat Dika bersiap untuk mengepel
lantai sebelum banyak pelanggan datang ia mendengar dering handphone miliknya. Ia segera merogoh saku celananya dan ternyata
itu telepon dari Dira. Tanpa pikir panjang Dika langsung mengangkatnya.
“Assalamu’alaikum… Apa?... Nggak…
Ini nggak mungkin”.
Melihat wajah Dika yang bingung Rani
menghampiri dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Telepon dari siapa Dik?”, tanya
Rani setelah Dika menutup teleponnya.
“Aku harus pulang. Ibu meninggal”.
Tanpa memperhatikan respon Rani,
Dika langsung keluar dari toko dan mengambil sepeda motornya untuk segara
pulang. Mendengar kabar buruk itu Rani langsung menelepon bosnya untuk minta
ijin untuk tidak buka toko. Ternyata Rani dan Dika diijinkan untuk tutup sementara
dalam rangka berduka atas meninggalnya ibunda Dika.
Sementara sesampainya di rumah Dika
malah bertingkah layaknya orang gila dengan berteriak-teriak.
“Ini nggak adil. Kenapa aku tidak
bisa melihatnya? Kenapa?”
Semua orang yang berada di rumah Dika
berusaha menenangkan Dika. Sekeras apapun usaha orang-orang untuk menenangkan
Dika toh nyatanya Dika tetap seperti orang kesurupan dengan memarahi dirinya
sendiri. Sampai akhirnya Rani datang dan berhasil menenangkannya.
“Dika, kamu harus tenang”, kata
Rani.
“Tapi semuanya sudah mempermainkan
aku”, kata Dika sambil terus meraung-raung di samping jenazah ibunya.
Rani segera mengajak Dika berdiri
dan sedikit menjauh dari keramaian agar Dika lebih tenang. Atas saran ibu-ibu,
Rani mengajak Dika masuk ke kamar Dira tanpa menutup pintu. Pintu sengaja
dibiarkan terbuka lebar agar tidak timbul fitnah.
“Dika, ibu kamu itu masih di sini.
Ibu kamu bisa melihat kamu yang seperti ini dan aku yakin ibu kamu tidak suka
dengan perbuatan kamu ini”.
“Kenapa aku bisa melihat kematian
semua orang tetapi aku tidak bisa melihat kematian ibuku sendiri? Kenapa Ran?”
“Kamu bisa melihat kematian?”, Rani
tidak begitu mengerti dengan apa yang dibicarakan Dika.
“Iya. Sudah tiga tahun ini aku
menjadi indigo”.
Rani kaget setengah mati mendengar
pengakuan langsung dari mulut Dika. Tapi Rani segera sadar bahwa ia harus
menghibur Dika.
“Kita ambil saja hikmah di balik
semua itu. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang mengetahui rahasia
Allah. Jika kamu bisa melihat terlebih dahulu akan kematian ibumu pastilah kamu
akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencegah maut itu datang. Dan itu
artinya maka takdir Allah juga akan berubah. Hal ini mengingatkan kita bahwa
kita hanya manusia biasa yang pada dasarnya tidak akan tahu apa-apa tentang
masa depan bahkan kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada kita
satu detik lagi”.
Mendengar kata-kata bijak dari Rani,
Dika mengangkat kepalanya yang tertunduk dan menatap Rani dalam-dalam. Rani
merasa bahagia karena Dika sudah bisa menerima kenyataan.
“Kamu harus kuat Dik. Masih ada
Dira, Dinda dan juga aku yang membutuhkan kamu”.
“Kamu benar”.
“Sekarang kamu ganti baju dan keluar
untuk menemui orang-orang yang datang untuk berbela sungkawa”, kata Rani sambil
menepuk halus punggung Dika.
“Iya”.
Kini Dika sudah bisa menerima
kenyataan akan kematian ibunya. Semenjak itu Dika juga sudah kembali normal dan
tidak lagi menjadi seorang indigo. Dika semakin yakin akan kebesaran Allah yang
memegang nyawa dan hidup manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar