Selasa, 10 Desember 2013

Cinta dari Surga


Cinta dari Surga
Nur Ernawati

            Menatap indahnya senyuman di wajahmu
            Membuatku terdiam dan terpaku…
            Mendengar handphone-nya berbunyi Intan bergegas membuka pesan di dalamnya. Ia bisa menebak bahwa sms itu pasti dari Zaki, pacarnya.
            Sayang, nanti malam aku ke rumahmu ya… Orang rumah pergi semua!
            Dugaan Intan ternyata tepat. Tanpa pikir panjang ia langsung membalas sms Zaki.
            Siap! Aku tunggu…
            Zaki yang sudah 2 tahun memacari Intan itu memang lebih senang ke rumah Intan untuk sekedar ngobrol maupun bercerita dibandingkan mengajak Intan untuk kencan. Itu dilakukan Zaki bukan karena dirinya tidak mampu mentraktir Intan tetapi sudah menjadi prinsipnya. Meskipun status mereka pacaran tetapi Zaki sama sekali belum pernah bertindak di luar batas norma. Zaki juga jarang memegang tangan Intan apalagi sampai berpelukan. Intan pun tidak keberatan dengan sikap Zaki itu, justru Intan bangga karena orang yang dicintainya telah menjaga kehormatannya sebagai wanita.
            “Ma, Zaki mau datang malam ini”. Intan memberi tahu hal ini kepada mamanya yang sedang masak untuk makan malam.
            “Kok tumben, biasanya malam Minggu baru main”.
            “Iya. Katanya semua orang di rumahnya pergi”.
            “Kemana?”
            “Nggak tahu”.
            Sambil ngobrol-ngobrol ringan Intan membantu mamanya memasak. Intan sebagai anak perempuan satu-satunya memang sering diajari oleh mamanya tentang kodrat sebagai perempuan. Intan diajari memasak, mencuci, mengepel, dan sebagainya. Dulu waktu belum terbiasa Intan protes kepada mamanya. Baginya ini tidak adil. Saat dirinya sedang memasak ternyata kakak dan adik laki-lakinya malah bermain playstation. Tetapi seiring berjalannya waktu Intan menyadari bahwa dirinya adalah anak perempuan yang tidak semuanya bisa disamakan dengan anak laki-laki.
            Sekitar pukul setengah delapan malam Zaki tiba di rumah Intan. Karena Zaki adalah tamu Intan maka Intanlah yang membukakan pintu untuknya.
            “Masuk Zak”, kata Intan sambil membukakan pintu untuk Zaki.
            “Papa mama ada kan?”
            “Ada”.
            Zaki dan Intan langsung menuju ruang tengah tempat kumpul keluarga.
            “Eh Zaki. Sini duduk”, kata papa Intan.
            “Ini pa, Zaki bawain sedikit kue pukis. Tadi mampir di jalan”. Zaki memang sudah terbiasa memanggil orang tua Intan dengan panggilan papa mama seperti halnya Intan.
            “Wah pasti enak”, puji mama.
            “Ya sudah ma, aku sama Zaki mau keluar dulu”.
            Zaki dan Intan menuju teras rumah untuk berbicara berdua.
            “Gimana kuliahnya?” Intan membuka percakapan.
            “Lancar. Kamu sendiri? Tadi PRnya sudah dikerjakan?”
            “Sudah”.
            “Sayang…”
            “Apa?”
            Zaki tidak segera menjawab pertanyaan Intan dan malah menatap Intan dalam-dalam.
            “Ada apa?” Intan mengulangi pertanyaannya.
            Suasana hening sejenak sampai Zaki mengeluarkan suara.
            “Aku mau pulang ke Surabaya”.
            “Biasanya kamu memang sering pulang kan? Keluarga kamu di Surabaya baik-baik saja? Ya sudah nggak apa-apa. Eh tapi tunggu dulu. Memangnya kuliah kamu libur?”
            “Iya semuanya baik-baik saja…”
            “Kapan mau berangkat dan kapan mau ke Jogja lagi? Jangan lama-lama ya…”
            “Aku pulang untuk selamanya. Aku bakal ninggalin Jogja”. Zaki setengah berteriak.
            Kata-kata Zaki bagaikan halilintar yang menyambar hati Intan. Intan hanya bisa pasrah dengan semua ini.
            “Bagaimana?” Zaki kembali memulai percakapan setelah keheningan.
            “Apanya?”
            “Kamu nggak marah kan? Aku ke Surabaya karena dapat panggilan kerja. Mungkin ini memang sudah saatnya untuk aku kembali ke asalku. Aku nggak akan pernah lupa tentang Jogja. Apalagi di Jogja inilah aku menemukan bidadari”.
            Intan berusaha membendung air matanya. Ia tidak ingin membebani Zaki. Menurutnya ia sama sekali tidak mempunyai hak untuk mengatur kehidupan Zaki, termasuk masa depannya.
            “Iya, aku nggak apa-apa. Aku akan selalu mendukung langkah kesuksesan kamu”.
            “Terimakasih. Suatu hari nanti aku akan kembali dengan kesuksesan di genggamanku. Aku akan meminangmu”.
            “Kamu itu apa-apaan sih! Aku kan masih kelas 2 SMA”.
            Zaki tersenyum kecil mendengar kata-kata Intan.
            “Sayang…”
            “Iya”.
            “Coba kamu lihat jutaan bintang di langit itu. Kalau nanti aku jauh dari kamu dan kamu merindukan aku maka carilah bintang yang paling terang dan berbicaralah kepadanya”.
            “Kalau mendung?” Intan menutupi kesedihan hatinya dengan sedikit bercanda.
            “Carilah bintang itu di hati kamu”.
            Zaki sama sekali tidak tertarik untuk menanggapi gurauan Intan. Melihat hal itu batin Intan semakin tersiksa. Tapi Intan tetap mencoba menghibur diri dengan gurauan-gurauan lainnya.
            “Ah kamu ini ada-ada saja. Bintang itu ya di langit bukan di hati”.
            “Iya deh aku kalah. Kalau bicara sama anak IPA semua harus pakai yang nyata, nggak boleh pakai perasaan”.
            “Jelas…”
            Zaki tertawa kecil melihat ekspresi Intan.
            “Eh sudah malam nih. Pulang ah… Nanti kalau aku di sini terus bisa-bisa aku ditembak sama papa kamu”.
            “Enak aja! Walaupun papa itu polisi bukan berarti papa nggak pernah muda”.
            “Iya-iya. Biasa aja ngomongnya, nggak usah pakai muncrat”.
            “Ya maaf, terlalu bersemangat”.
            Setelah berpamitan dengan orang tua Intan, Zaki langsung pulang ke rumah kontrakannya.
            Setiap hari Intan tidak penah lupa untuk melihat kalender. Intan semakin merasa sedih ketika mengingat bahwa kepergian Zaki tak akan lama lagi.
            Hari yang begitu kelabu itu akhirnya datang juga. Zaki benar-benar meninggalkan Jogja. Ia telah meninggalkan intan terindah di Kota Pelajar itu. Meskipun Zaki tinggal di luar kota tetapi hubungan cintanya dengan Intan tidak akan pernah terputus.
            Tak terasa lima tahun sudah Zaki dan Intan terpisah. Tetapi cinta dalam hati mereka tidak pernah memudar. Sampai peristiwa itu harus memberi goresan hitam terhadap hubungan indah mereka.
            “Tan, ini ada surat untuk kamu”, kata kakak laki-laki Intan.
            “Dari?”
            “Sepertinya Zaki”.
            “Zaki?”
            “Kayaknya”.
            Intan langsung menerima surat itu dan tidak sabar untuk membukanya. Komunikasinya dengan Zaki yang telah terputus sebulan ini membuatnya resah. Intan berpikir bahwa surat ini akan menjawab semua keresahan hatinya.
            Intan terindahku yang paling berharga,
            Aku sadar bahwa tidak sepantasnya aku menyebut namamu lagi. Selama ini aku menghilang karena aku tak lebih dari seorang pengecut. Aku belum berani jujur tentang kenistaanku. Aku minta maaf. Aku khilaf. Aku harap kamu mencari laki-laki lain yang lebih bisa menyayangi dan mencintaimu. Kini di sampingku sudah ada perempuan yang akan menjadi ibu dari anakku yang sebentar lagi akan menyapa dunia. Meski aku belum sepenuh hati mencintainya tetapi aku akan berusaha.
            Terimakasih atas nafas yang selama ini tulus engkau berikan kepadaku. Kamu pantas mendapatkan seorang yang sempurna. Lupakan aku dan selamat tinggal…
Seseorang yang pernah mencintaimu…
            Sungai air mata itu semakin deras di pipi Intan. Tak pernah sedikitpun terlintas di benak Intan bahwa lelaki yang dicintainya itu telah mengkhianatinya. Penantian Intan yang cukup panjang terbayar sudah dengan surat ini. Meski begitu, Intan tidak mau mendustai hatinya bahwa ia tidak pernah bisa membenci Zaki.
            Suatu malam saat bintang bersinar terang.
            “Zak, malam ini jutaan bintang menghiasi langit. Aku masih mencintai kamu. Aku minta maaf kalau aku tidak bisa memenuhi keinginanmu untuk melupakanmu. Aku akan terus mencintaimu sampai di surga nanti”. Intan berbisik lirih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar