Cinta dari Surga
Nur Ernawati
Menatap
indahnya senyuman di wajahmu
Membuatku
terdiam dan terpaku…
Mendengar handphone-nya berbunyi Intan bergegas membuka pesan di dalamnya. Ia
bisa menebak bahwa sms itu pasti dari Zaki, pacarnya.
Sayang,
nanti malam aku ke rumahmu ya… Orang rumah pergi semua!
Dugaan Intan ternyata tepat. Tanpa
pikir panjang ia langsung membalas sms Zaki.
Siap!
Aku tunggu…
Zaki yang sudah 2 tahun memacari
Intan itu memang lebih senang ke rumah Intan untuk sekedar ngobrol maupun bercerita
dibandingkan mengajak Intan untuk kencan. Itu dilakukan Zaki bukan karena
dirinya tidak mampu mentraktir Intan tetapi sudah menjadi prinsipnya. Meskipun
status mereka pacaran tetapi Zaki sama sekali belum pernah bertindak di luar
batas norma. Zaki juga jarang memegang tangan Intan apalagi sampai berpelukan.
Intan pun tidak keberatan dengan sikap Zaki itu, justru Intan bangga karena
orang yang dicintainya telah menjaga kehormatannya sebagai wanita.
“Ma, Zaki mau datang malam ini”.
Intan memberi tahu hal ini kepada mamanya yang sedang masak untuk makan malam.
“Kok tumben, biasanya malam Minggu
baru main”.
“Iya. Katanya semua orang di
rumahnya pergi”.
“Kemana?”
“Nggak tahu”.
Sambil ngobrol-ngobrol ringan Intan
membantu mamanya memasak. Intan sebagai anak perempuan satu-satunya memang
sering diajari oleh mamanya tentang kodrat sebagai perempuan. Intan diajari
memasak, mencuci, mengepel, dan sebagainya. Dulu waktu belum terbiasa Intan
protes kepada mamanya. Baginya ini tidak adil. Saat dirinya sedang memasak
ternyata kakak dan adik laki-lakinya malah bermain playstation. Tetapi seiring berjalannya waktu Intan menyadari bahwa
dirinya adalah anak perempuan yang tidak semuanya bisa disamakan dengan anak
laki-laki.
Sekitar pukul setengah delapan malam
Zaki tiba di rumah Intan. Karena Zaki adalah tamu Intan maka Intanlah yang
membukakan pintu untuknya.
“Masuk Zak”, kata Intan sambil
membukakan pintu untuk Zaki.
“Papa mama ada kan?”
“Ada”.
Zaki dan Intan langsung menuju ruang
tengah tempat kumpul keluarga.
“Eh Zaki. Sini duduk”, kata papa
Intan.
“Ini pa, Zaki bawain sedikit kue
pukis. Tadi mampir di jalan”. Zaki memang sudah terbiasa memanggil orang tua
Intan dengan panggilan papa mama seperti halnya Intan.
“Wah pasti enak”, puji mama.
“Ya sudah ma, aku sama Zaki mau
keluar dulu”.
Zaki dan Intan menuju teras rumah
untuk berbicara berdua.
“Gimana kuliahnya?” Intan membuka
percakapan.
“Lancar. Kamu sendiri? Tadi PRnya
sudah dikerjakan?”
“Sudah”.
“Sayang…”
“Apa?”
Zaki tidak segera menjawab pertanyaan
Intan dan malah menatap Intan dalam-dalam.
“Ada apa?” Intan mengulangi
pertanyaannya.
Suasana hening sejenak sampai Zaki
mengeluarkan suara.
“Aku mau pulang ke Surabaya”.
“Biasanya kamu memang sering pulang
kan? Keluarga kamu di Surabaya baik-baik saja? Ya sudah nggak apa-apa. Eh tapi
tunggu dulu. Memangnya kuliah kamu libur?”
“Iya semuanya baik-baik saja…”
“Kapan mau berangkat dan kapan mau
ke Jogja lagi? Jangan lama-lama ya…”
“Aku pulang untuk selamanya. Aku
bakal ninggalin Jogja”. Zaki setengah berteriak.
Kata-kata Zaki bagaikan halilintar
yang menyambar hati Intan. Intan hanya bisa pasrah dengan semua ini.
“Bagaimana?” Zaki kembali memulai
percakapan setelah keheningan.
“Apanya?”
“Kamu nggak marah kan? Aku ke
Surabaya karena dapat panggilan kerja. Mungkin ini memang sudah saatnya untuk
aku kembali ke asalku. Aku nggak akan pernah lupa tentang Jogja. Apalagi di
Jogja inilah aku menemukan bidadari”.
Intan berusaha membendung air
matanya. Ia tidak ingin membebani Zaki. Menurutnya ia sama sekali tidak
mempunyai hak untuk mengatur kehidupan Zaki, termasuk masa depannya.
“Iya, aku nggak apa-apa. Aku akan
selalu mendukung langkah kesuksesan kamu”.
“Terimakasih. Suatu hari nanti aku
akan kembali dengan kesuksesan di genggamanku. Aku akan meminangmu”.
“Kamu itu apa-apaan sih! Aku kan
masih kelas 2 SMA”.
Zaki tersenyum kecil mendengar
kata-kata Intan.
“Sayang…”
“Iya”.
“Coba kamu lihat jutaan bintang di
langit itu. Kalau nanti aku jauh dari kamu dan kamu merindukan aku maka carilah
bintang yang paling terang dan berbicaralah kepadanya”.
“Kalau mendung?” Intan menutupi
kesedihan hatinya dengan sedikit bercanda.
“Carilah bintang itu di hati kamu”.
Zaki sama sekali tidak tertarik
untuk menanggapi gurauan Intan. Melihat hal itu batin Intan semakin tersiksa.
Tapi Intan tetap mencoba menghibur diri dengan gurauan-gurauan lainnya.
“Ah kamu ini ada-ada saja. Bintang
itu ya di langit bukan di hati”.
“Iya deh aku kalah. Kalau bicara
sama anak IPA semua harus pakai yang nyata, nggak boleh pakai perasaan”.
“Jelas…”
Zaki tertawa kecil melihat ekspresi
Intan.
“Eh sudah malam nih. Pulang ah…
Nanti kalau aku di sini terus bisa-bisa aku ditembak sama papa kamu”.
“Enak aja! Walaupun papa itu polisi
bukan berarti papa nggak pernah muda”.
“Iya-iya. Biasa aja ngomongnya,
nggak usah pakai muncrat”.
“Ya maaf, terlalu bersemangat”.
Setelah berpamitan dengan orang tua
Intan, Zaki langsung pulang ke rumah kontrakannya.
Setiap hari Intan tidak penah lupa
untuk melihat kalender. Intan semakin merasa sedih ketika mengingat bahwa
kepergian Zaki tak akan lama lagi.
Hari yang begitu kelabu itu akhirnya
datang juga. Zaki benar-benar meninggalkan Jogja. Ia telah meninggalkan intan
terindah di Kota Pelajar itu. Meskipun Zaki tinggal di luar kota tetapi
hubungan cintanya dengan Intan tidak akan pernah terputus.
Tak terasa lima tahun sudah Zaki dan
Intan terpisah. Tetapi cinta dalam hati mereka tidak pernah memudar. Sampai
peristiwa itu harus memberi goresan hitam terhadap hubungan indah mereka.
“Tan, ini ada surat untuk kamu”,
kata kakak laki-laki Intan.
“Dari?”
“Sepertinya Zaki”.
“Zaki?”
“Kayaknya”.
Intan langsung menerima surat itu
dan tidak sabar untuk membukanya. Komunikasinya dengan Zaki yang telah terputus
sebulan ini membuatnya resah. Intan berpikir bahwa surat ini akan menjawab
semua keresahan hatinya.
Intan
terindahku yang paling berharga,
Aku
sadar bahwa tidak sepantasnya aku menyebut namamu lagi. Selama ini aku
menghilang karena aku tak lebih dari seorang pengecut. Aku belum berani jujur tentang
kenistaanku. Aku minta maaf. Aku khilaf. Aku harap kamu mencari laki-laki lain
yang lebih bisa menyayangi dan mencintaimu. Kini di sampingku sudah ada
perempuan yang akan menjadi ibu dari anakku yang sebentar lagi akan menyapa
dunia. Meski aku belum sepenuh hati mencintainya tetapi aku akan berusaha.
Terimakasih
atas nafas yang selama ini tulus engkau berikan kepadaku. Kamu pantas
mendapatkan seorang yang sempurna. Lupakan aku dan selamat tinggal…
Seseorang yang pernah mencintaimu…
Sungai air mata itu semakin deras di
pipi Intan. Tak pernah sedikitpun terlintas di benak Intan bahwa lelaki yang
dicintainya itu telah mengkhianatinya. Penantian Intan yang cukup panjang
terbayar sudah dengan surat ini. Meski begitu, Intan tidak mau mendustai
hatinya bahwa ia tidak pernah bisa membenci Zaki.
Suatu malam saat bintang bersinar
terang.
“Zak, malam ini jutaan bintang
menghiasi langit. Aku masih mencintai kamu. Aku minta maaf kalau aku tidak bisa
memenuhi keinginanmu untuk melupakanmu. Aku akan terus mencintaimu sampai di
surga nanti”. Intan berbisik lirih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar